Edisi 06-08-2017
Ketika Sampah Dimaknai Secara Positif


Tersesat di jalan yang benar. Begitulah Edy Fajar Prasetyo mendeskripsikan hidupnya kini. Dia tak pernah menyangka bakal sukses mendirikan Eco Bussines Indonesia, sebuah usaha kreatif berbasis lingkungan dengan memberdayakan masyarakat.

Jiwa entrepreneur memang sudah melekat dalam diri Edy. Sebuah kompetisi yang berhasil dimenangi lelaki 24 tahun ini, beberapa tahun lalu, telah membuka pandangannya bahwa usaha ramah lingkungan itu menyenangkan. Ketika menjadi pengusaha sekaligus bisa memberikan dampak bagi alam dan masyarakat sekitar, di situlah Edy merasakan perbedaan.

Alumnus SMAN 1 Jakarta ini kian terpacu untuk mengubah sampah menjadi barang yang memiliki daya jual. Dia pun termotivasi untuk terus belajar dan mengembangkan usahanya yang berada di bawah bendera Eco Business Indonesia. Lantas, apakah itu Eco Business Indonesia? Sejauh mana pula usaha tersebut mampu memberdayakan masyarakat? Temukan jawabannya melalui cerita Edy berikut ini.

Jadi, sebuah kompetisilah yang menyadarkan Anda untuk membuat usaha ramah lingkungan?

Iya. Pada 2012 Bank Indonesia mengadakan kompetisi BI Preneur. Kompetisi ini mengedepankan ide bagaimana membuat perubahan sosial berorientasi pada green entrepreneur. Ada tiga aspek, 3P, yakni People , bagaimana memberdayakan masyarakat.

Lalu Planet, bagaimana kita berusaha untuk terlibat dalam pelestarian alam, dan terakhir Profit, bagaimana keuntungan yang didapat selain untuk memutar aktivitas usaha, juga berorientasi pada pengembangan usaha serta upaya penyebarannya. Ide sederhana saya adalah ingin memanfaatkan sampah untuk menjadi media mengedukasi, mengintervensi masyarakat melalui program yang ada kaitannya dengan sampah.

Mengubah paradigma lain dari sampah, terutama sampah plastik. Fokus awal yaitu gerakan pilah sampah dibiasakan pada masyarakat. Memilah sampahnya dari rumah tangga untuk dimanfaatkan. Kalau bisa jadi uang, kenapa harus dibuang?

Sampai saat ini Anda begitu menikmati menjadi seorang green creative social preneur melalui Eco Business Indonesia. Bagaimana perkembangannya sekarang?

Kami masih berbasis di Tangerang Selatan. Namun, ingin terus mengembangkan program-program untuk cabang kami, bekerja sama dengan salah satu komunitas di berbagai daerah. Kami ingin membuat 11 chapter di 11 provinsi di Indonesia. Nama programnya, yaitu Abdi Indonesia atau Aksi Berdaya Indonesia. Program ini untuk kader pemuda di daerah yang punya visi sama.

Mereka menjadi eksekutor, sementara kami yang memberi konsepnya. Kami sudah ada di Aceh, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat, dan Bengkulu. Link para pemuda itu saya dapatkan dari gabungan komunitas yang terdapat di dalam Forum Indonesia Muda. Forum ini cukup mewadahi para pemuda yang punya kegiatan regional.

Jadi, suka bekerja sama dengan mereka. Dari saya seorang diri, sosialisasi ke masyarakat hingga satu per satu teman kampus saya ikut bergabung. Sampai hari ini saya punya tim solid yang banyak membantu saya. Usaha seperti ini memang butuh teman satu visi dan mau berjuang bersama.

Anda punya banyak program dengan nama lucu dan unik. Apa tujuan Anda?

Iya. Saya memiliki berbagai program dengan nama-nama yang unik. Tujuan kami agar target penerima manfaat yang segmennya kelas menengah bisa lebih menerima. Biasanya harus dengan bahasa persuasif, minimal mereka mau peduli atau lihat dulu di awal. Penasaran dulu dengan nama-nama yang unik, lucu, bahkan aneh.

Itu sebenarnya mengubah sudut pandang juga. Orang yang melihat satu hal, melihat dari satu sudut. Misalnya sampah. Orientasi pertama yang muncul pasti semua negatif, kotor, dan bau. Padahal, ada aspek lain yang bisa kita lihat dari sudut pandang positif. Misalnya, kami ada program yang namanya Selingkuh Sedekah Lingkungan Hijau.

Kata “selingkuh” itu tidak enak atau negatif, tetapi ada sesuatu di balik kata tersebut. Setiap program punya segmentasi tersendiri. Kalau untuk ibu-ibu, misalnya Petaka, singkatan dari Pemberdayaan Tenaga Kreatif. Jadi, kami memberikan kegiatan sosial kepada masyarakat. Mereka kami libatkan di program ini agar bisa menghasilkan produk.

Eco Business Indonesia membantu mereka mendapat pemasukan melalui kerja kreatif. Kalau untuk anak muda, mereka jadi relawan, ikut program kampanye, seperti GPS atau Gerakan Pungut Sampah. Relawan bisa masuk kapan saja. Kami kadang bekerja sama dengan komunitas. Kami bisa lebih dikenal karena komunitas tersebut.

Setiap komunitas pasti bakal menyebarluaskan kegiatannya sehingga nama kami pun terangkat. Ada juga Polemik (Produk Olahan Ebi Menarik). Ini merupakan kumpulan karya kerajinan limbah plastik yang kami produksi melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat. Adapun produk yang dihasilkan berupa lukisan ramah lingkungan, tas, dompet, aksesori, dan aneka suvenir.

Memang sudah banyak organisasi atau perusahaan nirlaba, bahkan instansi pemerintah, yang menjadi mitra kerja sama?

Sudah banyak yang mendukung Eco Business Indonesia. Kami mengusung prinsip kolaborasi yang jauh lebih berarti daripada kompetisi. Jadi, ketika ada tim lain, bukan dijadikan kompetitor, tapi kita bisa ambil ilmu dari mereka.

Terutama dengan lembaga seperti Dompet Dhuafa. Kalau Bank Indonesia memang sedari awal ini tercipta, karena kami mengikuti kompetisi sehingga sampai sekarang mereka masih sering mendukung kami.

Apa tantangan yang Anda rasakan selama membangun Eco Business Indonesia?

Saya merasa tertantang untuk mengembangkan program, melakukan inovasi-inovasi dalam program tersebut atau membuat program baru. Seperti yang terakhir saya buat untuk anak-anak, yaitu CLBK, Cerdas Luar Biasa Kreatif, sebuah pendidikan nonformal tentang bagaimana melakukan pembelajaran dengan kurikulum hijau.

Kami mengedukasi tentang lingkungan dan Alhamdulillah langsung mendapat apresiasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, GTK PAUD, dan Dikmas 2017, juara 1 nasional kategori taman bacaan masyarakat (TBM). Selain program, internal kami juga sedang mengalami tantangan komitmen dan konsistensi.

Apalagi temanteman yang terlibat sudah punya dunia baru. Gerakan-gerakan idealisme waktu di kampus sudah berhadapan langsung dengan kehidupan realistis sehingga kaderisasi kini menjadi sebuah tantangan.

Bisa diceritakan bagaimana akhirnya Eco Business Indonesia juga menjangkau anak-anak dalam program CLBK sampai mendapat penghargaan?

Program mengajar ini memang belum terpikirkan karena kami fokus pada lingkungan. Namun, seiring berjalannya waktu, ternyata ada masalah sosial lain yang harus bisa ditangani. Kami akhirnya membuat program yang menyentuh sistem literasi. Kami bangun juga ruang kreatif dalam bentuk taman bacaan.

Namun, tetap kami mengajarkan mengenai lingkungan. Jadi, mereka yang ingin belajar harus membawa sampah plastik. Memang tidak diwajibkan berapa banyak, bahkan kalaupun memang tidak membawa sampah plastik pun, tidak masalah. Sampah plastik yang dibawa berasal dari rumah mereka, jadi mereka bukan mencari-cari di jalan.

Tujuan kami lebih diterapkan sisi edukasi serta pembiasaan mereka memilah sampah rumah tangga yang mereka konsumsi. Sampah yang dikumpulkan menjadi bahan baku untuk dijadikan sesuatu oleh ibu mereka. Keuntungannya untuk ibu-ibu tersebut, sisanya untuk keberlangsungan program ini.

Meski dirasa belum memberikan impact yang besar, setidaknya kami sudah melakukan inisiatif dan memberikan yang terbaik sesuai dengan kapasitas yang kami miliki. Berangkat dari spirit inilah kemudian TBM kami mendapat informasi dan rekomendasi dari Forum TBM Tangerang Selatan untuk ikut serta dalam GTK PAUD dan Dikmas Berprestasi 2017.

Satu hal kemudian yang pertama kali muncul di benak kami, ini sebuah sarana dan ajang yang baik untuk bisa saling belajar, bersinergi, serta berkolaborasi dengan para pegiat literasi di Indonesia. Jujur, saat kami mendaftarkan diri serta mengikuti segala prosedural dan proses seleksi yang ada dari mulai tahapan kabupaten, provinsi, hingga nasional, tidak ada motif ambisius sama sekali untuk menjadi pemenang.

Pada apresiasi kali ini semua nothing to lose . Buat kami, ketika bisa menjadi finalis tingkat nasional saja sudah jadi sebuah karunia yang besar. Bisa saling bertukar inspirasi dengan para pegiat literasi dari daerah, termasuk kearifan lokalnya, inovasinya, ciri khasnya, dan beragam keunikan lain. Dasar pemikiran tersebutlah yang melatarbelakangi kami untuk sebisa mungkin harus dapat menyambangi Bengkulu.

Momen apa yang paling berkesan selama mengembangkan Eco Business Indonesia?

Kalau bisa dikaitkan dengan prestasi atau pencapaian yang sudah dilakukan, memang momen itu yang paling berkesan. Sewaktu saya mendapat kesempatan untuk mempresentasikan Eco Business Indonesia di tingkat ASEAN, kami mendapat juara ketiga kategori sosial dan diundang ke sebuah kampus untuk menjadi pembicara.

Memiliki program yang bagus juga menjadi hal yang saya rasakan sangat berkesan. Terlebih jika program tersebut dapat berdampak kepada masyarakat. Tadinya masyarakat tidak ada kesadaran, kami bisa bantu mereka, memfasilitasi, dan yang terpenting adalah melakukan perubahan terhadap perilaku sehari-hari sekaligus menjaga lingkungan.

Apa pesan Anda untuk generasi muda?

Bangunlah mimpi dan tujuan hidup yang berfokus pada semangat kebermanfaatan serta nilai keberbagian yang luas.

ananda nararya