Edisi 07-08-2017
Publikasi Ilmiah RI Tiga Besar Dunia


JAKARTA – Kabar baik datang dari dunia pendidikan Indonesia. Sebab Indonesia mampu menempati posisi tiga besar dunia dalam jumlah publikasi ilmiah yang terindeks global.

Hal ini dibuktikan dengan jurnal open source yang masuk dalam Directory of open Access Journal (DOAJ) yang menempatkan Indonesia di posisi ketiga dunia setelah Brasil dan UK. Sementara indeks Scopus menempatkan Indonesia di posisi ketiga terbaik se-ASEAN. Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Mohammad Nasir mengatakan, dengan data-data itu, bisa dikatakan infrastruktur riset Indonesia sudah berada pada arah yang benar dan Indonesia sudah siap menjadi negara maju.

“Jumlah publikasi ilmiah merupakan pertanda bergeraknya roda penelitian sebagai motor kemajuan iptek dan inovasi dari sebuah negara,” tandas Nasir saat peluncuran SINTA versi 2.0 di Kantor Kemenristek Dikti, Jakarta, kemarin. Dari data yang diluncurkan Scopus, terlihat Indonesia berada di posisi ketiga pada 2017 dengan capaian publikasi terindeks Scopus per 3 Agustus mencapai 9.501. Indonesia berhasil menggeser Thailand yang publikasinya tahun ini menurun menjadi 8.321. Adapun posisi pertama ditempati Malaysia dengan 16.172 publikasi.

Sementara DOAJ atau situs ilmiah yang memuat daftar direktori jurnal akses terbuka memosisikan Indonesia dengan 772 jurnal di peringkat ketiga dunia di bawah Brasil (1.020) dan United Kingdom (907). Lebih lanjut mantan Rektor Universitas Diponegoro itu meyakini, tidak sampai akhir tahun jumlah publikasi ilmiah Indonesia di Scopus akan melampaui Singapura yang saat ini berada di posisi kedua dengan 11.130 jurnal. Sebab, menurut dia, pada akhir 2017 target publikasi ilmiah internasional Indonesia adalah 15.000 publikasi.

Menurut Nasir, salah satu penyebabjumlahpenelitianyang meningkat ini karena adanya kewajiban dosen dan profesor untuk membuat publikasi ilmiah jika mau tunjangannya cair. Kebijakan ini tertuang dalam Permenristek Dikti Nomor 20/2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor. Selain dosen, menurutnya, mahasiswa S-2 dan S-3 juga didorong untuk membuat publikasi melalui Permenristek Dikti Nomor 44/2015. “Peran elemen perguruan tinggi dan lembaga penelitian sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah internasional Indonesia,” paparnya.

Sementara itu kabar menggembirakandatangdari dosendan profesor bidang food process engineering IPB Purwiyatno Hariyadi yang diangkat menjadi wakil ketua Codex Alimentarius Commisionatauforumstandarpangan dunianaunganFAOdanWHO. Ketua Badan Standardisasi Nasional(BSN) BambangPrasetya mengatakan, pakar teknologi pangan Indonesia itu dipilih oleh 103 negara anggota Codex. Dia berhasil mengalahkan kandidat dari Lebanon (102), Inggris (102), dan Papua Nugini (59). “BSN melakukan lobi ke negara anggota dan Kemenlu juga berperan dalam mengeluarkan nota diplomatik,” ungkapnya.

Purwiyatno Hariyadi mengatakan, misi yang diemban Codex adalah agar dunia lebih berperan dalam standar internasional pangan. Menurut dia, peran keberadaan sang profesor sebagai vice chair adalah memberikan informasi kepada Indonesia mengenai pangan sehingga bisa meningkatkan daya saing.

“Ini momen untuk kementerian dan lembaga untuk meningkatkan kontribusi dalam penyusunan standar internasional sehingga produk pangan Indonesia tidak hanya menjadi tuan rumah saja, tetapi bisa diterima di pasar internasional,” tandasnya.

Neneng zubaidah