Edisi 12-08-2017
Kerajaan Bisnis Kattan Sisters


SEMUA berawal dari hal kecil. Tak lama seusai berhenti bekerja dari perusahaan keuangan, Huda Kattan langsung meluncurkan blog kecantikan pada tahun 2010.

Kemudian dia memulai akun Instagram -nya pada tahun 2012, dan setahun kemudian bisnis kecantikannya mulai menjual bulu mata palsu. Dikutip Forbes, Huda tak akan bisa sukses jika tak “dijerumuskan” oleh kedua saudara kandungnya, Alya dan Mona. Sejak berusia 14 tahun, Huda sudah terpengaruh dengan Alya—saat itu berusia 20 tahun—yang memang sudah menjadi pencandu kecantikan.

“Saya sudah membentuk alisnya dan teman-temannya sejak usia itu,” tutur Alya. Saat kuliah di Michigan, Huda tetap rajin mengirimkan broadcast tentang semua produk kecantikan baru yang telah dicobanya ke teman dan keluarganya. Lalu muncullah ide sang adik, Mona, yang menyarankan agar Huda membuat blog kecantikan.

Dari sinilah, lahir www.hudabeauty.com. Saat itu, Mona sudah sukses mengelola salon Doll’s House di Dubai. Ketiga bersaudara tersebut pun akhirnya bekerja sama di perusahaan produk kecantikan Huda Beauty yang akhirnya mereka bangun. Di Huda Beauty, Alya berperan sebagai ahli media sosial, sedangkan Mona memimpin strategi.

Sementara Huda menjadi “wajah” dan kepala kreatif perusahaan. Dari sebuah hobi kecantikan, Huda Beauty tumbuh dengan pesat. Bisnisnya yang berbasis di Dubai sekarang tak tertandingi di dunia kosmetik, khususnya di Timur Tengah (Timteng). Keputusan Huda memindahkan bisnisnya ke kantor Jumeriah Lake Towers di Dubai memang bukan tanpa pertimbangan matang.

Kawasan Timteng merupakan pasar kecantikan terbesar keempat di dunia. Sebagai informasi, sekitar USD25 miliar (Rp333 triliun) dari industri kecantikan dihabiskan di Timteng pada tahun 2015, sebagian besar di pusat perbelanjaan seperti Dubai dan Abu Dhabi.

Menurut Euromonitor International, selama lima tahun terakhir, Arab Saudi telah menjadi pasar dengan pertumbuhan tercepat dalam hal penjualan produk kecantikan. Tak heran, selain bulu mata palsu, Huda Beauty juga menawarkan lipstik cair dan eye shadow . Semuanya dijual melalui toko daring milik Huda dan Sephora, yang memiliki 9,7 juta pengikut di Instagram .

Kemudian, Kattan semakin memperluas bisnis Huda Beauty dengan meluncurkan berbagai produk. Seperti lip gloss , riasan mata, aksesori kuku dan tato henna . Ini menjadi salah satu merek kosmetik terlaris di Sephora di Timteng dan Harrods di London.

Timnya saat ini memiliki 44 staf penuh waktu di Dubai, 27 orang di antaranya bekerja di kantor pusat dan 17 orang di gudang. Huda pun mengaku masih aktif dengan merancang setiap detail dari setiap produk yang dikeluarkan. “Jika saya tidak menawarkan sesuatu yang berbeda yang akan memberi nilai tambah bagi pelanggan saya, tidak mungkin saya menjualnya.

Itulah satu-satunya cara untuk menjamin yang terbaik bagi follower saya,” sebut Huda. Lalu apa yang membuat produk keluaran Huda Beuaty berbeda dengan kosmetik lainnya? Huda menjawabnya dengan cukup gamblang. “Saya selalu masuk ke medsos sejak awal.

Saya adalah salah satu orang pertama di Facebook saat hanya tersedia di Universitas Massachusett. Kami adalah bagian dari generasi saat orang menyebarkan informasi dan berbagi pendapat secara daring. Saya ingin wanita memiliki sumber yang bisa mereka percaya dan andalkan untuk apa pun yang perlu mereka ketahui tentang kosmetik,” urainya.

Meski sangat sukses, keluarga Kattan menolak mengungkapkan pendapatan penjualan atau kerugian bisnisnya. Dia hanya menegaskan penjualan terus berkembang antara 200% sampai 500% selama dua tahun terakhir.

“Kami adalah salah satu dari empat merek terlaris di Sephora,” sebut Huda, dikutip dari Arabianbussiness.com . Belakangan, suami Huda yang berdarah Portugis, Christopher Goncalo, dan ayah Kattan, Ibrahim, bergabung pada 2015 lalu. Ini dilakukan menyusul rencana Huda Beauty yang ingin hadir di 150 toko di seluruh negara, termasuk di Inggris, Pakistan, dan India.

susi Susanti