Edisi 13-08-2017
Memperluas Skala Bisnis Start Up di Indonesia


Dalam lima tahun ke depan kemajuan dunia termasuk Indonesia akan didorong oleh perkembangan ekonomi digital. Untuk mendukung hal tersebut, seluruh pemangku kepentingan bertanggung jawab dalam memperkuat keberadaan start up salah satunya melalui pelatihan dan pendidikan.

Ratusan anak muda pagi itu sangat antusias mengikuti sesi pelatihan yang diberikan Google di markas Launchpad Space di San Francisco, California, Amerika Serikat, pada 25 Juli 2017. Para pemuda yang datang dari negara berkembang di Asia Pasifik itu diberikan pelatihan selama dua minggu oleh para ahli yang didatangkan Google untuk memperkuat bisnis start up yang mereka bangun.

Dalam pelatihan yang disebut Google Launchpad Accelerator (LPA) ada sekitar 33 start up dari 7 negara yang terpilih mengikuti program yang sudah keempat kalinya tersebut. Dari Indonesia ada tiga start up yang berhasil mengikuti, yakni CICIL, NADIPOS, dan SIRCLO. CICIL merupakan perusahaan berbasis teknologi finansial yang memberikan akses pembiayaan kepada mahasiswa untuk menunjang aktivitasnya.

Sementara NADIPOS merupakan platform manajemen restoran yang memberikan kemudahan sistem operasional dan akuisisi pelanggan. Sementara SIRCLO merupakan perusahaan yang memberikan jasa pelayanan software untuk mempermudah pemilik e-commerce melakukan penjualan secara online melalui website.

Co-Founder & CFO CICIL Edward Widjonarko sangat senang strat up yang dibangunnya baru 8 bulan ini telah berhasil terpilih mengikuti program LPA4. Dia mengaku banyak mendapatkan ilmu dari para mentor yang memberikan pelatihan, tidak saja soal produk, juga dari sisi sumber daya manusia. Setelah pulang dari markas Google, sudah banyak rencana yang mereka mau terapkan, antara lain desain platform yang lebih menarik, mengimplementasi teknologi-teknologi menarik dari Google untuk meningkatkan performa.

“Yang jangan dilupakan, yaitu pengembangan sumber daya manusianya untuk menyamakan tujuan perusahaan dan setiap tujuan tim,” ujar Edward. Yang tidak kalah penting, menurut Edward, bagaimana start up diminta untuk menyelami kebutuhan para konsumennya, apakah produk yang telah dibuat sudah sesuai dengan kebutuhan pengguna.

“Kami ditantang untuk bisa menyelami apa kebutuhan dari konsumen CICIL yang merupakan mahasiswa,” katanya. CEO NADIPOS Tarun Agarwal mengatakan, sebelum mendapatkan pelatihan LPA4 ini, para start up ditanya mengenai kebutuhan yang sangat diperlukan mereka sehingga ketika sesi mentoring bisa lebih fokus untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Hasilnya, tim NADIPOS mendapatkan berbagai masukan untuk bisa mengembangkan produknya dan serta meningkatkan penjualan. “Bagaimana juga memanfaatkan teknologi yang dimiliki Google untuk bisa menciptakan aplikasi yang mudah digunakan pelanggan,” paparnya. Salah satu masukan yang sangat penting, menurut Tarun, NADIPOS harus lebih fokus menyasar segmen tertentu.

Selain itu, Nadipos juga belajar bagaimana mengembangkan produknya serta fitur unik untuk industri restoran. “Kami banyak bertanya untuk memperluas pasar atau melakukan ekspansi apa yang harus dilakukan. Ini sangat bermanfaat bagi NADIPOS untuk berkembang,” katanya.

Pendiri dan CEO SIRCLO Brian Marshal mengaku, baru pertama kali mengikuti program pelatihan, meski perusahaannya sudah berdiri sejak 2013 lalu. Hasilnya, dia mendapatkan banyak hal yang menarik yang terjadi di tempat dan negara lain yang telah dilakukan sehingga bisa saling berbagai pengalaman.

“Secara kultur, di Silicon Valley, mereka juga memikirkan mengenai aplikasi dan talent management, Ini sangat penting dan membuka mata kami. Meski pastinya budayanya berbeda, banyak yang bisa dipelajari,” jelasnya.

Brian mencontohkan, bagaimana dia akan membuat rencana kerja dalam keorganisasian yang saat ini sudah mempunyai 50 karyawan dalam empat tahun berdiri dan bagaimana kalau skalanya diperbesar menjadi 100 karyawan dalam setahun ke depan. Tentu, bagi Brian mengelola 20 karyawan dengan 100 karyawan harus dilakukan dengan cara berbeda, tapi tetap bisa menimbulkan semangat yang sama.

“Yang empat tahun sudah bekerja bagaimana perasaan mereka dengan SIRCLO, bagaimana mereka bisa turut bertumbuh, ini kan harus dipikirkan. Kami juga dapat banyak masukan bagaimana mendapatkan feedback yang positif, bikin karier dan people development-nya. Jadi, kami banyak belajar dan terapkan,” papar Brian.

Selain mendapat masukan soal mengelola sumber daya manusia, hal penting lain yang didapat adalah tampilan produk yang harus mengacu pada user experience (UX). Pasalnya, sentuhan manusia sangat penting terutama terkait masalah produk dan penjualannya. “Kalau secara UX produknya mudah digunakan pengguna, maka sales di lapangan juga mudah menjualnya,” jelasnya.

Head of Corporate Communications Google Indonesia Jason Tedjasukmana mengatakan, program Launchpad Accelerator merupakan salah satu komitmen Google mengembangkan bisnis start up di negara berkembang termasuk Indonesia. Dalam program ini Google telah memberikan mentoring kepada 23 start up Indonesia. “Kami telah bekerja dengan banyak pendiri start up muda.

Antusiasme dan tekad mereka untuk memecahkan beberapa masalah rumit di negara ini sangat menginspirasi,” kata Jason. Dia menjelaskan, kolaborasi merupakan pilar penting budaya Google. Sebagai perusahaan yang bermula di sebuah garasi di Silicon Valley, pihaknya memahami banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh berbagai start up pada tahap awal dan pertengahan.

Dari mulai bantuan terkait pemasaran atau praktik terbaik merekrut pegawai baru sampai ke saran bagaimana cara membuat aplikasi dan situs yang memanjakan pengguna. “Kami memiliki jaringan Google Developer Experts yang sigap dalam membantu start up. Google memiliki akses unik ke para pakar di seluruh dunia dan Google ingin berbagi sumber daya ini kepada orang lain sehingga mereka dapat menghemat waktu dan fokus pada apa yang sebenarnya perlu dilakukan untuk meningkatkan dan mencapai potensinya,” papar dia.

Selain itu, lanjut Jason, Google ingin membantu pemerintah mempercepat pertumbuhan ekonomi dengan melakukan pelatihan kepada 100.000 pengembang mobile hingga 2020. Hal ini diharapkan akan memberikan kontribusi pada sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk membangun ekonomi digital.

Penelitian dengan Temasek menunjukkan bahwa masa depan ekonomi online cerah bisa mencapai USD81 miliar pada 2025, dengan USD46 miliar berasal dari e-commerce . Menurut Jason, Google telah melatih 25.000 pengembang aplikasi dalam program Indonesia Android Kejar sejak 2016 di sepuluh kota.

Melatih dosen dan pengajar di 80 universitas, di mana kurikulum yang telah dikembangkan akan dimasukkan ke kurikulum tahun terakhir mahasiswa jurusan ilmu komputer. “Diperkirakan sekitar 10.000 mahasiswa akan mempelajari pelajaran tersebut hingga tahun depan,” kata Jason.

Sementara itu, pemerhati start up Yohan Totting mengungkapkan, diperlukan pelatihan dan pendidikan, seperti program Google Launchpad Accelerator agar start up lebih kuat dan bisa berkembang lagi. Menurut dia, tantangan yang dihadapi start up saat ini adalah dari sisi user experience dan bagaimana memperluas skala bisnisnya.

“Kebanyakan permasalahan start up tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dunia permasalahannya kepada user experience. Hal ini dikarenakan pendiri start up biasanya berlatar belakang teknikal sehingga produk yang dibuat belum menyentuh sisi desain yang harus mudah digunakan pengguna,” jelasnya.

Yohan mengungkapkan, produk yang mudah digunakan pengguna sangat penting bagi kesuksesan sebuah start up, begitu juga dengan tampilannya yang harus menarik. Dua hal ini yang membuat start up harus rajin melakukan riset pasar dan konsumen untuk mengetahui apa yang dibutuhkan. “Banyak start up yang tidak memiliki keahlian untuk melakukan riset pengguna. Makanya, mereka perlu diberikan pelatihan sehingga bisa membangun aplikasi yang sesuai kebutuhan pengguna,” katanya.

rakhmat baihaqi/ hermansah/ananda narraya