Edisi 13-08-2017
Menjaga Warisan Budaya melalui Tenun


Tenun, dengan berbagai varian motif dan metode pembuatan, menghadirkan realitas keberagaman budaya. Ada daerah tertentu yang membuat tenun dengan cara mengikat sehingga disebut tenun ikat.

Lembar-lembar benang diikat dengan bahan tertentu menggunakan teknik tertentu pula. Lalu benang-benang yang sudah diikat itu dicelup ke dalam zat pewarna untuk beberapa lama. Setelah dikeluarkan dari wadah pewarna dan ikat-ikatan dilepas, lembarlembar benang akan berwarna-warni. Proses selanjutnya adalah menenun dan tentu membutuhkan waktu yang lama.

Pilihan warna, motif, dan teknik pembuatan tenun daerah tidak lepas dari budaya dan adat istiadat. Kain tenun Jara Nggaja asal daerah Ende Lio, Flores, misalnya, selalu dikaitkan dengan kegiatan adat. Kain tenun berwarna dasar hitam ini adalah pakaian kebesaran bagi istri para tua adat (Mosa Laki) dan dipakai saat upacara adat. Saat ini gairah menghidupkan tenun daerah semakin tinggi.

Hal tersebut seiring dengan pusat perbelanjaan yang terus mendukung kehadiran usaha tenun ikat dari berbagai penjuru Nusantara. Pusat belanja Thamrin City misalnya, menjadi tempat yang menampung tenun dari berbagai daerah. Usaha tenun ikat selain melestarikan kebudayaan juga menghasilkan keuntungan bagi perajin.

General Manager Operasional Thamrin City Adi Adnyana mengatakan, keberadaan para perajin tenun yang memasarkan produknya di Thamrin City terus bertambah dari tahun ke tahun. Hal ini bisa dilihat dari penambahan toko-toko yang memasarkan produk tenun ikat. ”Terlihat dari berkembangnya luasan zona Pusat Tenun Nusantara Thamrin City.

Yang semula hanya ada di lantai 1, sekarang sudah merambah ke lantai 2 dan lantai 3,” kata Adi Adnyana. Pihak pengelola Thamrin City terus mendorong perajin tenun ikat dari daerah-daerah untuk memasarkan produknya di Thamrin City dengan memberikan kemudahan usaha.

”Kami mendukung dan memberikan kemudahan untuk bisa memasarkan dan mempromosikan produk-produk tenun khas daerah- daerah dari seluruh Nusantara,” ujarnya. Tetty Sinuhadji, pemilik toko Njonjah Poenja, yang sudah memulai usahanya sejak 5 tahun lalu mengaku mendapatkan banyak tenun dari daerah.

”Awalnya saya hanya punya satu toko kecil dengan modal semangat kerja keras keliling Indonesia mendatangi para perajin tenun daerah dan mendalami motif-motif tenun yang sangat kaya di pelosok-pelosok daerah hingga ke daerah NTT yang sangat terkenal kaya dengan motif tenunnya,” ungkapnya di tokonya di lantai dasar 1 sisi sebelah barat Thamrin City.

Kegemarannya menjelajah daerah- daerah membawa dia mengelilingi NTT mulai dari Timor, Sumba, hingga Flores. ”Luar biasa motif tenunnya sangat indah dan memiliki makna kebudayaan tenun yang sangat tinggi, dan kain-kain tenunnya bisa didapatkan di toko kami saat ini, kami lebih mengekspose motif,” paparnya.

Keuntungan berusaha tenun ikat juga dirasakan Abdul Somad yang khusus menjual tenun ikat produksi ATBM Troso, Jepara, sejak 7 tahun lalu. ”Boleh dibilang kami perintis berdagang kain tenun ikat di Thamrin City, ketika suasana masih sepi dan hanya ada beberapa pedagang yang buka toko di sini,” ujar Abdul Somad.

Jenis tenun seperti Baron, Endek, Kamen, selendang, dan syal sekarang mulai banyak dipasarkan di Thamrin Cita, termasuk di toko miliknya pun menjual jenis-jenis tenun seperti itu.” Di toko Maghrifoh miliknya di lantai dasar Thamrin City, Abdul Somad menjual aneka motif tenun ikat dari Bali, Toraja, Lombok dan Kalimantan, seperti motif rangrang, Sumba, Lamandau.

Hingga kini usaha tenun ikat Abdul Somad yang berada di lantai 1 terus berkembang dan sudah memiliki tiga toko di Thamrin City. ”Lumayan berkembang bagus usaha di sini, saat ini omzet bisa mencapai Rp100 juta per bulan,” tandasnya. Sementara Habib, pemilik toko Sanubari, lebih memilih menjual tenun ikat Jepara dan ulos Karo.

”Kami produksi tenun ikat di Jepara dengan motif, di antaranya parang atau liris, senandung, besurek kaltor, sekar, sarawak, tameng, sasasoe. Selain itu juga dari berbagai daerah lain, seperti Ulos Karo, motif Kalimantan dan Bengkulu,” ujar Habib.

Saat ini Habib sudah memiliki dua toko di Thamrin City, yang diawalinya mulai berusaha di lantai 1 hingga sekarang memiliki toko di lantai dasar 1. ”Begitu banyak jenis dan motif tenun yang ada di Nusantara saat ini yang sudah mulai banyak dipasarkan di Thamrin City. Saya sangat beruntung salah satu yang ikut mengembangkan budaya tenun di Indonesia,” pungkasnya.

donatus nador