Edisi 13-08-2017
Perlu Komitmen yang Kuat


UNTUK bisa membangun start up yang sukses sejatinya bukan hanya soal pendanaan, tetapi komitmen yang kuat dari para pendirinya.

Pemerhati start up Yohan Totting mengungkapkan, salah satu permasalahan anak-anak muda yang baru lulus kuliah dan mendirikan start up adalah motivasinya lebih mendapatkan pendanaan (funding ), bukan ingin menciptakan suatu produk yang bisa menyelesaikan masalah di lapangan. Jadi, saat mereka tidak dapat funding, akhirnya start up yang mereka dirikan harus ditutup hanya dalam waktu 2-3 bulan.

“Kalau motivasinya berbeda, saya ingin membuat produk dan saya ingin menyelesaikan masalah. Jadi meski tidak ada funding, mereka akan cari cara untuk bisa survive . Ini yang masih agak kurang dari teman-teman start up,” paparnya. Menurut Yohan, sebagai perusahaan start up harus memiliki keunggulan dari sisi produk yang unik. Untuk menciptakan produk yang unik, maka harus bisa menghasilkan ide yang orisinal.

“Ide itu bisa dilahirkan dari sering membaca dan mengeksplor dunia luar, bisa melalui internet. Masalahnya, komitmen membaca ini masih rendah,” ungkap Yohan. Seperti yang dikatakan Yohan, komitmen dalam memecahkan suatu masalah bisa membuat start up berkembang dan sukses.

Seperti yang dialami eFishery, sebuah start up yang memfokuskan diri pada solusi pemberian pakan ikan secara digital. Inovasi ini akan membuat petani ikan lebih efisien karena mampu memberi pakan dengan tepat waktu, jumlah pakan yang sesuai, serta data yang akurat.

Pendiri eFishery Gibran Huzaefah mengatakan, kesuksesan start up-nya selain dari sisi inovasi, juga mendapatkan masukan setelah mengikuti Google Launchpad Accelerator pada awal 2016. “eFishery mengalami pertumbuhan secara signifikan setelah mengikuti program ini.

Pertumbuhan yang dialami eFishery melalui program Google tersebut dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek produk dan bisnis,” ujar Gibran. Dari sisi produk, Gibran menjelaskan, eFishery menyesuaikan aplikasi android dan arsitektur teknologi yang mereka punya dengan apa yang didapat di program Google Launchpad Accelerator.

Dari segi bisnis, eFishery mengalami pertumbuhan revenue dan jumlah pengguna sejak mengikuti program tersebut. “Inovasi prototipe yang terus kami lakukan, kami dapatkan dari user research yang kami lakukan secara teliti. Proses user research ini juga kami dapatkan pada program dari Google tadi.

Tampilan dari aplikasi pun terus kami inovasi menjadi lebih user friendly, terutama bagi pengguna kami yang tidak terlalu familier dengan teknologi semacam ini,” ujarnya. Fokus pada penyelesaian masalah juga membuat Jojonomic sukses meraih pelanggan. Jojonomic adalah aplikasi untuk memudahkan reimbursement yang selama ini dinilai merepotkan.

Karyawan hanya perlu foto bukti transfer, kemudian memilih kategori reimbursement, lalu melaporkannya ke bagian keuangan secara real time melalui ponsel pintar. Pendiri Jojonomic Indrasto Budisantoso mengklaim, aplikasinya merupakan yang pertama di Indonesia dan di Asia Tenggara. Karena keunikannya pada kuarter ketiga 2016, Jojonomic sudah mendapat investor dari dalam dan luar negeri.

Jutaan dolar mengalir ke Jojonomic yang digunakan untuk terus mengembangkan produknya. “Kami ingin terus improve produk, maunya Jojonomic tidak hanya jago kandang,” jelasnya. Sementara itu, berpijak terhadap kepeduliannya terkait masalah di Kota Jakarta, Rama Raditya membuat aplikasi Qlue untuk laporan warga.

Tidak disangka, pengguna Qlue sangat banyak dan terbantu hingga akhirnya Rama pun lebih serius mengembangkan Qlue. “Ini kan start up yang punya visi jelas. Kami dulu hanya melihat orang dari skill saja, mereka pintar coding, tapi dari segi nilai ke perusahaannya tidak punya passion, tidak ada keinginan untuk membenahi Jakarta atau membantu Indonesia untuk lebih baik, impact- nya tidak enak,” ungkap Rama.

rakhmat baihaqi/ ananda nararya/hermansah