Edisi 13-08-2017
Rindu Senandung Ibu Pertiwi


Ditengah kondisi alam yang semakin rusak, harmoni sosial kian retak, fondasi budaya semakin rapuh, pameran Senandung Ibu Pertiwi digelar. Ibu Pertiwi adalah metafora feminitas, pusaran kebaikan, harapan dan kedamaian yang kini dirindukan.

Sebanyak 48 lukisan koleksi Istana Kepresidenan dipamerkan di Gedung A Galeri Nasional. Buah karya dari 41 perupa, baik yang menyandang status maestro pun bukan maestro, memperlihatkan keindahan alam serta kekayaan budaya yang tiada bandingnya. Di ruang pameran, karya-karya itu disusun sekian rupa sehingga membentuk jalinan cerita dan makna apik.

Saat pintu utama Gedung A dibuka, pengunjung akan menjumpai lukisan berukuran besar di ruang pertama. Lukisan monumental Perkawinan Adat Rusia yang menempati posisi sebelah kiri pintu masuk itu berukuran 295 x450 cm. Lukisan tersebut merupakan satu dari dua karya pelukis Konstantin Egorovick Makovsky yang terkenal abad ke-19.

Karya ini diberikan kepada Sukarno oleh rakyat Rusia melalui pemimpin mereka, Nikita Khruhschev. Melalui lukisan yang ditempatkan di ruang paling depan itu bisa dibayangkan begitu luas dan dalamnya pergaulan Soekarno di kancah dunia, khususnya Rusia. Koleksi lukisan ini juga menunjukkan betapa besarnya keinginan Soekarno memahami dan mencintai budaya bangsa lain.

Perasaan sama tidak kurang ia tunjukkan kepada bangsa sendiri. Di ruang bagian dalam, pengunjung akan menjumpai berbagai lukisan dari berbagai tempat di Tanah Air mulai dari keindahan alam, kehidupan sosial, budaya, dan religi. Cermati, misalnya, lukisan keindahan alam berjudul Pantai Flores karya maestro perupa Basoeki Abdullah.

Karya berukuran 120 x 185 cm dan bercat minyak di atas kanvas yang dibuat tahun 1942 itu memperlihatkan pantai dengan pasir putih, laut biru, serta ombak putih memecah di bibir pantai. Dari kejauhan, tampak gunung-gunung menjorok hingga ke laut dan membentuk tebing curam.

Lukisan keindahan alam juga ditampilkan perupa Raden Saleh Syarif Bustaman dalam karyanya yang berjudul Harimau Minum. Pada cat minyak di atas kanvas berukuran 165 x 122 cm itu tampak seekor harimau sedang minum air sungai yang mengalir di bawah hutan rimbun. Di ruang lain, semakin jauh dari pintu utama, tema-tema sosial berimpitan dengan pemandangan alam.

Karya perupa Itji Tarmizi bertajuk Lelang Ikan begitu kuat menggambarkan aktivitas keseharian warga. Tampak pada karya berkode tahun 1963 itu sekelompok masyarakat sedang bertransaksi jual-beli di tempat pelelangan ikan. Perahu dan laut yang membentang menjadi latar aktivitas mereka. Semakin jauh ke dalam, ruang pameran diisi karya-karya dengan sosok perempuan berkebaya.

Tampak perempuan mengenakan baju kebaya dan bawahan batik. Sebanyak 14 karya berjejer menampilkan sosok perempuan cantik dari berbagai daerah. Dua Gadis Bali dengan medium cat minyak pada kanvas berukuran 89 x 65 cm karya Fadjar Sidik pada 1965 menghadirkan sosok gadis Bali dalam balutan kebaya berpadu bawahan batik.

Ada juga lukisan Wanita Berkebaya Hijau karya Tjamdjidin yang menampilkan sosok perempuan mengenakan kebaya berwarna hijau dengan bawahan batik. Lalu di ruang paling dalam yang agak sepi dan sunyi dengan tata lampu redup, karya Basoeki Abdullah berjudul Nyai Roro Kidul tampak anggun dan perkasa.

Inilah ruang paling jauh dari parade karya yang merangkai tema keindahan alam, aktivitas sosial, identitas budaya, mitos, dan keimanan. Alur temainidibingkaidalamtemabesar, yaitu Se-nandung Ibu Pertiwi. Menariknya, pameran Senandung Ibu Pertiwi yang berlangsung dari 2-30 Agustus 2017 itu tidak hanya menghadirkan karya perupa asal Tanah Air, tapi juga seniman Barat yang terkenal dengan perupa haluan Mooi Indie, perupa yang mengagungkan keindahan gunung, sawah, kelapa, dan lautan.

Pameran yang diselenggarakan Kementerian Sekretariat Negara dalam HUT Kemerdekaan RI ke-72 ini dikurasi oleh Asikin Hasan, Amir Sidharta, Mike Susanto, dan Sally Texania. Kehadiran karya para pengagum India Molek seolah membangkitkan kerinduan akan alam gunung, sawah, dan kelapa, yang kini semakin hilang seiring industrialisasi dan modernisasi.

Menurut para kurator, koleksi lukisan-lukisan pemandangan itu tidak semata-mata mempelihatkan keindahan alam Indonesia. Lukisan-lukisan yang menggambarkan keindahan alam di berbagai wilayah itu menjadi representasi visual dari kekayaan alam serta budaya masyarakat daerah tersebut.

”Melalui lukisan-lukisan pemandangan inilah Presiden Soekarno membayangkan visinya tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gagasannya telah disampaikan dalam pidatonya di depan sidang anggota Badan Penyelidik Persiapan Kemerdekaan pada 1 Juni 1945.” Pameran ini, kata salah satu kurator Asikin, merupakan gambaran Ibu Pertiwi sebagai Tanah air.

Ibu Pertiwi adalah gambaran bijak bestari yang dihidupkan sebagai sosok, sebuah imajinasi metafora feminitas penuh kasih, penjaga dan pelindung bagi semua. Ia adalah pusaran kebaikan karena pelbagai harapan dan kedamaian ditambatkan dari dulu hingga sekarang.

”Sifat-sifat mulia padanya merupakan upaya yang tak hentihentinya memberi ruang keadilan bagi semua. Ada perbedaan dalam berbagai hal, dan oleh sebab itu kita mengangkat kesepakatan untuk saling memahami semua satu sama lain,” katanya.

donatus nador