Edisi 13-08-2017
Startup Butuh Dukungan Regulasi dan Modal


JAKARTA – Pemerintah berupaya memperkuat keberadaan startup di Indonesia dengan membangun ekosistem yang mendukung. Penguatan startup dipercaya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Jika Indonesia bisa memanfaatkan revolusi digital, pertumbuhan ekonomi pada lintasan 7% bisa menjadi kenyataan. Perkembangan startup sejak tiga tahun terakhir di Indonesia menunjukkan per tumbuhan yang cukup signifikan. Berdasarkan data lembaga riset Center for Human Genetic Research (CHGR) pada 2016 jumlah startup di Indonesia mencapai sekitar 2.000 unit atau yang terbesar di Asia Tenggara.

Startup di Indonesia diperkirakan bakal tumbuh hingga 6,5 kali lipat menjadi sekitar 13.000 pada 2020. Perkembangan startup di Indonesia tidak terlepas dari peningkatan ekosistem dan kompetisi startup. Meski demikian, perkembangan startup di Indonesia bukan tanpa masalah. Hinggak ini sejumlah startup masih terkendala pada masalah pendanaan.

Disisilain, perusahaan modal ventura yang sering menjadi sumber pendanaan pelaku usaha startup malah mengerem bantuan permodalan. “Tahun ini perusahaan ventura dari Singapura dan China sedang ngerem investasi. Tampaknya juga menular keperusahaan lokal. Untungnya, ada yang masih agresif. Misalkan saja Fenox VC dari Amerika Serikat. Mereka menyediakan USD1 juta dan pembinaan,” kata Ketua Umum Asosiasi Digital Enterpreneur Indonesia (ADEI) Bari Arijono.

Kondisi ini lantaran perusahaan venture capital beranggapan sudah banyak menyetorkan permodalan, tetapi belum mendapatkan return seperti yang diharapkan. Mereka masih menunggu perkembangan usaha startup yang dibantu permodalannya. Pada saat ini perusahaan venture capital lebih menyukai bisnis startup yang memiliki user aktif.

Di dalamnya juga terjadi transaksi dan ada pemesanan yang dilakukan. Dari sisi kategori, jasa keuangan dan teknologi paling banyak diminati, sedangkan e-commerce berada di urutan pertama. Sedangkan startup pertanian di urutan kedua. Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Rudiantara mengakui pihaknya sedang fokus mendorong pertumbuhan ekonomi di bidang startup di antaranya menggenjot investasi di sektor startup yang diharapkan akan dibelanjakan untuk pengembangan aplikasi, engineer, membuat coder.

Pemerhati startup Yohan Totting mengungkapkan, pada dasarnya startup seperti usaha kecil menengah (UKM) yang selama ini menggerakkan roda perekonomian Indonesia. Perbedaannya terletak pada penggunaan kemajuan teknologi informasi dalam menjalankan aktivitas bisnisnya. “Pemerintah memang sudah me nar getkan pada 2020 terbentuk ekosistem startup.

Namun, saya perkirakan startup baru bisa secara signifikan berkontribusi pada perekonomi an Indonesia lima tahun ke depan,” jelas dia. Agar startup bisa terus berkembang, Yohan meminta pemerintah untuk tidak menerbitkan regulasi yang menghalangi kemajuan startup. Kemudian perlu juga dikembangkan pendidikan yang bisa melahirkan sumber daya manusia untuk mendukung kemajuan startup.

“Pemerintah harus mendukung pertumbuhan startup, jangan malah menghalang-halangi,” kata dia. Co-Founder & CFO CICIL Edward Widjonarko mengakui sebagai startup yang masih balita pihaknya sangat menggantungkan harapan besar kepada pemerintah. Edward menginginkan dukungan dalam menciptakan arahan regulasi yang jelas bagi pelaku industri.

“Tentunya dukungan dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi perkembangan startup,” ungkap dia. Head of Corporate Communicationsat Google Indonesia Jason Tedja sukmana mengaku terkesan dengan talenta di Indonesia dan potensi bisnis startup. Google Indonesia telah bekerja dengan banyak pendiri startup muda dan dia melihat antusiasme dan tekad mereka untuk memecahkan beberapa masalah rumit di negara ini sangat meng inspirasi.

Jason melihat lima tantangan utama yang harus di hadapi pengembangan startup.

Pertama, mengenai talenta atau teknik perlu terus dikembangkan dengan program pendidikan yang fokus pada teknologi guna mencetak talenta-talenta berbakat untuk masa depan.

Kedua, mekanisme pembayaran perlu dipermudah agar konsumen bisa membeli sesuai dengan preferensi mereka.

Ketiga, kecepatan infra struktur internet masih rendah karena itu akses dan kecepatan broadband harus ditingkatkan.

Keempat, infrastruktur logistik perlu dukungan pemerintah seiring pertumbuhan pasar internet.

Kelima, kepercayaan konsumen, di mana perlu terus dibangun untuk mendidik pasar.

Dampaknya, konsumen percaya diri dan semakin nyaman dalam berbelanja. Bank Indonesia (BI) memiliki kepentingan dalam perkembangan startup, terutama yang bergerak di sektor financial technology (fintec). Semakin kreatif para pelaku fintec, akan berdampak pada efisiensi perekonomian na sional. Kepala Kantor Financial Technology Bank Indonesia Junanto Herdiawan mengatakan, ratarata pembayaran melalui fintec mencapai USD18 miliar.

Nilainya diperkirakan akan meningkat signifikan pada tahuntahun mendatang. “Apalagi setiap tahunnya semakin banyak pelaku startup bidang fintec,” jelas dia di sela-sela seminar yang diadakan Bank Indonesia. Dia menjelaskan, perkembangan startup di sektor fintec diyakini membawa dampak positif terhadap per ekonomian nasional. Satu di antaranya disebabkan semakin efisiennya bertransaksi.

Jika dilihat berdasarkan jenis usahanya, startup fintec dapat dikategorikan dalam empat kategori, yaitu payment, clearing, dan settlement; deposit lending dan capital raising; market provisioning; serta investment dan risk management. “Dua terbesar yakni di kategori payment, clearing, dansettlement serta deposit lending dan capital raising,” terang dia.

Sementara itu, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) memasukan startup teknologi dalam subsektor aplikasi dan game. Masyarakat kini sudah sering menggunakan berbagai jenis aplikasi digital. Tantangan di sektor ini ialah keterbatasan sumber daya manusia baik secara kuantitas maupun kualitas serta sedikitnya minat investor lantaran belum ada kebijakan proteksi yang memihak pada kepentingan developer domestik.

Setiap deputi Bekraf mengelola subsektor aplikasi dan pengembang permainan dengan menginisiasi munculnya inkubator pengembang aplikasi. Bekraf juga memasukkan unsur-unsur aplikasi dan permainan kedunia pendidikan. Promosi karya-karya penggiat startup juga terus digenjot dengan mengikutsertakan startup untuk mengikuti Startup World Cup. Pada 2016 ini Indonesia ikut, bahkan ber hasil masuk tiga besar.

Startup Ahli Jasa yang didirikan oleh Jay Jayawijayaningtiyas dan Made Dimas Astra Wijaya berhasil mengharumkan nama bangsa juga memperluas jaringan mereka untuk mendapatkan investor. “Bekraf memberi akses startup Indonesia meraih funding dari investor global dan menjembatani startup Indonesia tergabung dalam ekosistem startup global,” ucap Deputi Akses Permodalan Bekraf Fadjar Hutomo.

Bekraf juga bakal menyelenggarakan Startup World Cup Regional Indonesia di Balai Kartini pada 22 September 2017. Selain itu, Bekraf juga akan melaksanakan roadshow di delapan kota di Indonesia, ya itu Bandung, Medan, Yogyakarta, Surabaya, Balikpapan, Makassar, Bali, dan Batam.

hermansah/ rakhmat baihaqi