Edisi 13-08-2017
Terbiasa Detail Merawat Pasien


Ketika ditanya apakah dokter menjadi cita-citanya sejak kecil, Olivia Ong hanya tersenyum tipis. Bagi wanita cantik ini, jadi dokter merupakan cita-cita yang sangat tinggi mengingat keluarganya berasal dari kalangan sederhana.

Jenjang perkuliahannya ditempuh melalui jalur beasiswa. Bahkan pada tahun terakhir kuliah, dokter berusia 36 tahun ini menambah jatah beasiswa karena keluarga semakin kesulitan membiayai pendidikannya. Namun, satu hal yang paling disyukuri, yaitu cara orang tua mendidiknya.

Itu yang menjadi bekal dia untuk menjadi seorang dokter. ”Dulu saya dibiasakan melihat segala sesuatu secara detail. Kalau saya lihat pelangi, temanteman yang lain hanya melihat keindahannya. Namun, saya sangat penasaran kenapa bisa ada pelangi, datang dari mana ya?” tuturnya. Hal itu yang membuat Olivia kini sangat memperhatikan pasiennya.

Dia selalu penasaran dengan setiap permasalahan yang terjadi pada pasien. Olivia pun selalu ingin belajar demi meningkatkan keahliannya. Satu hal lagi yang selalu ditanamkan oleh orang tua kepadanya, yakni sifat peka dan rasa peduli terhadap sesama. Olivia bercerita, saat sekolah dulu di kelas masih menggunakan kapur dan terdapat baskom untuk cuci tangan.

Orang tuanya selalu mengatakan, baskom tersebut harus dicuci agar tidak berlumut sehingga menjadi bersih dan dapat digunakan oleh semua murid. ”Saya ikuti saran orang tua saya dan ternyata benar, memang harus dibersihkan. Semua orang tidak ada yang tahu kenapa baskom tempat cuci tangan itu selalu bersih. Padahal, saya yang selalu mencucinya. Semua nyaman menggunakan baskom tersebut,” cerita Olivia.

Hidup sederhana pada masa lalu, menjadikan Olivia dokter yang apa adanya. Membuka klinik dengan tempat yang lebih besar didapatnya secara bertahap setelah didukung oleh orangorang terdekat dan rajin menabung. Setelah yakin memilih profesi sebagai dokter kecantikan, Olivia mulai tersadar akan sebuah keahlian yang dimilikinya sejak lama.

Sejak belajar menjadi dokter umum, Olivia tahu bakat alaminya yakni menyuntik. ”Jadi, kalau memegang jarum suntik tangan saya tidak gemetar. Makanya, saya mengambil keahlian filler dan botox,” cerita Olivia. Saat itu, sebetulnya Olivia belum mampu membeli alat perawatan kecantikan yang lebih canggih. Namun, dia tidak kecewa. Olivia lebih memilih perawatan jarum suntik sesuai dengan keahliannya.

Dengan jarum suntik dia mampu mengubah wajah seseorang secara alami, layaknya seorang pelukis di atas kanvas yang membuat lukisan indah. Perawatan ini yang selalu ditawarkan Olivia kepada pasiennya yang ingin hasil lebih cepat tanpa operasi.

ananda nararya