Edisi 13-08-2017
Investor Kian Berminat Danai Start Up


KEMUNCULAN berbagai start up terus mendorong tren baru aliran dana para investor kepada perusahaan-perusahaan rintisan tersebut.

Ketua Asosiasi Modal Ventura Indonesia untuk Start Up Indonesia (Amvesindo) Jefri Rudyanto Sirait mengatakan, kondisi pertumbuhan start up terus meningkat. Namun tahun ini terkait dalam persoalan investment atau funding sedikit menurun. “Memang compare 2016 ini ada kecenderungan sedikit menurun sekitar 7-8%,” kata dia saat dihubungi KORAN SINDO.

Dia menjelaskan, secara umum kondisi itu terjadi di seluruh dunia. Hal ini dikarenakan kejenuhan pasar. Selain itu, investor tampaknya lebih berhati-hati dalam melihat start up yang akan diberikan bantuan permodalan. “Dilihat dari sektornya, fintech tetap akan menjadi pendorong.

Namun, start up sektor lain seperti media, infrastruktur, atau smart city juga menjadi incaran yang menarik bagi venture capital ,” katanya. Sementara itu, data Bloomberg US Startups Barometer yang melacak kondisi bisnis untuk perusahaan teknologi privat berbasis Amerika Serikat (AS) menunjukkan rekor tertinggi peningkatan 44% dari tahun sebelumnya.

Peningkatan itu didorong oleh jumlah bisnis yang mengumpulkan dana untuk pertama kali atau mencerminkan selera para investor mendukung perusahaan-perusahaan baru yang berisiko. “Jika Anda meninggalkan Google atau Facebook untuk membuat start up sendiri, ini mungkin waktu terbaik untuk melakukannya.

Ada banyak bantuan dan investasi pada tahap awal,” ungkap Wesley Chan, managing director di firma venture capital Felicis Ventures. Ada peningkatan pendanaan baru untuk start up pada tahun ini, setelah tiga tahun sebelumnya rendah. Jumlah pendanaan itu melibatkan perusahaan-perusahaan muda.

Beberapa bisnis yang mendapatkan pendanaan dalam beberapa pekan terakhir, antara lain start up asal Seattle, Tomorrow, yang menjual asuransi jiwa dan layanan perencanaan perumahan melalui aplikasi. Founder dan Chief Executive Officer (CEO) Tomorrow Dave Hanley menjelaskan, dia mengalami masa termudah mengumpulkan uang saat ini dibandingkan sebelumnya.

“Saya benar-benar tak pernah naik pesawat untuk mengumpulkan uang ini. Para investor datang kepada kami,” ujar Hanley. Di Asia Tenggara, Uber bertarung dalam perang tarif melawan Grab dan Go-Jek yang juga menguasai pasar di Indonesia.

“Para pemain lokal terus menunjukkan inisiatif dalam hal meluncurkan berbagai layanan, seperti pembayaran digital,” papar Ajay Sunder, wakil presiden transformasi digital di Frost & Sullivan, Singapura. “Grab lebih agresif dibandingkan Uber, membuat berbagai akuisisi baru dan meluncurkan layanan baru di kawasan. Uber harus bertarung di beberapa panggung,” ungkap Ajay.

SoftBank telah menjadi penyuntik dana utama dalam perang melawan Uber di Asia. Pertama, SoftBank mengucurkan USD5 miliar pada Didi bersama investasi awal di Grab dan Ola di India. Grab pun menjadi salah satu investasi terbesar SoftBank di kawasan, seiring pendirian Vision Fund.

syarifudin/ Hermansah