Edisi 13-08-2017
Jejak di Atas Prangko Raih Medali


Buku Pak Harto; The Footmarks on Postage Stamps menjadi perhatian peserta World Stamp Exhibition 2017 di Bandung barubaru ini. Buku karya Mahpudi yang dipamerkan Filatelist Soehardjo Soebardi itu berhasil menyabet medali silver bronze.

Sebanyak 60 negara terlibat dalam kompetisi yang berlangsung dari 3 sampai 7 Agustus 2017 itu. Dalam kompetisi World Stamp Exhibition 2017 Bandung ini, ada kategori kelas nonkompetisi, dan grup kelas kompetisi. Pada kelas nonkompetisi, ada kelas kehormatan (court of honour), kelas dinas pos (official class), serta kelas juri (jurry class).

Sementara kelas kompetisi terdiri atas kelas filateli tradisional, kelas sejarah pos, kelas benda pos bercetakan prangko, kelas filateli udara, kelas filateli angkasa luar, kelas filateli tematik, kelas kartu maksimum, kelas filateli fiskal, kelas filateli remaja, serta kelas literatur filateli. Dari 455 karya filateli yang ikut dalam kompetisi ini, ada 48 filatelis Indonesia yang mendapat penghargaan.

Mahpudi, salah satu filatelis, telah membukukan koleksinya menjadi sebuah buku dengan judul ”Pak Harto , The Footmarks on Postage Stamps” meraihmedali untuk kategoriLiteratur Filateli. Buku ini merupakan ”buah manis” dari passion penulis di bidang filateli. Di usia remaja, penulis memiliki kesenangan mengoleksi berbagai jenis prangko.

Lepas remaja penulis tak lagi sebatas mengoleksi, justru menjadi pemerhati yang dengan pisau tajam pertanyaan membedah eksistensi prangko. Pertanyaan untuk apa prangko dicetak berseri-seri pada era Soeharto? Apa prangko pada jaman Orde Baru hanya sebatas alat ongkos kirim surat via PT Pos? Rentetan pertanyaan itu melahirkan riset mendalam atas ratusan juta prangko dari total 445 kali penerbitan mulai dari seri Pahlawan Revolusi, 10 November 1966 hingga prangko seri Batu Mulia, 2 Mei 1998.

Dari hasil riset itu ditemukan jawaban bahwa prangko merupakan media komunikasi atara pemerintah dan rakyat Indonesia, pun komunikasi kepada dunia. Singkatnya melalui prangko pemerintah mengabarkan kepada rakyat apa yang pemerintah lakukan di bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, lingkungan dan juga catatan sejarah, serta kejadian langka.

Pengerjaan buku ini cukup unik. Penulis menyertakan prangko dan foto aktivitas presiden atau tokoh lain pada satu halaman penuh yang kemudian dinarasikan dengan event terkait. Event dan program apa yang dilakukan pemerintah dikabarkan lewat prangko. Pada halaman 219-220, misalnya, penulis menampilkan enam seri prangko yang menceritakan pesona fauna dan flora di Tanah Air.

Tiga kopur prangko bergambar bunga (melati, anggrek, padma raksasa), masing- masing bernilai Rp 300, sedangkan tiga kopur bergambar satwa (komodo, ikan siluk, elang Jawa) masing-masing bernilai Rp 700. Prangko yang dicetak dengan teknik offset berpadu rotogravure dengan jumlah 2 juta keping oleh Perum Peruri Jakarta ini diterbitkan pada 5 Juni 1993.

Seri prangko tersebut terkait Kepres No.4/1993 tentang satwa dan bunga nasional. Melalui Kepres itu, bunga Melati ditetapkan sebagai Puspa Nasional, bunga Anggrek sebagai Puspa Pesona, dan Padma Raksasa sebagai Puspa Langka. Sementara itu biawak Komodo ditetapkan sebagai Satwa Nasional, ikan Siluk Merah dijadikan Satwa Pesona, dan burung Elang Jawa dinyatakan sebagai Satwa Langka.

Penetapannya dilakukan pada peringatan Hari Lingkungan Hidup yang berlangsug pada 5 Juni 1993. Pada halaman 274-276, penulis menampilkan dua kopur prangko bergambar anak-anak Indonesia. Kedua kopur prangko yang masing-masing bernilai nominal Rp 150 (dicetak sebanyak 500.000 lembar) dan Rp 300 (2 juta lembar) oleh Perum Peruri itu diterbitkan pada 20 Desember 1996.

Penerbitan seri prangko tersebut bertepatan dengan pencanangan Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA) di Semarang, pada 20 Desember 1996. Yang menarik, GNOTA itu sendiri terinspirasi dari tradisi dan budaya bangsa, di mana Soeharto sendiri pernah mengalaminya.

Dalam otobiografinya, Pak Harto mengaku pernah diasuh oleh Bapak Wuryantoro, adik dari ayahnya. Presiden RI ke-2 itu mencatat, ”Yang mengiang di telinga saya sampai sekarang ialah ucapan ayah saya waktu beliau menyerahkan saya kepada paman dan bibi saya. ‘Saya menyerahkan Soeharto kepadamu. Silakan asuh. Saya kuatir kalau dia terus tinggal di Kemusuk.

Dia tidak akan menjadi orang. Saya bersyukur jika anak ini memperoleh pendidikan dan bimbingan yang baik ” Tradisi asuh inilah yang diangkat Soeharto dengan mengambil bentuk GNOTA. Gerakan ini kemudian dikukuhkan melalui menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Sosial, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Buku Pak Harto: The Footmarks on Stamps disiapkan dan disajikan secara matang oleh penulis, dilengkapi dengan daftar panjang sumber bacaan. Riset penulis terhadap prangko sangat komplit, menelusuri semua narasi yang ada di balik lembar-lembar tipis kecil bergerigi itu. Kepuasan menemukan semesta makna di balik prangko, membuat penulis menyerukan Eureka (saya sudah menemukan), meniru seruan Archimedes yang menemukan rumus mengukur volum dan berat jenis benda dalam air.

”Penulis mendapati kegembiraan luar biasa ketika mendapati makna yang ada pada prangko-prangko tersebut... Buku ini lebih merupakan catatan hasil pertemuan penulis dengan fenomena prangko Indonesia yang terbit pada masa hidup Pak Harto”. Dari fenomena itu secara perlahan tersingkap makna yang ada di baliknya, yakni bahwa prangko sesungguhnya medium komunikasi pemerintah kepada rakyat Indonesia untuk memastikan semua rakyat memahami pembangunan yang sedang berjalan.

donatus nador