Edisi 13-08-2017
Brand Merah Putih


Hari Kamis lalu (10/8) bertempat di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata menggelar Wonderful Indonesia Co-branding Forum (WICF). Event ini bertujuan mengajak brand-brand yang ada di Indonesia untuk berkolaborasi dengan brand Wonderful Indonesia (WI) dan Pesona Indonesia (PI) melalui co-branding partnership .

Saya kaget, rupanya sambutan brand-brand untuk hadir dan memanfaatkan kesempatan berkolaborasi dengan WI/PI begitu luar biasa. Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang awalnya ditargetkan cuma 10 brand membengkak menjadi 28.

Brand yang awalnya ditargetkan hadir cuma 100 brand membengkak menjadi 250. Bisa jadi sambutan luar biasa ini terjadi karena WICF digelar persis seminggu sebelum perayaan Hari Kemerdekaan sehingga spirit nasionalisme para brand owner sedang mencapai titik adrenalin.

Nationalism Value

Saya kebetulan memandu sesi pertama talkshow yang menghadirkan brand-brand yang dengan cara masing-masing ikut mempromosikan pariwisata Indonesia. Saya beruntung bertemu dengan para brand owner hebat yang memiliki karakter nasionalisme luar biasa. Setelah menelisik lebih dalam sepak terjang brandbrand yang mereka bangun, ini dua hal saya temukan.

Pertama, bagi brand-brand tersebut, mempromosikan pariwisata rupanya merupakan salah satu cara saja bagi mereka untuk berkontribusi dan bermanfaat bagi bangsanya.

Tak seperti kebanyakan entitas bisnis, brandbrand tersebut tak melulu mengejar business value berupa revenue dan profit . Lebih jauh lagi mereka memiliki idealisme untuk mendapatkan apa yang saya sebut sebagai nationalism value berupa kemanfaatan bagi masyarakat dan bangsanya. Dan brand-brand ini piawai dalam mengombinasikan business value dan nationalism value sehingga membentuk brand identity yang unik dan sulit ditiru pesaingnya.

Kedua, idealisme tersebut rupanya tak lepas dari karakter dan idealisme para pendirinya.

Brand Sido Muncul misalnya tak lepas dari kepekaan Irwan Hidayat terhadap persoalan masyarakat. Krisna Oleh-Oleh di Bali tak lepas dari sosok peduli dan rendah hati Ajik Krisna (Gusti Ngurah Anom). Atau brand identity Sariayu yang kuat tak lepas dari karakter kebangsaan seorang Martha Tilaar.

Saya menyebut brand-brand yang dengan cantik mengombinasikan business value dan nationalism value tersebut dengan istilah seksi Brand Merah Putih. Bagaimana mereka meramu business value dan nationalism value dengan pas sehingga terbentuk brand identity yang kuat? Berikut ini beberapa contoh kasusnya.

Krisna

Ajik Krisna, pemilik Krisna Oleh-Oleh, memulai bisnis dari nol di tengah kubangan kemiskinan. Pria yang hanya lulus SMP ini nekat pergi ke Denpasar meninggalkan kampung halamannya di Buleleng untuk merintis usaha. Berawal dari usaha konveksi, pelan tapi pasti usaha oleh-olehnya berkembang hingga akhirnya kini ia layak mendapatkan sebutan Raja Oleh-oleh Bali.

Setelah sukses besar berbisnis di Bali Selatan (Denpasar dan Kuta), Ajik sadar bahwa ekonomi Bali Utara tertinggal jauh. Untuk itu sejak tiga tahun terakhir dia fokus mengembangkan bisnis di tempat kelahirannya di Bali Utara.

Dengan kepedulian membangun ekonomi tanah kelahirannya, Ajik mengembangkan wisata air (water sport), wisata petualangan (adventure), wisata kuliner, dan oleh-oleh khas Bali untuk menggeliatkan perekonomian Bali Utara. ”Gara- gara Krisna, sekarang jalan-jalan di Bali Utara mulai macet,” ujarnya berseloroh seraya ingin menunjukkan bahwa perekonomian Bali Utara mulai hidup.

Malang Strudel

Kemunculan oleh-oleh Malang Strudel adalah bentuk lain ”nasionalisme daerah” dalam bentuk mempromosikan wisata dan menggalakkan city branding di Kota Malang. Adalah Dony Kris dan Teuku Wisnu yang punya ide cemerlang mengombinasikan business value (profit) dengan nationalism value (membangun pariwisata Kota Malang) sebagai faktor diferensiasi dari brand Malang Strudel.

Untuk mewujudkannya, mereka membentuk komunitas Amazing Malang dengan tujuan utama membakar semangat kaum muda Malang agar bangga menjadi arek Malang. Mereka bersama-sama menggali kekayaan potensi Kota Malang, khususnya di bidang pariwisata, dan kemudian mempromosikannya.

Setiap minggu mereka membuat video mengenai potensi pariwisata Malang yang dikemas secara artistik dan kekinian untuk disebar ke media sosial dan ranah online. Tujuannya untuk membangun branding Kota Malang sehingga dikenal, dicintai, dan dikunjungi wisatawan.

Sido Muncul

Iklan terbaru Kuku Bima yang kini sedang tayang di berbagai media mengambil tema Danau Rawa Pening. Seperti diungkapkan bos Sido Muncul, alasan utama membuat iklan ini bukan semata-mata alasan bisnis untuk memasarkan produknya, tetapi juga mengampanyekan perlunya menyelamatkan lingkungan.

”Saya berharap iklan Kuku Bima Energi ini bisa memberi inspirasi bagi pemangku kepentingan untuk bergerak bersama, membebaskan Rawa Pening dari eceng gondok,” kata Irwan. Tujuannya mulia, jika pembersihan Rawa Pening ini sukses, danaualam ini diharapkan bisa menjadi destinasi wisata baru yang menasional, bahkan mengglobal.

”Tourism itu kan berkelanjutan dan berpengaruh kesemuasen dikehidupan masyarakat,” tambahnya. Sosok seperti Ajik Krisna, Dony Kris/Teuku Wisnu, atau Irwan Hidayat adalah sosok brand builder yang istimewa. Dengan cantik mereka mengombinasikan tujuan bisnis dan nasionalisme.

Mereka ingin agar brand yang mereka ciptakan menjadi kendaraan untuk menebar kebaikan dan kemanfaatan bagi bangsanya. Hasilnya, brand mereka istimewa. Kenapa istimewa? Karena ada merah putih di dalamnya.

YUSWOHADY

Managing Partner, Inventure www.yuswohady.com

Berita Lainnya...