Edisi 18-08-2017
Mobil Balap Tua Dihadang Zaman


CARS adalah film waralaba Pixar yang paling lemah, tak hanya dari sisi kritikus film, tapi juga dari penghasilannya.

Kemunculan film ketiganya, meski sudah diantisipasi, tetap terbilang cukup “nekat”. Kenekatan yang ternyata menyimpan kejutan dalam ceritanya. Sudah 11 tahun sejak kemunculan Cars dengan mobil balap merah bernomor 95, Lighting McQueen, pada 2006 silam. Selama itu pula, muncul film-film Pixar terbaru, juga film animasi dari studio lainnya yang lebih gemebyar , tak hanya dari teknologi visual, tapi juga dari kualitas cerita. Sebagai waralaba senior, tim pembuat Cars tampaknya sadar penuh dengan kenyataan itu. Karena itulah, mereka dengan cerdik menciptakan cerita yang kurang lebih sama dengan situasi di atas.

Lighting McQueen (disuarakan Owen Wilson) tengah berada pada pengujung kejayaannya. Pada balapan terakhir di arena tempur melingkar, dia dipermalukan “anak milenial” bernama Jackson Storm (Armie Hammer). Storm tampil sangat mentereng, supercepat, dan penuh percaya diri. Saat satu per satu teman-teman seangkatannya dipensiunkan karena sudah ngosngosan di sirkuit, McQueen mulai menyadari, dirinya juga sudah tua. Namun, “kesombongannya” membuat McQueen tetap ingin bertahan jadi jawara. Dia menolak pensiun.

Dengan bantuan temantemannya, McQueen lalu masuk ke pusat pelatihan modern dengan berbagai fasilitas terkini, seperti simulator yang membuatnya tak harus berlatih di lapangan. Namun, McQueen tua tak terbiasa dengan cara berlatih seperti itu. Dia lalu mengajak pelatih mudanya, mobil perempuan bernama Cruz Ramirez (Cristela Alonzo), untuk mengasah keterampilan dengan cara yang dipahaminya.

Dalam kisah “bentrokan” antara generasi tua dan generasi muda, filmfilm hiburan biasanya mengambil jalan yang kurang lebih sama; tiap generasi mengenalkan atau memaksakan cara yang diyakininya kepada pihak lain, terjadi adaptasi yang penuh adegan kocak, konflik, lalu ujung-ujungnya masing-masing menyadari ada cara hidup di tiap zaman yang baik dan mesti ditiru. Cars 3 tidak menempuh jalan itu. Film ini malah lebih terasa mengglorifikasi McQueen dan segala caranya. Ini masih ditambah kemunculan beberapa scene yang karakter-karakter tuanya sedang bernostalgia, mengenang kejayaan yang telah kedaluwarsa.

Sekilas ini seperti memenangkan generasi tua di atas generasi muda. Namun, tunggulah hingga muncul kejutan yang tidak disangka-sangka. Kejutan yang semakin meneguhkan bahwa Pixar hingga saat ini masih menjadi studio paling jempolan dalam membuat cerita animasi yang tak hanya menghibur penonton minim usia, juga mengajak penonton dewasa untuk melakukan refleksi, langsung dari dalam studio bioskop. Kemunculan karakter baru Ramirez, si pelatih balap yang justru tak pernah merasakan sirkuit asli sama sekali, juga jadi poin penting dalam film ini.

Ramirez adalah perwakilan dari banyak hal. Mulai dari ketidakpercayaan diri, ambisi, hingga wajah kelam korporasi yang tak mampu melihat “berlian” di depan mata. Jika waralaba ini akan berlanjut—sesuatu yang belum bisa dipastikan oleh para pembuat Cars — maka hampir pasti Ramirez akan hadir di dalamnya.

Herita endriana