Edisi 18-08-2017
Wisata Filsafat di Sinop


PROVINSI Sinop mungkin tidak banyak yang mengetahuinya. Namun jika ingin mengenal sisi lain Turki yang sederhana dan penuh kekayaan filsafat, Sinop bisa menjadi jawabannya.

Setelah menempuh perjalanan 730 km dari Istanbul, Anda bisa turun dari bus di pantai utara Turki. Di sini Anda akan langsung berhadapan dengan hutan yang menghadap ke Laut Hitam. Udaranya begitu bersih dengan banyak pohon cemara. Selain alamnya yang indah, Sinop juga terkenal dengan penduduknya yang paling bahagia di negara ini. Jika berwisata ke sini, Anda bisa sekalian mencari jawabannya. Di setiap jalan yang dilalui, akan dijumpai perbukitan dan ladang indah yang dipenuhi sapi.

Pohon-pohon cemara ikut melambai. Di sisi lain, pantai-pantai sempit tergeletak sejajar dengan jalan. Meski ada beberapa jalan yang berlubang, ini bisa terobati dengan pemandangan alam yang menakjubkan. Menurut Institut Statistik Turki, Provinsi Sinop menempati peringkat yang buruk dibandingkan negaranegara lain di bidang kesehatan dan infrastruktur. Namun, Sinop telah mencapai puncak kebahagiaan dalam survei kepuasan hidup di institut tersebut selama beberapa tahun berturut-turut. Jadi, apa rahasianya?

Dikutip BBC , Sinop terkenal sebagai tempat kelahiran filsuf Yunani Kuno Diogenes, yang menjalani kehidupan bak tunawisma di jalanan sekitar 300 sebelum masehi (SM). Gaya hidupnya ini membuat dia dijuluki si Cynic, yang berasal dari bahasa Yunani Kuno untuk anjing. Sebutan ini diberikan oleh Yunani Kuno. Filsuf ini sering dikreditkan dengan pendirian sinisme, keyakinan jika konvensi sosial menghalangi kebebasan pribadi dan menghalangi jalan seseorang menuju kehidupan yang baik. Sementara hidup menurut alam adalah cara tercepat menuju kepuasan.

“Diogenes menemukan kebahagiaan dalam kehidupan yang sederhana sesuai dengan alam, sebuah kehidupan yang menantang orang-orang yang dia temui untuk menikmati yang mereka miliki dan tidak peduli dengan yang tidak mereka miliki,” ucap Profesor Stephen Voss di Departemen Filsafat di Universitas Bogaziçi. Diogenes memilih untuk hidup tanpa harta apa pun, kecuali pakaian di tubuhnya dan tempat dia tidur. Dia juga menggunakan humor untuk mengkritik praktisi agama, pemimpin politik, dan pihak lainnya yang menganut sesuatu yang dia yakini sebagai tatanan sosial yang tidak wajar.

Menurut legenda setempat, Alexander the Great pergi mengunjungi Diogenes dan menemukannya duduk di luar. Ketika ditanya apakah dia menginginkan sesuatu dari raja, filsuf tersebut berkata, “Anda bisa berdiri di samping dan berhenti menghalangi sinar matahari.” Jadi, rasanya wajar jika di sini selain turis bisa menikmati alam, juga bisa berwisata filsafat, mengolah batin dan rasa dalam kehidupan.

Pusat Kota yang Jauh dari Kebisingan

Seusai naik taksi sekitar 15 menit, Anda bisa sampai ke jantung Kota Sinop yang menempati bagian sempit semenanjung kecil yang membentang ke Laut Hitam. Di sini juga bisa ditemukan Patung Diogenes di pusat kota yang berdiri pada 2006. Tidak ada lampu lalu lintas, tetapi setiap kendaraan bisa melaju dengan harmonis. Kondisi ini jelas jauh berbeda dengan jalanan yang begitu kacau di Istanbul. Sementara itu, trotoar terlihat penuh sesak dengan orang-orang yang memilih berjalan daripada berkendara. Meski hari kerja, tidak tampak ketergesaan warganya untuk pergi ke mana pun. Bahkan, bisa dikatakan tidak ada seorang pun di birokrasi Sinop yang bekerja setelah Rabu.

Di pusat kota ini, pengunjung juga akan menemukan alun-alun kota kecil. Pandangan akan mendarat ketika melihat masjid dan pub berdiri berdampingan. Kedekatan keduanya tampaknya bertentangan dengan larangan pemerintah Turki tahun 2013 tentang penjualan alkohol dalam jarak 100 meter dari sebuah masjid. Namun, tidak ada yang membayar denda apa pun. Tampaknya kota ini memiliki pendekatan tersendiri terhadap masalah agama dan budaya, termasuk dalam masalah toleransi. Di sini para pelancong wanita tidak perlu khawatir ketika ingin berjalan-jalan mengenakan celana pendek.

“Anda bisa pergi keluar pukul 03.00 dini hari dan tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun,” tutur Aylin Tok, Manajer Teyzenin Yeri, restoran yang terkenal di sana. Dia juga menceritakan jika semua orang di sini berada dalam kedudukan yang sama. Tidak ada yang miskin dan tidak ada yang kaya. Semuanya tetap pergi ke kafe yang sama untuk makan simit (roti bagel ala Turki yang dilapisi biji wijen) dan minum teh atau kopi. Di bagian lain terlihat perumahan modern di sekitar kota tua. Namun, tidak ada gedung pencakar langit yang bisa merusak cakrawala dan penduduk lebih memilih cara hidup yang lebih sederhana.

Tetangga terlihat santai bersandar dari jendela mereka untuk mengobrol dan berbelanja di toko roti milik lokal. Tampaknya meskipun penduduk Sinop tidak terlihat ekstrem seperti Diogenes, elemen kunci dari sinisme, terutama penekanannya pada kehidupan yang baik, masih bergema di seluruh kota. Menjelang sore, silakan mencoba Castle Tower Cafe Bar yang berada di menara di sepanjang tembok kota kuno Sinop. Sambil memesan minuman, silakan menikmati pemandangan matahari terbenam di balik awan yang memandikan jalan setapak dan pepohonan dengan cahaya yang tenang. Kapal nelayan kecil membawa hasil tangkapan mereka ke pantai.

Pasangan berjalan beriringan di sepanjang kawasan pejalan kaki di tepi pantai. Di kejauhan, bukit-bukit serbahijau menandai tempat ketika semenanjung itu bertemu dengan daratan.

Susi susanti