Edisi 19-08-2017
Karena Merdeka Kita Begini


Ada cerita fiktif yang agak menggelikan, tetapi pernah beredar luas di kalangan aktivis prodemokrasi. Ceritanya, Pak Bejo dan keluarganya mendiami sebidang tanah yang diwarisi dari orang tuanya, yang itu pun diwarisi juga dari kakeknya.

Suatu saat dia diusir dan rumahnya digusur dengan alasan tidak punya sertifikat tanah. Kata petugas, ”Ini sudah merdeka, semua harus tertib, penghuni tanah dan rumah harus punya sertifikat”. Kemudian Pak Bejo berpindah ke tempat lain yang kosong dan jauh dari keramaian, tetapi diusir dan digusur lagi dengan alasan, ini negara merdeka, semua harus tertib.

Setelah berpindah ke tempat lain lagi di lingkungan keluarganya, Pak Bejo diusir dan rumahnya digusur lagi dengan alasan, ini negara merdeka, semua harus tertib. Karena tak tahan diusir dan rumahnya digusur terus maka pada saat rumahnya akan digusur yang keempat kalinya, Pak Bejo bertanya kepada petugas.

”Kapan merdeka selesai, Pak?” Petugas itu kaget dan balik bertanya, ”Mengapa kamu bertanya begitu?”. Pak Bejo yang mengalami diusir dan digusur terus itu menjawab dengan takut-takut. ”Karena Indonesia merdekalah saya jadi begini, diusir dan digusur. Dulu sebelum Indonesia merdeka, ayah dan kakek saya tak pernah digusur,” jawab Pak Bejo dengan gemetar.

Namun, cerita tentang Pak Bejo bukanlah gambaran umum tentang ironi kemerdekaan Indonesia kita. Masih lebih banyak kemajuan-kemajuan yang bisa kita catat. Sekarang kalau kita ke rumah sakit, kita bangga karena kita sudah mempunyai banyak dokter dari kalangan bangsa Indonesia yang hebat-hebat. Itu tak lain karena Indonesia merdeka.

Kalau kita ke kampus-kampus, kita bangga karena sekarang ini banyak anak bangsa yang sudah menjadi dosen dengan gelar doktor dan jabatan profesor serta ribuan mahasiswa dari berbagai kalangan dan penjuru Indonesia. Itu tak lain karena Indonesia merdeka. Kalau kita naik pesawat udara, kita bangga karena sekarang ini banyak anak bangsa sendiri yang sudah bisa menjadi pilot dan pramugari yang berbahasa Inggris dengan cas cis cus. Itu tak lain karena Indonesia merdeka.

Karena Indonesia merdekalah, kalau kita ke kantor mana pun dan mendatangi komunitas profesi apa pun, selalu melihat anak bangsa kita sendiri mengerjakan urusan-urusan publik dengan baik. Di kantor-kantor Kementerian Agama, anak-anak bangsa kita sudah antre sampai lebih dari 25 tahun untuk bisa menunaikan ibadah haji karena umat Islam sudah sangat banyak yang mampu untuk menunaikan rukun Islam yang kelima itu.

Jangan bayangkan itu bisa kita nikmati seandainya Indonesia ini tidak menjadi negara merdeka atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa. Karena Indonesia merdekalah, setiap kita sebagai anak bangsa bisa bercita-cita yang dari cita-citanya itu terbuka peluang luas untuk meraihnya melalui peluang pendidikan yang disediakan oleh negara.

Saya lahir dan besar di desa miskin dan terpencil di Pulau Madura yang sangat jauh dari kemewahan dan fasilitas, tetapi karena Indonesia merdeka maka ketika kecil saya bisa bercita-cita dan hampir semua cita-cita saya yang selalu berubah-ubah setiap tahapan pendidikan itu bisa tercapai. Itu semua karena Indonesia ini merdeka.

Saya bisa bersekolah hingga mencapai gelar akademik tertinggi (doktor) dan meraih jabatan akademik tertinggi (profesor), untuk kemudian dengan bekal pendidikan itu saya melintasi beberapa jabatan di negara ini sesuai usaha, prestasi, dan doa saya. Itu tidak lain karena Indonesia merdeka atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa.

Generasi ayah saya dan generasi-generasi sebelumnya tidak bisa menikmati itu karena mereka hidup ketika Indonesia belum merdeka dan bangsa kita masih dicengkeram oleh penjajahan. Kakek-kakek dan nenek-nenek kita dulu hampir secara mutlak tidak diberi kesempatan untuk menempuh pendidikan.

Bisa dihitung dengan jari jumlah mereka yang bisa bersekolah agak tinggi, yakni sebagian anak-anak priyayi di kalangan rakyat. Jumlah yang lebih banyak, tetapi tetap sangat terbatas menjelang kemerdekaan adalah mereka yang hanya bisa lulus sampai kelas V sekolah rakyat, seperti ayah saya.

Sekarang ini anak-anak Indonesia tidak hanya bisa menempuh pendidikan sampai ke jenjang tertinggi di Indonesia, tetapi juga sudah mampu menembus ke sekolah-sekolah terbaik di dunia internasional. Itu semua karena Indonesia menjadi negara merdeka. Karena Indonesia merdekalah, kita bisa memilih pemimpin seperti bupati, gubernur, anggota DPR/ DPRD, DPP, sampai pada presiden dari anak bangsa sendiri.

Karena Indonesia merdekalah kita bisa begini, bisa bercitacita dan mendapat peluang untuk bekerja keras meraih citacita di bawah pimpinan anak bangsa kita sendiri. Itulah sebabnya kita harus menjaga dan merawat kemerdekaan negara kita ini.

Jangan sampai ada gangguan atas kemerdekaan yang sudah diperoleh atas berkat rahmat Allah dan melalui perjuangan dan pengorbanan para pahlawan yang telah mendahului kita. ”Karena Indonesia merdekalah kita bisa begini”. Pada satu segi pernyataan tersebut bisa diungkapkan dengan bangga karena kemajuan-kemajuan seperti yang dikemukakan di atas.

Tetapi dari sisi lain, ungkapan tersebut bisa mengekspresikan keluhan atas beberapa hal yang masih menjadi masalah di negara kita. Cerita tentang Pak Bejo di atas, misalnya. Contoh lainnya, merajalelanya korupsi yang sekarang bisa dilakukan oleh anak-anak bangsa sendiri di alam Indonesia merdeka, sesuatu yang tak mungkin dilakukan jika Indonesia tidak merdeka.

Jadi secara berkelakar, bisa juga ada yang mengatakan, ”Karena Indonesia merdekalah maka ada anak bangsa yang bisa melakukan korupsi dengan merdeka pula”. Ini memang merupakan masalah yang tidak bisa menafikan kemajuan-kemajuan yang begitu banyak, namun tetap harus diperangi dengan serius.

MOH MAHFUD MD

Ketua Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN): Ketua MK-RI 2008-2013

Berita Lainnya...