Edisi 25-08-2017
Menangani Luka Bakar pada Anak


TIDAKada orang tua yang menginginkan buah hati kesayangannya terluka, apalagi terkena luka bakar. Namun, anak-anak, terutama balita, dengan rasa ingin tahu yang tinggi, terkadang dapat lepas dari pengawasan orang tua dan riskan terkena luka bakar.

Menurut Dokter Spesialis Bedah Plastik RS Evasari Awal Bros dr Tessa Puspita Sari SpBP RE, ada banyak kondisi yang dapat berpotensi kecelakaan sehingga menyebabkan luka bakar. Misalnya, saat balita Anda sedang belajar berjalan mencoba meraih pinggir meja yang di atasnya Anda letakkan minuman panas atau saat balita Anda dengan rasa ingin tahu mencoba menekan tombol air panas dispenser. Tidak terbayangkan betapa panik dan merasa bersalahnya Anda jika anak Anda mendapat luka bakar.

“Saat itu terjadi, hal pertama yang harus orang tua lakukan adalah tidak panik. Kepanikan Anda dapat membuat balita Anda semakin histeris setelah terkena luka bakar. Anda perlu tenang untuk menganalisis keadaan dan melakukan pertolongan pertama sebagai lini pertama di tempat kejadian,” ujar dr Tessa.

Dia menjelaskan, ada beberapa langkah untuk memberikan pertolongan pertama pada anak. Pertama , jauhkan anak dari sumber panas. Segera pindahkan anak dari sumber panas yang mencederai anak. Sumber panas dapat berupa api, cairan panas (air atau minyak), cairan kimia, benda panas lain (seperti wajan atau besi panas), atau listrik. Setelah kondisi sekitar aman, segera lepaskan pakaian atau atribut lain yang menempel pada bagian tubuh anak yang terkena luka bakar yang berpotensi menyalurkan atau menyimpan panas. Atribut ini dapat berupa gelang, kalung, atau jam tangan.

“Mitos yang sering beredar di masyarakat adalah menangani luka bakar dengan mengoleskan odol, mentega, telur, bahkan kecap. Mitos tersebut tidak benar dan justru membahayakan luka. Luka bakar seharusnya dibersihkan dengan bilasan air sejuk yang mengalir. Hal ini bertujuan menghilangkan sisa panas agar tidak merusak jaringan kulit lebih dalam lagi,” bebernya. Penelitian menunjukkan bahwa membilas luka bakar akut selama 15 menit saja dapat mengurangi proses peradangan hingga 30%- 50%. Jangan dibilas dengan air es, itu justru berpotensi merusak jaringan kulit yang sudah sakit akibat terkena panas.

Selain itu, membilas dengan air es dapat berisiko menurunkan suhu tubuh anak secara drastis (hipotermia) yang dapat berakibat fatal,” papar Dr Tessa. Dia menyarankan menutup luka dengan plastik penutup makanan transparan (cling wrap ). Luka bakar menyebabkan kerusakan kulit sehingga ujung-ujung saraf terpapar udara bebas dan menyebabkan nyeri. Plastik cling wrap mudah Anda beli di sekitar Anda.

“Plastik wrap dapat sementara membantu menutup ujung-ujung saraf tersebut sehingga mengurangi nyeri. Cling wrap juga membantu mengurangi penguapan berlebih akibat luka bakar yang berpotensi menyebabkan dehidrasi pada anak. Selain itu, penutupan dengan plastik transparan ini sementara dapat menjaga luka agar tidak terkontaminasi kuman,” tutur dr Tessa.

Tubuh anak, terutama balita, mengandung 90% cairan. Luka bakar yang terjadi dapat menyebabkan penguapan berlebihan dan keluarnya cairan dari luka. Dr Tessa menambahkan, semua hal tersebut berisiko menyebabkan dehidrasi pada anak.

Iman firmansyah