Edisi 25-08-2017
Milenial Asia Memilih Wisata Solo ketimbang Kelompok


PELANCONG milenial Asia yang dipersenjatai alat digital rupanya mengubah tren perjalanan. Mereka adalah pendorong di balik ledakan perjalanan solo saat ini.

Pendiri Airbnb Nathan Blecharczyk mengatakan kepada Bloomberg barubaru ini bahwa Airbnb, platform sewa rumah global terbesar, berencana mempekerjakan personel tambahan pada tim teknisnya di China. Dalam 12 bulan ke depan, staf teknisnya di Beijing akan meningkat empat kali lipat menjadi lebih dari 100 orang. Ekspansi di China ini ditujukan untuk mengejar pertumbuhan permintaan yang meningkat dari miliuner China. Sebelumnya pada Maret, Airbnb telah mengatakan akan melipatgandakan investasinya di China dan melipatgandakan jumlah karyawan di sana menjadi 300 orang.

Langkah ini dimaksudkan untuk mengimbangi lebih dari 400 juta selera orang muda di sana untuk melakukan perjalanan independen. Menurut Nikkei Asian Review , pelancong milenial di China semakin cenderung memilih perjalanan solo daripada paket wisata. Kelompok milenial yang bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris dan terampil menggunakan perangkat digital, seperti ponsel pintar, bisa membuat rencana perjalanan sendiri menggunakan berbagai informasi secara daring. Sementara itu, menurut laporan yang dikeluarkan United Nations World Tourism Organization (UNWTO) pada April lalu, China telah menduduki peringkat nomor satu dalam hal wisatawan mancakrida (outbound) sejak 2012.

Sebanyak 135 juta wisatawan Negeri Tirai Bambu ini bepergian ke luar negeri tahun lalu dan menghabiskan USD261 miliar (Rp3.484 triliun), sementara turis asal Amerika Serikat (AS) menghabiskan setengah dari pengeluaran wisatawan China. Secara khusus, perjalanan solo adalah tren yang berkembang. Menurut perusahaan konsultan Fung Global Retail & Technology, sebanyak 70,6 juta orang China adalah pelancong independen, menyumbang 52% dari semua perjalanan keluar dari China. Angka ini setara dengan pelancong mancakrida keseluruhan dari AS yang hanya 35% sebagai wisatawan kelompok.

Survei terhadap 800 turis China menemukan jika pelancong perorangan telah menghabiskan ratarata 16.527 yuan (USD2,436 atau Rp32 juta) dalam perjalanan terakhir mereka. Sekitar 80% dari mereka mengaku mendapatkan informasi perjalanan melalui pencarian daring, jauh lebih tinggi daripada kelompok tur di 52%. Saat bepergian, 65% dari mereka menggunakan ponsel pintar untuk mencari tempat berbelanja.

Dikutip Huffington Post , generasi milenial cenderung menganggap perjalanan sebagai bagian penting dari kehidupan mereka dan mencurahkan lebih banyak pendapatan mereka untuk melakukan wisata daripada generasi sebelumnya. Alih-alih tur kelompok, mereka lebih memilih perjalanan solo karena mereka bisa merencanakan perjalanan sendiri, meski harganya lebih mahal. Fenomena ini menyebar tidak hanya di China, tetapi juga di seluruh Asia. Jenis wisata ini menjadi semakin populer seiring dengan meningkatnya pendapatan, tarif penerbangan lebih murah, dan pengaruh media sosial (medsos) yang terus tumbuh.

Misalkan, menceritakan kisah perjalanan di suatu tempat disertai foto-foto wisata. Medsos dianggap menjadi sumber informasi yang paling penting dan sarana mencari perjalanan solo. The Pacific Asia Travel Association (PATA) menyurvei milenial Asia dan menemukan jika medsos dan perbincangan dari mulut ke mulut merupakan faktor terpenting dalam memilih tujuan perjalanan.

Susi susanti