Edisi 25-08-2017
Pentingnya Melatih Kemandirian Anak Sejak Dini


Mengajarkan anak berperilaku mandiri harus dilakukan sejak usia dini. Ini karena kemandirian berkaitan erat dengan karakter dan sikap anak di masa depan. Bila dari kecil tidak dilatih untuk mandiri, besar kemungkinan anak akan tumbuh menjadi pribadi yang manja.

Perilaku mandiri juga membangun rasa tanggung jawab tinggi pada anak. Dalam melatih kemandirian anak, orang tua harus ekstra sabar karena memang tidak mudah mengajar anak-anak. Selain itu perlu diingat, melatih anak mengerjakan sesuatu terkadang butuh proses berulang sampai akhirnya sang anak terbiasa untuk melakukannya. Menurut Amy McCready, pendiri Positive Parenting Solutions, orang tua bisa memberikan satu tugas secara reguler.

“Tugas-tugas sederhana yang secara konsisten diberikan kepada Anak akan efektif dalam melatih kemandiriannya,” kata McCready dikutip dari Parents.com. McCready menjelaskan yang dimaksud dengan perilaku mandiri adalah sikap anak yang dalam melakukan atau memutuskan sesuatu tidak bergantung dengan sekitarnya. Kemandirian anak ditandai dengan adanya kemampuan untuk melakukan aktivitas sederhana sehari-hari. Kemandirian akan dicapai oleh anak melalui proses belajar. Oleh karena itu ketika melatih kemandirian anak, Michelle La Rowe, penulis buku A Mom’s Ultimate Book of Lists mengatakan, jangan memberi tugas yang sulit.

“Berikan tugas yang bisa dilakukan anak-anak tanpa menemui kesulitan. Misalnya, memakai dan menalikan tali sepatu sendiri atau mengenakan jaket sendiri,” ujar La Rowe. Bagian dari kemandirian adalah kemampuan membuat keputusan sendiri. Jadi biarkan anak membuat keputusan sendiri. Selain itu, kemandirian berkaitan erat dengan kemampuan anak dalam menyelesaikan masalah. Perilaku mandiri ditunjukkan dengan adanya kemampuan untuk mengambil inisiatif dan mengatasi masalah, serta ingin melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain.

Tak sedikit orang tua yang melarang buah hatinya ketika anak ingin mencoba hal baru. Padahal mencoba sesuatu yang baru berhubungan dengan keman dirian dan membangun intelektual anak. “Anak-anak harus diberikan ke percayaan untuk melakukan aktivitas baru. Tidak sedikit orang tua yang khawatir jika anaknya dilepas sendiri. Padahal mencoba hal baru ber kaitan erat dengan kemandirian. Ketakutan orang tua bisa di rasakan oleh anak, sehingga ini membuat anak lambat untuk mandiri,” Kemandirian amat ber dam pak positif bagi per kembangan anak.

“Sehingga sangat baik jika kemandirian ini diajarkan sedini mungkin dengan disesuaikan pada kemampuan dan usia anak,” imbuh Shierly. Selain di rumah, sekolah juga memiliki peran besar untuk membangun kemandirian anak. Karenanya orang tua harus jeli dalam mempersiapkan dan juga memilih sekolah untuk sang buah hati. Untuk mengedukasi para orang tua, Sun Life kembali menggelar Sun Life Edufair 2017 yang akandiselenggarakan pada 20 – 22 Oktober 2017 di Mall Kota Kasablanka, Jakarta.

Sun Life Edufair 2017 merupakan pameran pendidikan yang mempertemukan sekolahsekolah, para pakar pendidikan, orang tua anak-anak. Memasuki tahun kedua, Sun Edufair 2017 akan menghadirkan lebih 20 sekolah formal dan non formal di Jabodetabek.

Tips mengasah kemandirian anak : Merapikan Tempat Tidur Sendiri

Merapikan tempat tidur merupakan kebiasaan yang tepat untuk menumbuhkan percaya diri pada anak. Hal ini mungkin terlihat sederhana, namun akan berdampak terhadap pembentukan karakter anak masa mendatang.

Mengambil Makanan Sendiri

Sikap kemandirian juga bisa dapat diajarkan di meja makan. Sesekali, biarkan anak mengambil makanannya sendiri tanpa dibantu. Dalam hal ini yang perlu dilakukan adalah mengajarkan cara mengambil makanan yang baik, sopan dan secukupnya. Selain ajarkan juga etika dan cara makan yang pada anak.

Merapikan Mainan

Anak-anak memang identik dengan meninggalkan mainan di mana saja. Untuk membentuk kepribadiannya, maka mulailah mengajarkan anak untuk menyimpan dan merapikan mainannya sendiri. Langkah-langkah sederhana ini bisa menjadi cara yang efektif dalam menumbuhkan kemandirian pada anak. Langkah sederhana namun berkualitas justru lebih mudah dipelajari oleh anak. Peran orang tua sangat diperlukan agar anak terbiasa dan tidak merasa terpaksa dalam melakukan hal-hal sederhana ini.

[sri noviarni]