Edisi 25-08-2017
“Superhero” Al Gore Melawan Pemanasan Global


LEPAS 11 tahun sejak merilis film dokumenter An Inconvenient Truth, wakil presiden Amerika Serikat era Bill Clinton (1993-2001), Al Gore, muncul lagi dengan sekuelnya.

Kalau pada film pertamanya, Al Gore banyak membeberkan fakta dan prediksi seputar pemanasan global dengan penceritaan yang menawan dan penuh humor, kali ini filmnya mengambil pendekatan yang berbeda. Film dibuka dengan sinisme media tentang “ramalan-ramalan” Al Gore perihal pemanasan global. Namun, Al Gore punya bukti yang kuat. Film yang disutradarai Bonni Cohen dan Jon Shenk (menggantikan posisi Davis Guggenheim di film pertama) ini lalu memberikan gambar-gambar tentang badai topan, banjir, hawa superpanas, hingga kekeringan di Miami, Amerika Serikat hingga Filipina dan India.

Film lalu memulai kisah panjang nyaris dua jam tentang perjuangan Al Gore menyelamatkan bumi. Dari hal “kecil” seperti membuat komunitas dan mendidik banyak orang di banyak negara untuk menjadi campaigner tentang penyelamatan lingkungan hingga menjadi negosiator dan memengaruhi kebijakan salah satu negara dengan penduduk terbesar di dunia. Sayangnya, justru di sinilah “kelemahan” film ini. An Inconvenient Sequel ibarat sebuah film propaganda yang diputar di sekolah-sekolah yang didirikan Al Gore (jika ada).

Filmnya terlalu fokus memberikan informasi semua hal yang sudah Al Gore lakukan dalam perjuangan menyelamatkan bumi. Ini boleh jadi tidak masalah, tapi saat film juga sampai masuk ke hal personal, seperti cerita Al Gore—di rumah pribadinya—tentang reaksi keluarganya ketika dia berminat mencalonkan diri sebagai wapres dan kemudian presiden, film seolah berbelok menjadi film autobiografi. Glorifikasi perjuangan pria yang kini berusia 69 tahun ini juga makin menjadi- jadi saat dia terlibat dalam negosiasi dengan pemerintah India di United Nations Climate Change Conference 2015 demi menghasilkan Paris Agreement.

Al Gore sampai mengadakan pertemuan dengan wakil IMF, menelepon banyak pihak, hingga akhirnya pada sebuah Sabtu malam, dia menelepon CEO SolarCity Lyndon Rive agar perusahaan teknologi panel surya itu mau memberikan bantuannya kepada India. Bagianinibelakangandiprotessalah satutimnegosiatorIndiadiParis, Ajay Mathur. Dikutipdari laman Dailycaller.com, Mathurmengatakandiadanrekan-rekannyatakingat adaketerlibatanAl Gore dalamnegosiasitersebut. Diabahkan mengungkapbahwatakadapembicaraan tentangtawaranpenggunaanteknologi panelsurya.

Sementara, menurut TheNew York Times, Al Gore bukanlahnegosiator resmidiperhelatantersebut. Sangkalan tim India itu ditanggapi juru bicara Al Gore, Betsy McManus. Menurutnya, hanya Menteri Energi Piyush Goyal dan Minister of State dari Kementerian Lingkungan, Hutan, dan Perubahan Iklim Prakash Javadekar yang terlibat dalam pembicaraan soal teknologi panel surya. Terlepas dari kontroversi tersebut, sekuel ini masih sedikit membawa roh lama film pendahulunya. Al Gore masih punya selera humor yang baik, membuat penonton kadang mengulum senyum. Apalagi saat “pemeran antagonis” dalam film, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, muncul di layar.

Ditutup dengan masih mengusung sikap optimistis, film ini secara keseluruhan membuat kita masih bisa berharap tinggal cukup lama di planet bumi.

Herita endriana