Edisi 25-08-2017
Diselamatkan Para Pemain


ADAdua alasan yang membuat orang mungkin akan tertarik menonton film ini. Pertama, karena diadaptasi dari novel seri karya si raja horor dan suspense Stephen King. Juga karena diperankan oleh para pemain kelas atas.

Dua modal ini sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk membawa pencinta film membeli tiket di bioskop. Terbukti pada minggu pertamanya, The Dark Tower berhasil duduk di puncak daftar film laris (box office) di Amerika Serikat, menggantikan Dunkirk. Namun, pada minggu berikutnya, posisinya langsung melorot beberapa anak tangga. Penyebabnya jelas, film ini memang di luar ekspektasi penonton, apalagi bagi penggemar novelnya. Trailer -nya yang cukup menjanjikan, ternyata tak begitu menggembirakan saat menonton film utuhnya.

Judul The Dark Tower mengacu pada sebuah menara di Dunia Pertengahan. Menara inilah yang menjaga keseimbangan dan mencegah kiamat datang di dunia—yang dalam versi film ini, tak hanya menyangkut kehidupan di planet bumi. Menara tersebut dijaga oleh para gunslinger , salah satunya adalah Roland Deschain (Idris Elba). Masalahnya adalah, Roland kini menjadi satu-satunya gunslinger yang tersisa. Selebihnya sudah dibantai penyihir bengis bernama Walter Padick (Matthew McConaughey). Akibatnya, Menara jadi mudah diserang dan rentan runtuh. Menara yang sering diserang ini pun berdampak pada gempa simultan yang terjadi di berbagai belahan bumi.

Nah yang menarik, Menara bisa runtuh atau tetap berdiri, semua bergantung pada pikiran anak-anak yang masih suci dan istimewa yang tinggal di bumi. Adapun yang paling istimewa dari mereka adalah si anak indigo Jake Chambers (Tom Taylor). Di tengah mimpi buruk yang sering dialaminya selepas kematian sang ayah, bocah lelaki berusia 11 tahun ini mencari Roland, sekaligus diburu Walter. Cerita ini sebenarnya menarik. Dua pemeran protagonisnya, yaitu Roland dan Jake, sama-sama punya masa lalu yang kelam. Dua-duanya sama-sama kehilangan ayah mereka dalam sebuah tragedi. Jake bahkan dianggap gila dan harus rajin ke psikolog karena perilaku dan gambar-gambar buatannya yang aneh. Perihal Menara juga bisa menimbulkan persepsi beragam.

Kekuatan dan kelemahan Menara ada pada pikiran anakanak. Jadi, sah saja jika misalnya kita beranggapan Menara adalah simbol dari sebuah peradaban tinggi, atau etika moral dan keseimbangan kehidupan dunia. Sayangnya, elemen psikologis dan filosofis yang mengintip di kisah film ini langsung tertimbun oleh skenario yang buruk. Jangankan membuat cerita atau dialog yang rapi dan menggugah, bahkan untuk menceritakan latar belakang tentang banyak versi dunia yang hidup bertetangga saja, film ini mengalami kesulitan. Penonton harus banyak meraba-raba, utamanya tentang kehidupan di Dunia Pertengahan. Soal latar belakang ini, bahkan investor filmnya pun merasakannya sejak awal.

Sony Pictures Entertainment dan Media Rights Capital (MRC) bahkan dikabarkan sampai meminta produser agar mengganti sutradara. Namun pada akhirnya, keputusan hanya berakhir pada penambahan adegan dan narasi untuk menjelaskan latar belakang cerita. Tapi ini pun pada akhirnya tetap tak memuaskan. Hasilnya, The Dark Tower lebih banyak mengumbar adegan laga yang cepat, bahkan kesannya terlalu cepat, hanya berdurasi 95 menit untuk film serumit ini. Plotnya dibuat jadi sangat sederhana, termasuk konflik dan klimaksnya yang tidak “nendang” . Bisa dibilang, film ini lebih cocok ditayangkan sebagai FTV atau film televisi yang ditayangkan pada akhir pekan.

Untunglah, jika boleh dibilang begitu, Idris Elba dan Matthew McConaughey bisa menceriakan suasana dengan akting prima mereka. Elba sangat pas memerankan jagoan ala koboi yang punya dilema psikologis dan agak sinis. McConaughey juga membuat sebal sekaligus kagum dengan aktingnya yang dingin sebagai penjahat yang tak kenal kata ampun. Sementara aktor muda yang baru Tom Taylor, berhasil mensejajarkan dirinya dengan baik. Wajahnya yang memadukan antara kepolosan dan kebengalan sangat membantunya melakonkan karakter remaja bermasalah.

Ketiga pemain inilah yang membuat The Dark Tower yang buruk masih bisa cukup menyenangkan untuk ditonton. Itu juga kalau Anda tak punya kegiatan lain yang lebih menyenangkan.

Herita endriana