Edisi 25-08-2017
Kenali Gangguan Tiroid


HORMON tiroid berperan dalam pro ses metabolisme dan aktivitas fisio logik pada hampir semua sistem organ tubuh.

Kekurangan atau kelebihan hormon ini akan mengganggu proses tersebut dan memengaruhi tumbuh kembang berbagai jaringan, termasuk sistem saraf dan otak. Berbicara mengenai hipertiroid dan hipotiroid, dr Farid Kurniawan SpPD menjelaskan, gangguan tiroid, terutama hipertiroid, lebih sering terjadi pada wanita dibanding pria. Dia menyebutkan, data Riskesdas 2013 mencatat, berdasarkan gejala yang dikeluhkan, sekitar 0,4% populasi Indonesia menderita hipertiroid.

“Hipertiroidisme berarti aktivitas kelenjar tiroid yang terlalu tinggi, ditandai dengan tingginya kadar hormon tiroksin dalam darah. Hal ini menyebabkan tingkat metabolisme meningkat dan menimbulkan beberapa gejala, seperti jantung berdebar, tangan gemetar, tingginya serum hormon tiroid bebas,” kata dr Farid dalam press conference dan seminar edukator tiroid Jakarta Endocrine Meeting (JEM). Gejala lainnya pada hipertiroid yaitu keringat berlebih, tidak tahan suhu panas, sulit tidur, buang air besar bisa 3-4 kali sehari (bukan diare), berat badan menurun, hingga emosi yang kurang stabil. Sering ditemui pasien hipertiroid terlihat tidak bisa diam dan cenderung bergerak terus seperti orang gelisah.

“Terdapat berbagai penyakit yang dapat menyebabkan kondisi hipertiroid. Salah satu penyebab tersering adalah penyakit graves yang merupakan penyakit autoimun,” ungkap dr Farid. Tubuh mengeluarkan antibodi yang disebut Thyroid-Stimulating Immunoglobulin (TSI), yang akan menempel pada reseptor di kelenjar tiroid dan merangsang kelenjar untuk memproduksi hormon tiroid yang berlebihan. Penyebab lain adalah toxic goiter (adenoma toksik), yakni suatu benjolan atau nodul di kelenjar tiroid yang secara otonom memproduksi hormon tiroid berlebihan, terlepas dari sistem regulasi tubuh pasien.

Hipertiroid yang berat sering disebut krisis tiroid atau badai tiroid/thyroid storm. Jika hal ini tidak ditata laksana dengan baik, dapat mengancam jiwa pasien. Sebaliknya, pada kasus hipotiroid, didapatkan kadar hormon tiroid dalam darah yang kurang dari normal. Umumnya gejala yang muncul pada hipotiroid yaitu rasa lelah berkepanjangan, berat badan cenderung naik, tidak tahan terhadap suhu dingin, kulit kasar dan kering, bengkak di kaki, rambut rontok, sembelit, sulit konsentrasi, serta penurunan libido.

Dr Farid menjabarkan beberapa penyebab hipotiroid, antara lain penyakit autoimun hashimoto, obat-obatan tertentu, ataupun cacat lahir (hipotiroid kongenital). Melalui pemeriksaan fisik dan laboratorium kadar hormon tiroid dalam darah, dokter dapat mendeteksi adanya kondisi hiper maupun hipotiroid. Pemeriksaan penunjang, seperti ultrasonografi (USG) atau sidik tiroid (thyroid scan ), juga dapat dipertimbangkan pada kondisi hiper atau hipotiroid untuk memeriksa struktur internal kelenjar tiroid. Jika menemukan gejala gangguan tiroid, segera berkonsultasi kepada dokter.

Dokter akan menentukan pengobatan atau terapi yang sesuai sehingga pasien mengalami perbaikan gejala, dapat melakukan aktivitas seharihari dengan baik, dan terhindar dari komplikasi penyakit yang berat. JEM 2017 yang diselenggarakan beberapa waktu lalu bekerja sama dengan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia cabang Jakarta (Perkeni Jaya) mengambil tema All About Thyroid from A to Z . Ketua JEM 2017 dr Dante Saksono H SpPDKEMD PhD mengatakan, JEM 2017 yang diselenggarakan Divisi Metabolik Endokrin Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM ini bertujuan memperkaya pengetahuan para dokter dan awam tentang perkembangan terkini berbagai penyakit mengenai tiroid.

“Pasien yang mengikuti seminar edukator tiroid hari ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuannya tentang penyakitpenyakit tiroid, khususnya kanker tiroid, dan selanjutnya dapat memberikan edukasi atau berbagi pengetahuan tentang kanker tiroid kepada pasien yang lain,” pungkas dr Dante.

Sri noviarni