Edisi 13-09-2017
Halimah Yacob Presiden Perempuan Pertama Singapura


SINGAPURA – Halimah Yacob akan menjadi presiden kedelapan Singapura pada pekan ini. Sosok berusia 62 tahun ini adalah presiden perempuan pertama di Singapura dalam 47 tahun terakhir yang diraih tanpa melalui pemilihan umum.

Halimah merupakan mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPW) Singapura menjadi satu-satunya kandidat memenuhi kriteria calon presiden yang dikeluarkan Komite Pemilihan Presiden (Presidential Elections Committe/PEC) pada Senin (11/9). “Saya berjanji akan melakukan yang terbaik untuk mengabdi kepada rakyat Singapura.

Janji saya itu tidak akan berubah, baik dengan adanya pemilu ataupun tanpa pemilu,” ujar Halimah seusai mengambil sertifikat ke lulusan dari kantor Kementerian Pemilihan Umum dikutip The Straits Times,kemarin. Proses pemilihan presiden Singapura seperti diatur dalam konstitusi negara itu me wajibkan setiap capres mendapatkan sertifikat kelayakan dari PEC.

Untuk bisa mendapatkan sertifikat, calon presiden harus memenuhi persyaratan yang ditentukan, yakni berstatus warga negara Singapura, berusia 45 tahun ke atas, terdaftar sebagai pemilih aktif, tinggal di Singapura tidak kurang dari 10 tahun, serta bukan anggota partai politik manapun saat mencalonkan diri.

Syarat lainnya adalah pernah selama tiga tahun menjabat posisi penting dipemerintahan (untuk sektor publik) atau pernah menjabat CEO perusahaan dengan total aset minimum 500 juta dolar Singapura. Selain itu, calon presiden Singapura juga harus memiliki integritas, karakter, dan reputasi baik. Halimah merupakan satu dari tiga kandidat etnis Melayu yang memiliki kesempatan menjadi Presiden Singapura.

Namun, PEC menyatakan dua kandidat lainnya, yakni chair man perusahaan layanan marinir Farid Khan dan CEO perusahaan properti Salleh Marican, tidak memenuhi kualifikasi. PEC yang terdiri atas panel beranggotakan enam orang itu tidak puas dengan pengalaman dan kemampuan Farid serta Salleh dalam menangani perusahaan sebesar dan serumit mereka.

Menurut PEC, ekuitas perusahaan Salleh, Second Chance, rata-rata sekitar USS258 juta atau di bawah batas minimum yang sudah diatur dalam konstitusi. Farid menolak mengungkapkan keuangan perusahaannya atau menunjukkan surat penolakan PEC. Namun, Farid dan Salleh sama-sama kecewa karena tidak diberi kesempatan untuk maju.

Meski demikian, mereka mengaku akan terus melayani masyarakat Singa pura dan berterima kasih ke pada keluarga dan para pen dukung mereka. Keputusan PEC tidak bisa diganggu gugat. Komisi Konstitusi merekomendasikan perubahan untuk menjamin adanya perwakilan minoritas di jajaran tinggi pemerintahan, juga memperketat kriteria eligibilitas untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.

Halimah menegaskan, setelah menjadi presiden, dia akan tetap memiliki semangat dan komitmen melayani rakyat Singapura. Dia juga bertekad akan menyatukan seluruh rakyat Singapura agar bekerja sama sehingga bisa menjaga kesatuan bangsa dan negara yang lebih kuat. “Ini merupakan perjalanan yang harus kita lalui bersama,” katanya. Penunjukan presiden tanpa pemilu mengundang beragam reaksi.

Wakil Direktur Institute of Policy Studies Gillian Koh mengatakan, Halimah mendapat dua keistimewaan.

Pertama, dia seorang muslim Melayu.

Kedua, Halimah adalah seorang perempuan.

Namun, dia menilai pengadaan pemilu akan jauh lebih baik dibandingkan dengan penunjukan langsung. Berbeda dengan Koh, professor ilmu politik dari Universitas Nasional Singapura Bilveer Singh mengatakan, nilai penunjukan seorang presiden, baik melalui pemilu atau tidak, pada hakikatnya tetap sama. “Dengan adanya penunjukan tanpa pemilu tidak mengartikan pemenangnya lemah atau terdelegitimasi,” katanya.

Menanggapi keter pilihannya secara otomatis menjadi Presiden Singapura, Halimah mengatakan hal itu menciptakan perdebatan panjang. “Prosesnya mungkin pemilihan otomatis, tapi presiden bagi semua orang dan semua jaringan masyarakat tanpa melihat ras atau agama,” kata Halimah. Halimah sebelumnya berhenti dari jabatan Ketua DPR yang dicapainya pada 2013 agar bisa menjadi presiden.

Dia sudah lama menjadi bakal calon presiden terfavorit di Singapura. Hari ini Rabu (13/9), Halimah harus membawa pengusung, pendukung (seconder), dan empat orang asentor (pendukung dari pihak DPR) ke Asosiasi Rakyat untuk mengirimkan dokumen nominasi antara pukul 11.00 sampai tengah hari. Sesaat setelah nominasi ditutup, Halimah akan dideklarasikan sebagai presiden terpilih dan akan dilantik keesokan harinya.

Berasal dari Warga Minoritas

Halimah memiliki pengalaman tak bisa dilupakan saat masih remaja. Dia bercerita, pada masa kecilnya pernah dikeluarkan dari Sekolah China Singapura Khusus Perempuan karena terlalu sering tidak masuk sekolah. Bukan karena malas, ketidakhadirannya di sekolah karena dia membantu sang ibu berdagang makanan untuk mendukung ekonomi keluarganya. Sang ibu menjadi pemimpin keluarga Halimah setelah ayahnya meninggal saat usia dia delapan tahun.

“Saya tidak masuk sekolah dalam periode lama. Akhirnya, saya mendapatkan peringatan dari kepala sekolah, ‘jika kamu tidak datang ke sekolah, saya akan mengeluarkan kamu dari sekolah’. Itu menjadi ultima tum terakhirnya,” ujar Halimah sambil tertawa kecil saat wawancara dengan Channel News Asia. Halimah mengakui saat itu men jadimomenterburukda lam kehidupannya.

Akan te tapi, dengan tekadnya yang kuat, dia terbukti berhasil mewujudkan mimpinya pada kemudian hari. “Saya harus move on,” kata dia mengenang masa lalunya. Dalam hidupnya, Halimah sebenarnya tidak pernah bermimpi masuk kedunia politik. Keinginan sederhana, setelah lulus sekolah dan mendapat pekerjaan, dia ingin membantu ibunya.

Berdasarkan pengalaman dan perjuangan masa lalunya, Halimah tumbuh dengan rasa empati kuat dalam memahami kesulitan yang dihadapi rakyat Singapura. Karena kehidupannya keras, Halimah mampu belajar banyak hal sehingga bisa bertahan. Sebelum maju menjadi calon presiden, ibu lima anak itu juga meminta pertimbangan keluarga.

“Saya berbicara dengan suami saya terlebih dahulu, karena saya harus mendapatkan pertimbangannya. Setelah ber diskusi, suami saya mendukung saya,” ujar Halimah yang meni kah dengan kawan kuliahnya, Mohamed Abdullah, pada 1980. Tidak lupa, Halimah juga meminta pertimbangan dari anak-anaknya. “Anak-anak bertanya, ‘apakah ibu yakin bisa melakukan hal itu (menjadi presiden)? Apakah ibu yakin?’,” kata Halimah.

Dia menceritakan, anakanaknya sebenarnya keberatan kalau ibu mereka sering tampil di publik dan media. Namun setelah dijelaskan, Halimah mendapatkan dukungan dari buah hatinya. Halimah telah menciptakan sejarah di Singapura. Dia menjadi ketua parlemen perempuan pertama pada 2013. Dia pun akan menjadi Presiden Singapura perem puan pertama.

muh shamil/andika hendra mustaqim





Berita Lainnya...