Edisi 13-09-2017
Turki Beli Rudal Antipesawat Buatan Rusia


ANKARA – Turki menandatangani sebuah perjanjian kerja sama kontroversial dengan Rusia. Kesepakatan unik ini terkait pembelian persenjataan berat untukmemperkuatmiliterTurki.

Pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan memutuskan untuk melakukan paket pembelian rudal antipesawat jenis S-400 buatan Rusia. Presiden Erdogan mengatakan, pemerintahannya telah melakukan pembayaran deposit untuk kesepakatan ini senilai USD2,5 miliar (Rp33 triliun). Seperti dilansir Hurriyet Daily, Erdogan menyatakan ketidakpuasannya dengan mitra negara barat yang tidak disebutkan.

Mitra ini hanya mencari keuntungan dalam jumlah besar untuk pembelian pesawat militer. ”Militer Turki menewaskan 90 anggota kelompok teroris YPG pada minggu lalu dengan droneyang dikembangkan sendiri oleh Turki. Dronebuatannegarabarat harganya terlalu mahal,” kata Erdogan dilansir BBC.

”Kami bertanggung jawab untuk menentukan langkah dan strategi dalam mempertahankan negara kami,” ucapnya. Sementara itu, Vladimir Kozhin, penasihat militer untuk Presiden Putin mengatakan bahwa kontrak kerja sama pembelian rudal S-400 dengan Turki ini sangat sesuai dengan kepentingan strategis Rusia.

”Pada titik ini, dapat dimengerti dengan baik reaksi dari beberapa negara Barat yang berupaya melakukan tekanan pada Turki,” kata Kozhin seperti dilansir BBC. Kesepakatan kerja sama pembelian rudal ini jelas merupakan sebuah penolakan kasar bagi NATO, setelah pihak AS dan Jerman menarik rudal pertahanan udara Patriot dari wilayah Turki.

Pada 2015 pemerintahan Erdogan mendesak negaranegara sekutu NATO untuk mempertahankan rudal-rudal tersebut tetap pada posisinya di perbatasan Turki dan Suriah. Kemarahan pemerintah Turki terhadap pemerintah AS memuncak tatkala AS menolak untuk melakukan ekstradisi Fethullah Gulen, seorang imam yang dituduh melakukan percobaan kudeta terhadap pemerintahan Erdogan pada Juli 2016.

Sekelompok aparat keamanan di Turki menjadi aktor lapangan dalam insiden kudeta gagal tersebut. Gulen membantah keras tuduhan keterlibatan dirinya pada aksi kudeta ini. Turki merupakan negara anggota NATO yang memiliki kekuatan militer terkuat kedua di antara negara anggota lainnya. Negara sekutu lainnya diminta untuk melakukan pembelian untuk memperkuat pertahanan dalam negeri mereka.

m shamil