Edisi 13-09-2017
Pengelola Radio Dituntut Kreatif Mengikuti Zaman


BANDUNG – Perkembangan teknologi saat ini diyakini tidak menggeser peran radio di Indonesia sebagai media literasi bagi masyarakat.

Bahkan, jelang pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018, radio akan menjadi salah satu media referensi bagi masyarakat. Keyakinantersebutterungkap dalam diskusi ringan Obrolan Teras SINDO (OTS) bertema “Sudahkah Radio Berperan sebagai Media Literasi” yang berlangsung di Restoran Alas Daun, Jalan Ciliwung, Kota Bandung, kemarin.

Pakar komunikasi massa, Harliantara Prayudha menyatakan, perkembangan radio saat ini masih tetap memiliki pendengar setia. Pertumbuhan internet dan munculnya radio streaming juga tidak menggeser radio tuning. “Radio akan tetap hadir di muka bumi selama masih ada manusia yang memiliki telinga.

Radio juga bisa bertahan jika pengelolanya mampu berkreativitas mengikuti zaman,” kata Kang Harley, sapaan akrab Harliantara, kemarin. Menurut dia, radio di Indonesia tetap menjadi media literasi bagi masyarakat di Tanah Air. “Tapi, pertumbuhan radio sama juga dengan media lain. Membutuhkan segitiga emas yang harus dijaga, yakni iklan, produksi, dan pengelolaan,” ujar dia.

Harley menilai, kehadiran radio saat ini harus diperkuat tiga kekuatan komponen yang harus seimbang, yakni pengetahuan (knowledge), keahlian (skill), dan mentalitas (mentality). “Jadi tiga kekuatan komponen ini harus dimilikibroadcaster saat ini.

Karena masih banyak broadcaster yang belum memenuhi tiga komponen tersebut,” kata dia. Ketua KPID Jabar Dedeh Fardyah mengatakan, pihaknya selalu menekankan kepada masyarakat untuk tidak menjadi follower dari satu informasi. Artinya, sumber informasi harus tetap dilakukan check and recheck agar diketahui kebenarannya.

Dia mengungkapkan, keterlibatan radio jelang Pilkada Serentak 2018, KPID telah melakukan MoU dengan KPU terkait rambu-rambu atau aturan mengenai sosialisasi. “KPU telah meminta data mengenai radio yang memiliki izin agar pengawasan bisa dilakukan.

Jika terdapat pelanggaran, nanti KPU akan melaporkan ke KPID dan dari KPID tentu akan memberikan sanksi sesuai aturan,” ujar dia. Ketua Bidang Organisasi PRSNI Basith Patria meyakini seluruh anggota PRSSNI tidak akan menyiarkan berita atau informasi hoax. Sebab seluruh anggota memiliki sistem filterisasi yang ketat.

Dia menyebutkan, anggota PRSSNI juga telah mendapatkan informasi yang disampaikan KPU mengenai tahapan pilkada. “Tetapi, sejauh ini para pendengar radio lebih pintar. Sama dengan halnya pembaca koran dan penonton televisi. Kami menjamin tidak akan ada siaran hoaxdi radio karena ada banyak filter mulai dari produser, scriptwriter, hingga penyiar,” ujar dia.

yogi pasha


Berita Lainnya...