Edisi 13-09-2017
Sindikat Pemalsu STNK Dibongkar


BANDUNG – Tim Subdit I Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jabar membongkar sindikat pemalsu Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) khusus sepeda motor dan mobil mewah.

Tiga tersangka anggota sindikat, Urip Hamzah Said, Edvan Harapan, dan Satrio Jatmiko, berhasil dibekuk.Kasus ini terungkap bermula dari informasi pada 25 Agustus 2017 tentang maraknya STNK palsu yang digunakan para pemilik motor besar dengan kapasitas mesin di atas 500–1.500 cc, seperti Harley Davidson dan mobil mewah di wilayah hukum Polda Jabar.

Berdasar informasi tersebut, Tim Subdit I Ditreskrimum Polda Jabar yang dipimpin AKBP Budi Satria Wiguna langsung melakukan penyelidikan. Anggota juga melakukan penyamaran sebagai penyuka motor besar dan mendekati tersangka Satrio Jatmiko.

Dari Satrio diperoleh informasi bahwa STNK untuk motor besar bodong (tanpa surat resmi, tak membayar pajak, dan hasil selundupan), bisa diperoleh melalui dirinya dengan harga Rp5 juta sampai Rp6 juta. Tersangka Satrio ditangkap di rumahnya, Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung sekitar pukul 20.30 WIB.

”Di dalam rumah Satrio, anggota mengamankan sejumlah barang bukti seperti satu unit motor Honda Gold Wing warna silver stone, satu unit motor Ducati, satu unit motor Yamaha Police, 250 lembar STNK palsu, dan 4,5 butir ekstasi,” ujar Kapolda Jabar Irjen Pol Agung Budi Maryoto didampingi Wakapolda Brigjen Pol Supratman, Direskrimum Kombes Pol Umar Fana, dan Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Yusri Yunus saat ekspos kasus itu di Mapolda Jabar, Jalan Siekarno-Hatta, Kota Bandung, kemarin.

Kapolda mengemukakan, dari penangkapan Satrio, anggotamelakukanpengembangan dengan menggeledah ulang kediaman tersangka. Di sana, anggota berhasil mengamankan 41 lembar STNK palsu, lima butir ekstasi, dan satu unit mobil mewah Mercedes Benz C 200 AT. ”Tim kemudian mengamankan seseorang yang sering memesan STNK palsu dari tersangka Satrio.

Selain itu, tim Subdit I juga mengamankan tujuh unit motor besar berjenis mewah,” ujar Kapolda. Selanjutnya, pada Sabtu 9 September 2017, pihaknya mengembangkan kasus ke Jakarta dan berhasil meringkus Edvan Harapan di Jalan Pelita Nomor 3, RT 09/08, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan pada Minggu (10/9).

Edvan merupakan perantara yang menghubungkan tersangka Satrio dengan otak pemalsu dokumen palsu kendaraan mewah itu. Tersangka Edvan mengaku menjual STNK palsu kepada Satrio dengan harga Rp2 juta untuk motor besar dan Rp4 juta untuk mobil mewah. Sementara tersangka Satrio menjual STNK palsu itu dengan harga Rp5 juta untuk motor besar dan Rp7 juta mobil mewah.

”Tersangka Satrio memesan STNK palsu kepada Edvan melalui pesan singkat SMS dan Whats- App,” kata Agung. Setelah meringkus Satrio dan Edvan, tim Subdit I menangkap tersangka Urip Hamzah Said di tempat kos kawasan Utan Kayu, Matraman, Jakarta Timur. Urip merupakan otak pembuat STNK palsu.

Tersangka Urip hanya menerima pesanan STNK palsu dari Edvan. Urip tidak mengenal Satrio walaupun satu jaringan sindikat. Dari tempat kos Urip, polisi mengamankan satu unit komputer, 523 lembar blangko kosong berformat STNK palsu, blangko kosong 540 lembar. Total 1.100 lembar blangko STNK palsu.

”STNK palsu ini dibuat dengan cara sederhana. Banyak ciri yang bisa dilihat untuk membedakannya dengan yang asli. Salah satu hologram lambang kepolisian yang tidak ada di STNK palsu. Untuk memberantas motor dan mobil mewah bodong dengan STNK palsu ini, kami akan melaksanakan razia besar-besaran di seluruh Jabar,” kata Agung.

Direskrimum Polda Jabar Kombes Pol Umar Fana menambahkan, sindikat STNK palsu khusus motor dan mobil mewah ini telah beraksi selama lima tahun sejak 2012. STNK palsu buatan sindikat yang dipimpin Urip itu telah mencetak ribuan lembar dan dipesan para pemilik motor dan mobil mewah di seluruh Indonesia.

”Anggota juga menyita 26 unit sepeda motor besar dan tiga unit mobil mewah. Semua kendaraan ini bodong, tidak membayar pajak dan hasil selundupan,” kata Umar. Menurut Umar, kasus ini bukan sekadar pemalsuan surat kendaraan atau melanggar Pasal 263 KUHPidana, melainkan terkait kerugian negara. Ada beberapa pajak yang tidak penuhi oleh pemilik.

Seperti pajak impor yang diatur Undang- Undang Kepabeanan, PPn, PPh, dan pajak barang mewah. Inilah yang tidak dibayar. Kemudian pajak yang harus dibayar tiap tahun berupa pendapatan negara non-pajak. Seharusnya, motor besar mewah wajib bayar pajak Rp5 juta dan mobil mewah Rp10 juta per tahun. ”Asumsi kami selama lima tahun.

Pengakuan para tersangka dalam satu tahun, mereka memproduksi 900–1.000 STNK. Akan tetapi dari data digital komuter tersangka, sindikat ini telah membuat kurang lebih 1.200 STNK palsu. Dengan asumsi 1.000 lembar, berarti dalam satu tahun negara kehilangan Rp5 juta dikali 1.000 STNK palsu dikali lima tahun.

Negara rugi Rp25 miliar,” ujar Umar. Pihaknya masih terus mengembangkan kasus ini karena ada STNK palsu yang sudah jadi dan digunakan pemilik kendaraan mewah di kota-kota lain. ”Kami juga masih mengejar dua orang, Iyan dan Yudin yang kini buron,” tutur Umar.

agus warsudi






Berita Lainnya...