Edisi 13-09-2017
DPRD Dorong Pemprov Banten Lepas Saham BJB


SERANG– Ketua DPRD Banten Asep Rahmatullah mendorong Pemprov Banten untuk melakukan divestasi saham dari Bank Jabar Banten (BJB).

Sebaiknya pemprov meningkatkan nilai penyertaan modal ke Bank Banten sebagai bagian dari BUMD. “Tak perlu kita tambah lagi modal ke BJB. Buat apa, justru kami mendorong pelepasan atau pengurangan saham. Anggaran di BJB akan kita tarik semua dan dimasukkan ke Bank Banten,” ujar Asep di Serang, Banten, kemarin.

Sebenarnya rencana penarikan modal di BJB sudah mencuat saat Pemprov Banten dipimpin Penjabat Gubernur Banten Nata Irawan. “Ya ini terhenti karena sekarang ada gubernur baru (Wahidin Halim) ya kita serahkan ke gubernur baru. DPRD hanya mengingatkan saja,” katanya. Menurut dia, modal Bank Banten perlu ditambah lagi agar perusahaan semakin sehat.

“Ini berguna menjaga Pemprov Banten tetap menjadi pemegang saham mayoritas dan pengendali di Bank Banten,” ucapnya. Dia optimistis jika modal di BJB dialihkan ke Bank Banten dalam kurun waktu 2–3 tahun Bank Banten bisa memberi dividen kepada Pemprov Banten. “Direksi Bank Banten perlu serius, prospek bisnis ke depan harus bergerak cepat untuk memulihkan kondisi Bank Banten agar lebih sehat,” ujar Asep.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Banten Hudaya Latuconsina membenarkan rencana penarikan saham dari BJB saat era Penjabat Nata Irawan. “Divestasi terhadap BJB tidak bisa serta merta seperti perusahaan biasa, karena BJB sudah perusahaan Tbk.

Prosesnya harus melalui penjualan saham,” katanya. Berdasarkan informasi, Pemprov Banten akan menambah saham ke BJB sepanjang dividen yang diperoleh dari BJB itu berkontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD).

Dia menyebutkan, dari penyertaan modal di BJB sebesar Rp130 miliar, nilai dividen terakhir pada 2016 sebesar Rp49 miliar. “Kalau kita ingin beri tambahan bagaimana kita dorong kesanggupan memberi dividen yang lebih besar. Nah, itu yang akan dilakukan gubernur. Tinggal menunggu saja nanti keputusannya,” ujar Hudaya.

teguh mahardika