Edisi 13-09-2017
Dewan Keamanan PBB Tambah Sanksi bagi Korut


NEW YORK– Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara aklamasi mendukung penambahan sanksi bagi Korea Utara (Korut).

Pyongyang dilarang mengekspor tekstil dan pasokan bahan bakar minyaknya dikurangi. Keputusan tersebut dipicu uji coba nuklir keenam dan terbesar Korut. Jepang dan Korea Selatan (Korsel) menyatakan, setelah resolusi Dewan Keamanan PBB itu, mereka bersiap menambah tekanan dan sanksi kepada Korut jika Pyongyang menolak menghentikan program nuklir dan misil balistiknya.

Sanksi terbaru bagi Korut tersebut ditujukan agar mengurangi dukungan China aliansi utama Pyongyang dan Rusia kepada Pyongyang. ”Kita tidak senang dengan memperkuat sanksi (kepada Korut). Kita tidak ingin mencari perang,” kata Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk PBB Nikki Haley kepada Dewan Keamanan PBB setelah pemungutan suara.

”Jika Korut terus melanjutkan langkah bahaya, kita akan terus menekannya,” ancam Haley dilansir Reuters. Dia juga menegaskan hubungan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping tetap kuat. Dengan sanksi baru tersebut, negara-negara anggota PBB kini tidak bisa lagi mengimpor tekstil dari Korut.

Padahal ekspor tekstil pada 2016 mencapai USD752 juta (Rp9,3 triliun) atau seperempat dari pendapatan perdagangan. Hampir 80% ekspor tekstil itu menuju China. ”Resolusi sanksi juga akan mengakhiri pendapatan 93.000 warga Korut yang dikirim bekerja di luar negeri,” ungkap Haley.

”Larangan tersebut akan mengakibatkan Korut tidak mendapatkan USD500 juta (Rp6,57 triliun) yang biasanya diterima per tahunnya,” katanya. Sementara Duta Besar Korut di Jenewa, Han Tae-song mengatakan, AS berusaha menebar konfrontasi politik, ekonomi, dan militer.

”Delegasi saya mengutuk dengan kuat dan menolak segala bentuk resolusi Dewan Keamanan PBB yang ilegal dan tak berdasarkan hukum,” ujar Han. Han kembali mengancam kalau negaranya siap menggunakan segala bentuk cara untuk melawan keputusan PBB. ”Langkah ke depan yang dilakukan Korut akan membuat AS mengalami penderitaan terbesar sepanjang sejarah,” ujarnya.

arvin