Edisi 13-09-2017
Ajang Temu Komunitas Film


HADIR pada tahun kesebelasnya, Bali Internasional Film Festival atau yang dikenal Balinale menampilkan 108 film dengan genre yang lebih beragam dari 42 negara.

Mengangkat tema “Connecting Communities Through the World of Film”, Balinelamengajak seluruh sineas film untuk berbagi ide. Sesuai dengan temanya, Direktur Balinale Deborah Gabinetti menyebutkan film-film yang akan diputar memang mencerminkan bagaimana film bisa menghubungkan para komunitas di dunia.

Tentunya, garis besar Balinaleyang ingin merangkul para komunitas film bisa berujung positif untuk perkembangan perfilman di Indonesia. Terlebih, dia mengakui banyak penggiat film dan profesional yang memiliki kreativitas tinggi meskipun secara teknologi masih kurang. “Kita support pembuat film dari Indonesia, dan bisa menghubungkan komunitas karena film itu berbicara.

Apalagi ada film maker dari luar juga yang datang,” ucap Deborah, saat konferensi pers di Cinemaxx Jakarta, Kamis (7/9). Banyaknya negara dan film yang ikut terlibat dalam Balinale2017, tentunya membuktikan kalau ajang festival film ini bisa menjadi wadah pertukaran ide yang maksimal. Untuk itu, Balinalepada tahun ini secara khusus membuat Balinale Film Forumguna mengumpulkan para pegiat film Indonesia dan internasional selama 2 hari (22-23 September).

Beberapa produser, pembuat film, dan aktor Indonesia hingga pemerintah pun akan hadir. Bahkan, pelaku industri perfilman dunia seperti Disney, Universal Studio, dan NBC TV akan mengambil bagian dari Balinale. “Kita juga akan hadirkan Richard Brenson lewat konferensi video dalam forum,” kata Inneke Indriyani, produser Balinale.

Digelar 24 hingga 30 September di Cinemaxx Lippo Mall Kuta, Balinaleakan memutarkan film-film pendek, dokumenter maupun film cerita independen yang tentunya membuka wawasan penikmat film. Salah satunya film pendek Nameless Boyhasil besutan Diego Batara Mahameru.

Film ini bercerita tentang seorang anak laki-laki yang menyaksikan demo berantai saat zaman Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) kemarin. “Jadi memang fiksi dan saya arahi kantornya, tapi itu di-shootdi real situationsaat itu,” sebut Diego. Film karya anak Indonesia ini juga masuk dalam kategori In Competition.

Untuk film-film yang menang dalam kategori In Competitiionnantinya mendapatkan piala dan sertifikat. Adapun juri-jurinya, antara lain Michael Rowe (pemenang kamera emas di Festival Film Cannesdan Venice Days Award), Jeane Huang (Direktur Taipe Film Festival), dan Erwin Arnada selaku penulis dan sutradara Rumah Seribu Ombak.

nurul adriyana