Edisi 19-09-2017
Kemhan Borong 100 Tank Medium dari Pindad


BANDUNG – Kekuatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) bakal kian gahar. Mereka akan mendapat alutsista baru berupa tank medium buatan PT Pindad.

Jumlahnya tak tanggungtanggung, yakni 100 unit. Total tank medium yang dibutuhkan mencapai 500 unit. Rencana akan ada pengadaan 100 tank medium disampaikan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Tank medium merupakan produk kerja sama PT Pindad dan FNSS Turki. Purwarupa tank FNSS sudah dirilis dalam International Defence Expo (IDEF) 2017 di Turki pada Mei lalu. Sedangkan PT Pindad baru akan mengenalkan ke publik pada 5 Oktober 2017, bertepatan puncak perayaan HUT Ke-72 TNI di Cilegon.

Hingga kini pemerintah belum memberi nama tank canggih tersebut. Sedangkan pihak Turki resmi menamainya The Modern Medium Weight Tank (MMWT) Kaplan. ”Kami berharap tank lama diganti, kebutuhannya sekitar 500 tank. Tetapi kebutuhan awal untuk beberapa batalion dulu. Paling tidak dua batalion. Satu batalion sekitar 50 unit,” ungkap Ryamizard seusai menghadiri sarasehan dengan industri pertahanan Nusantara di kawasan PT Pindad, Bandung, kemarin.

Mantan kepala staf TNI AD itu memastikan tank medium Pindad akan mengganti tank TNI AD yang usianya sudah cukup tua, dalam ini tank ringan AMX 13. Menurut dia, tank medium sangat cocok dipakai TNI untuk memperkuat pertahanan nasional karena sesuai medan Indonesia, terutama di Pulau Jawa dan Sumatera. Tank medium seberat 37 ton akan lebih mudah dibawa melintasi jembatan Indonesia yang rata-rata hanya mampu menopang berat 40 ton. Dia kemudian membandingkan tank medium dengan main battle tank Leopard yang dibeli dari Jerman. Tank Leopard berbobot lebih dari 60 ton akan sulit berhadapan dengan medan dan infrastruktur Indonesia.

”Ini tank (medium) paling baik di sini. Kalau Leopard terlalu berat. Di bawa ke Sumatera, ambrol jembatannya. Kalau musuh bawa itu (tank besar), tidak bisa jalan di sini. Kalau ini bagus,” jelas dia. Direktur Utama PT Pindad (Persero) Abraham Mose menegaskan kesiapannya memenuhi pesananKementerianPertahanan (Kemhan). Walaupun saat ini Pindad dan FNSS Turki masih menyelesaikan dua prototipe tank medium senilai Rp300 miliar, dia optimistis pada 2018 Pindad bisa mulai memproduksi massal, termasuk untuk memenuhi pesanan 100 unit tank.

”Walaupun sekarang prototipe belum selesai, nanti kita buat polanya kerja sama. Bisa dengan FNSS atau dengan perusahaan lain yang mempunyai kelas di tank yang sejenis. Pengerjaannya, kalau bisa dilakukan kontrak multiyear, dua tahun selesai,” kata dia. Dia lantas menuturkan, setelah proyek pembuatan dua prototipe selesai dan masuk pada tahap produksi massal, PT Pindad memiliki hak untuk memproduksi sendiri tank tersebut. Tank itu nanti menjadi produksi dalam negeri dan Pindad memiliki hak untuk menjual secara massal.

”Setelah prototipe kedua selesai, nanti boleh pakai nama Indonesia. Jadi nanti ini real produk Pindad dan NSSS. Nanti tidak bisa dikatakan ini milik dia atau kita. Begitu masuk tahun produk massal, ini jadi produk Indonesia. Indonesia berhak menjadi menjual,” kata dia. Tank medium Pindad menggunakan trackling (beroda rantai) berbobot maksimal 35 ton dengan turret 105 mm yang dilengkapi dengan teknologi terbaru seperti battlefield management system, komunikasi modern, dan self awareness yang bisa memantau ancaman terhadap dirinya sendiri.

Adapun turret memiliki mekanisme autoloader, dengan 12 butir peluru di turret dan 30 butir peluru cadangan di dalam pool. Tank medium ini akan dilengkapi mesin yang mempunyai power 20 HP/ton dengan kecepatan 70 km/jam. Sedangkan kabin tank dapat menampung tiga orang kru yang terdiri atas komandan, penembak, dan pengemudi. Untuk melindungi awak, tank ini juga dilengkapi proteksi ancaman level 5 NATO. Sementara itu, kalangan DPR menyatakan dukungan terhadap rencana Kemhan memborong 100 unit tank medium dari PT Pindad.

Anggota Komisi I DPR Sukamta dan Elnino M Husein Mohi menilai Indonesia masih membutuhkan banyak alutsista untuk memperkuat pertahanan. ”Indonesia dikepung berbagai ancaman dari berbagai penjuru. Memperkuat aspek pertahanan adalah suatu keharusan. Salah satunya dengan meningkatkan jumlah alutsista yang sesuai dengan kebutuhan,” ucap Sukamta kemarin. Politikus Partai Keadilan Sejahterainimengapresiasilangkah pemerintah mengedepankan alutista produksi dalam negeri. Dia berharap kebijakan tersebut dapat terus menumbuhkan industri pertahanan dalam negeri.

”Sebagaimana amanah undang- undang. KualitasPindadpun mampu bersaing dengan produk luar. Sesuai dorongan kami di Komisi1, pengadaanpersenjataanharus mengarah kepada kemandirian industri pertahanan sebagai amanat UU 16/ 2012 tentang IndustriPertahanan,” jelasdia. Elnino M Husein Mohi melihat penambahan tank urgen untuk meningkatkan kapasitas pertahanan negara menghadapi berbagai ancaman. ”Gerindra setuju penguatan TNI sebab kekuatan militer adalah syarat pokokbagi kemandirian bangsa mengelola secara mandiri segala kekayaan alam yang terkandung dalam bumi dan air.

Jika kita mandiri, rakyat sejahtera,” kata dia. Dia pun sepakat dengan keputusan Kemhan membeli produk dari Pindad. Dia menegaskan Fraksi Gerindra lewat Komisi I sejak awal berkeinginan agar industri pertahanan maju, modern, dan berdikari. Segala perbelanjaan persenjataan mesti turut memperkuat PT Pindad, PT PAL, dan lainnya. ”Negara kita ini tidak boleh hanya bertarget memenuhi Minimum Essential Force (MEF), tapi harus lebih dari itu,” ucap dia.

Arif budianto/ mula akmal