Edisi 20-09-2017
Tiga Napi Terorisme Tolak Akui NKRI


YOGYAKARTA – Tiga narapidana terorisme di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wirogunan Yogyakarta belum mau mengakui Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan ideologi Pancasila.

Mereka sangat sulit meninggalkan paham radikalisme meski pihak lapas dan kepolisian sudah berusaha semaksimal mungkin mengajak mereka ke jalan yang benar. Tiga napi tersebut adalah Sali bin Wasiyo, 59, napi jaringan teroris di Poso; Fahrudin bin WaAli, 38, napi teroris yang juga kerabat Ali Mahmudin yang menjadi daftar pencarian orang (DPO) dalam kasus bom Thamrin, Jakarta.

Kemudian Chatimul Chaosan bin Muhammad Toyib alias Beni, 38, napi yang terlibat bom Kuningan, Jakarta, yang tertangkap saat membawa bahan peledak di daerah Glodok, Jakarta Barat, Maret 2013 lalu. “Kami sudah sodorkan mereka surat pernyataan untuk mengakui NKRI dan ideologi Pancasila, tapi tak mau,” kata Kepala Lapas Wirogunan Yogyakarta Suherman di sela kunjungan Divisi Humas Mabes Polri dan Polda DIY di Lapas Wirogunan kemarin.

Menurut Suherman, negara sulit memberikan remisi atau pengampunan jika mereka tidak mau mengakui NKRI dan Pancasila. “Kami tidak akan memberikanremisikepadamerekayang tidak mengakui NKRI meski kelakuannya baik,” ungkapnya. Pihak kepolisian juga memberikan Alquran kepada tiga napi tersebut sebagai bagian program deradikalisasi yang sedang diintensifkan Divisi Humas Mabes Polri dan Polda DIY agar mereka meninggalkan paham radikalisme.

Baik Beni, Sali, maupun Fahrudin tak banyak bicara saat menerima pemberian Alquran tersebut oleh Direktur Intelkam Polda DIY Kombes Pol Nanang Junimawanto. Beni masih mengumbar senyum saat diajak bicara, sedangkan Sali dan Fahrudin diam seribu bahasa tanpa ekspresi. Tri Agus Wijaya, petugas wali pendamping Beni, mengungkapkan bahwa Beni sudah mau membaur bersama napi lainnya dan salat berjamaah.

Bahkan, dia sudah mau diajak bercanda alias tidak menutup diri seperti napi lainnya. “Tapi kalau diajak upacara, hormat bendera merah putih, atau hal-hal yang bersifat NKRI, masih menolak,” ungkap Tri. Kasubdit IV Keamanan Ditintelkam Polda DIY AKBP Sigit Hariyadi mengungkapkan, program deradikalisasi ini dilakukan rutin dua kali dalam sepekan baik kepada masyarakat maupun para napi.

Pemberian Alquran tersebut dilakukan agar para napi kasus terorisme menyadari apa yang mereka lalukan adalah penyimpangan. “Kami berharap mereka sadar bahwa apa yang dilakukan adalah salah,” terangnya. Sementara untuk menangkal sekaligus membasmi virus gerakan radikalisme, perkumpulan organisasi masyarakat, pemuda, tokoh masyarakat, dan tokoh lintas agama yang tergabung dalam Aliansi Bela Garuda (ABG) mendeklarasikan dukungan penuh terhadap NKRI.

Bagi mereka, Pancasila adalah konsensus nasional yang tak boleh diotak-atik lagi. Keberadaannya sudah final karena bagian dari kontrak sosial berdirinya NKRI. “ABG sebagai gerakan lintas organisasi masyarakat mendeklarasikan dukungan penuh terhadap penyelamatan NKRI dengan mewujudkan Ukhuwah Kebangsaan dan Ukhuwah Kemanusiaan,” ujar Ketua ABG Anang Jahron. Dalam sikap resminya, ABG juga mendukung penuh langkah pemerintah membubarkan organisasi HTI.

Menurut Anang, HTI selama ini sudah melakukan rekrutmen dan menyebarkan ideologi secara masif, maka pemerintah harus memastikan bahwa semua anasir HTI itu dibersihkan dari lembaga negara. “Mendorong pemerintah melakukan pembersihan birokrasi di semua level lembaga pemerintahan yang menimbulkan perpecahan agama, suku, dan golongan,” pungkasnya.

Dia menjelaskan, meski HTI sudah dibubarkan, paham dan orang -orangnya masih banyak. Karena itu, dia tidak ingin Indonesia khususnya Yogyakarta terpecah belah oleh paham tersebut. “Perjuangan ini belum selesai karena paham dan orangorangnya masih banyak. Karena itu, masyarakat perlu didampingi untuk menjaga keberagaman tersebut,” terangnya.

Anang sangat mengkhawatirkan rongrongan ormas radikal berkedok Islam, tapi hakikatnya menghancurkan Indonesia. Dia menilai tugas yang paling berat adalah meluruskan kembali pemahaman Islam yang benar karena gerakan radikalisme sudah sampai ke tingkat RT.

m yamin