Edisi 20-09-2017
Desa Tertinggal Ditargetkan Naik Status dalam Dua Tahun


JAKARTA - Pemerintah menargetkan menghapus desa dengan kategori tertinggal dalam dua tahun ke depan. Target ini akan dicapai dengan mempercepat pelaksanaan empat program prioritas.

Selain itu, penghapusan desa tertinggal dilakukan dengan melibatkan investor untuk menanamkan investasi mereka di kawasan perdesaan. Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes) Eko Putro Sandjojo mengatakan, adanya empat program prioritas percepatan pembangunan desa akan terus digencarkan.

Keempatnya ialah Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades), membangun embung, mengembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan membangun Sarana Olahraga Desa (Raga Desa). Dirinya meyakini program tersebut akan mendorong pertumbuhan ekonomi di pedesaan. ”Jika empat program prioritas ini dilakukan di desa-desa, maka tidak akan ada lagi desa tertinggal dalam satu hingga dua tahun ke depan,” katanya saat melakukan penanaman jagung di Desa Padang Lebar, Kecamatan Seginim, Kabupaten Bengkulu Selatan.

Diketahui, berdasarkandata 2016 total jumlah desa di Indonesia sebanyak 74.954 desa. Pemerintah menargetkan hanya 5.000 desa saja yang masuk kategori desa tertinggal dan 2.000 desa tertinggal naik kelas menjadi desa berkembang dan menjadi desa mandiri. Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengatakan, sinergi KemendesdanKementanmerupakan sinergi yang hebat.

Hal tersebut diyakini akan semakin meningkatkan produktivitas pedesaan. Hal itu diungkapkannya dengan bukti pemerintah tidak lagi mengimpor jagung. ”Kami siapkan sarana produksinya, Mendes siapkan embung. Jagung sekarang sudah tidak ada impor.

Malahan Malaysia dan Filipina siap terima impor. Pada saatnya kami tutup impor, kita malah ekspor ke lima negara. Harga jagung kini stabil di kisaran Rp3.000-an,” ungkapnya. Bupati Bengkulu Selatan Dirwan Mahmud mengapresiasi kedatangan kedua menteri ini karena diyakini akan memotivasi produktivitas di daerahnya.

neneng zubaidah