Edisi 20-09-2017
Persaingan Koridor Barat dan Timur


KORIDOR barat dan timur Jakarta sepertinya terus bersaing merebut hati pengembang properti dan pemilik hunian untuk menjadi lokasi tempat tinggal paling ideal.

Berbagai pembangunan proyek hingga pengembangan infrastruktur pun digenjot agar memberikan kenyamanan bagi penghuni. Pasar properti di koridor barat Jakarta yang membentang dari Puri, Serpong, hingga Karawaci masih menjadi primadona di dunia properti. Bukan hanya pengembangan kota mandiri, prospek tersebut juga ditandai oleh pembangunan infrastruktur yang masif serta sistem transportasi matang sehingga kawasan ini menjadi agenda wajib dalam ekspansi bisnis pengembang. Serpong, misalnya, dari sisi infrastruktur, memiliki semuanya.

Kawasan ini terhubung oleh jalan tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) yang sudah terkoneksi dengan tol Bandara, tol BSD, dan percepatan rencana pembangunan tol JORR II serta Serpong-Balaraja. Koneksi jalan tol tersebut membuat kawasan ini menjadi magnet dalam dunia properti. Di sisi lain, kawasan seluas 24.040 kilometer persegi ini juga dekat dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Adanya keunggulan itu membuat Serpong berkembang menjadi kawasan gurih bagi pebisnis properti.

Apalagi mulai banyaknya perusahaan multinasional yang memindahkan basis operasinya dari pusat Kota Jakarta ke daerah Serpong yang secara umum mempunyai kemiripan infrastruktur dan lingkungan hidup di negara maju. Selain wilayahnya yang mendukung dan sangat strategis, Serpong juga masih memiliki banyak lahan yang cukup besar untuk bisa dikembangkan sebagai pusat kota mandiri meskipun harga tanahnya terus merangkak naik. Di Serpong, harga tanah sudah mencapai Rp15 juta sampai Rp25 juta per meter perseginya.

Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengatakan, kawasan Serpong tumbuh sangat cepat dibandingkan dengan kawasan pinggiran lainnya di sekitar Jabodetabek. “Pengembang besar sudah banyak hadir di kawasan ini. Potensi ke depan pun masih sangat besar dan menjanjikan,” sebutnya ketika dihubungi KORAN SINDO kemarin. Kawasan Serpong sangat cocok untuk hunian atau tempat tinggal. Banyak kelas menengah yang bekerja di Jakarta memilih tempat tinggal di kawasan Serpong. Sasaran pengembang membidik pasar tersebut melalui strategi resizing , dengan menjual tipe-tipe kecil seharga Rp500 juta- Rp1 miliar. “Tipe-tipe ini akan menjadi primadona,” kata Ali.

Sementara itu, koridor timur yang mencakup Bekasi, Cikarang, dan Karawang makin meroket sebagai kawasan potensial bisnis properti sehingga makin banyak pengembang mulai berinvestasi di sana. Disebut-sebut, pertumbuhan daerah Cikarang masih punya peluang berkembang lebih besar dan menjadi pusat bisnis, industri serta hunian terkemuka, ketimbang Serpong. Padahal, sekitar 26 tahun silam, kebanyakan orang hanya mengenal Cikarang sebagai tempat pembuatan batu bata secara tradisional. Cikarang merupakan satu dari tujuh zona kawasan industri di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Sekitar 4.000 perusahaan bercokol di wilayah tersebut dan diperkirakan sebanyak 21.000 ekspatriat bekerja di wilayah Cikarang dan sekitarnya. Dibanding wilayah koridor timur Jakarta lainnya, seperi Bekasi Barat dan Bekasi Timur, kawasan Cikarang menjelma menjadi alternatif properti hunian atau residential dan komersial. Bahkan, kawasan ini diperkirakan menjadi kota mandiri dalam kurun tiga sampai lima tahun ke depan.

Ada tiga kawasan industri besar di kawasan ini, yakni Jababeka sekitar 5.000 hektare, Lippo Cikarang 3.000 hektare lebih, dan Delta Mas seluas 3.000 hektare. Ketiganya masing-masing menciptakan kawasan terintegrasi. Kondisi tersebut akan menjadikan Cikarang sebagai salah satu kawasan industri terbesar di dunia.

Rendra hanggara