Edisi 28-09-2017
Waspadai Hujan Deras saat Peralihan Musim


JAKARTA – Hujan deras yang melanda wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya pagi kemarin menyebabkan banyak genangan dan kemacetan parah di berbagai lokasi.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat mewaspadai perubahan cuaca ini karena hujan dengan intensitas yang lebih tinggi diperkirakan akan terus turun hingga memasuki puncaknya pada awal 2018. Berdasarkan data BMKG Jakarta, saat ini wilayah Ibu Kota dan sekitarnya tengah memasuki masa peralihan musim dari kemarau ke penghujan.

Curah hujan di Jabodetabek pagi kemarin tergolong masih rendah karena berkisar 57 milimeter/hari hingga 97 milimeter/hari. Curah hujan tertinggi terpantau di kawasan Cengkareng dan terendah di kawasan Tanjung Priok. Pada akhir Oktober nanti, curah hujan diprediksi akan meningkat tajam dengan durasi yang lebih lama karena memasuki musim penghujan.

“Mungkin di awal curahnya sedikit, tapi durasi yang dihasilkan cukup meningkat bisa sampai 2-3 jam per hari,” kata Kabag Humas BMKG Prabowo kemarin. Curah hujan akan mencapai puncaknya pada Januari-Februari. Pada masa ini diperkirakan curah hujan mencapai ratusan millimeter per hari.

Menurut Prabowo, pada waktu itu hujan yang turun bisa terjadi seharian penuh dengan disertai petir. Terkait perubahan cuaca yang terjadi dalam dua pekan terakhir, Prabowo menilai masih tergolong wajar. Sebab, September- Oktober merupakan sisa musim terakhir kemarau dan peralihan musim hujan.

Termasuk mengenai panas menyengat, menurut Prabowo dikarenakan intensitas kemarau mulai meninggi disusul dengan hujan yang datang. “Jadi bisa dikatakan durasi hujan masih sebentar. Tapi semakin hari, durasi akan semakin lama,” ucapnya. Di Ibu Kota, hujan kemarin mengakibatkan genangan di wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Barat, dan Jakarta Selatan.

Genangan umumnya masih muncul di jalanan, tidak sampai masuk kepermukiman. Kendati demikian, genangan ini mengakibatkan arus lalu lintas menjadi tersendat ka rena pengendara memperlambat kendaraannya. Di wilayah Kelurahan Pasar Baru, Jakarta Pusat, genangan antara lain terlihat di Jalan Gereja Ayam, Jalan Gunung Sahari Raya.

Di Kecamatan Senen, genangan di Jalan Senen Raya. Sementara di Jakarta Barat, yakni di Jalan Kamal dengan ketinggian mencapai 30 cm dan baru surut sekitar 6 jam kemudian. Adapun di Jakarta Selatan antara lain di RW 02/RW 03 Petogogan, Kebayoran Baru akibat meluapnya Kali Krukut.

Hal serupa juga terjadi ruas jalan tol KM 40 Pancoran arah Semanggi. Bahkan, di ruas ini pagi kemarin hanya satu jalur yang bisa dilintasi. Genangan air juga terlihat di Raya Condet arah ke Dewi Sartika-MT. Haryono. Sementara di depan MOI Jalan Bouleverd Barat Kelapa Gading, genangan air mencapai ketinggian 10-20 sentimeter (cm).

Kemudian, di depan Kemanaker di Jalan Gatot Subroto juga terlihat genangan air setinggi mata kaki orang dewasa. ”Tahun ini perkiraan kami titik genangan berkurang dibanding awal tahun,” ujar Kepala Badan Penang gulangan Bencana Daerah ( BPBD) DKI Jakarta Jupan Royter.

Menurut Kasudin Tata Air Jakarta Barat Imron, sampah menjadi kendala pihaknya untuk mengatasi genangan air. Sebab, aliran dari arah Jakarta selatan melalui Kali Pesanggrahan dan Tangerang kerap kali membawa sampah, saluran air pun menjadi tersendat.

Sementara itu, seorang nenek, Suriyah, 49, kemarin tewas mengenaskan karena tersengat listrik saat mengantar cucunya berangkat kesekolah di Jalan Percetakan Negara II, Johar Baru, Jakarta Pusat. Saat kejadian, tiang listrik di lokasi tergenang air hujan.

Di Tangerang Selatan, genangan di beberapa lokasi menyebabkan kemacetan panjang. Dari pagi hingga siang kemarin kemacetan terpantau di Bundaran Ciater Serpong, Jalan Raya Benda Pamulang, Pertigaan Serua Ciputat dan Pertigaan Tanah Tingal Ciputat.

Selain karena genangan, banyak warga yang berangkat kerja atau beraktivitas luar rumah dengan menggunakan mobil akibat hujan deras. “Selain genangan, petugas pengatur lalu lintas di lapangan juga minim,” ujar Amaliya, warga Ciputat.

Di Kota Bogor, usai hujan deras disertai angin kencang mereda, pohon akasia dengan tinggi 15 meter di Jalan Jalak Harupat, tepatnya seberang pagar Istana Bogor, Bogor Tengah, Kota Bogor, tiba-tiba roboh siang kemarin. Pohon ini menimpa Edwars, 31, dan Nur Rizky, 25, dua pengendara sepeda motor. Selain itu, mobil sedan yang tertimpa juga rusak.

Edwars dan Rizky mengalami luka-luka dan harus dilarikan ke RS PMI Kota Bogor. “Saya bingung dan kaget, padahal hujan deras dan angin yang terjadi sejak pagi sudah reda, tapi tiba-tiba bruk , pohon tepat di depan saya roboh, Alhamdulillah pohon itu tak mengenai saya,” ujar Ujang Sutisna, 35, saksi mata.

Akibat kejadian itu, arus lalu lintas di jalur Sistem Satu Arah (SSA) Jalan Ir H Juanda dan Sudirman juga macet total selama satu jam, karena hampir seluruh badan jalan tertutup pohon.

Proses evakuasi yang dilakukan petugas BPBD dan Dinas Pertamanan Kota Bogor, selesai pukul 14.30 WIB. Berdasarkan data Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Bogor, 212 dari 14.521 pohon yang tersebar di sejumlah ruas jalan-jalan protokol dinyatakan rawan tumbang. Tercatat sudah 147 po - hon yang ditebang dan dipangkas. Saat ini ada sekitar 68 pohon rawan yang akan segera ditebang dan dipangkas.

yan yusuf/haryudi