Edisi 12-10-2017
Kim Jong-nam Bawa Rp1,3 Miliar


KUALA LUMPUR - Saudara tiri pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un, Kim Jong-nam, ternyata membawa uang tunai senilai USD100.000 (Rp1,3 miliar) di tas punggungnya saat dia dibunuh.

Menurut petugas kepolisian Wan Azirul Nizam Che Wan Aziz, uang tersebut kini disimpan di kantor polisi distrik Sepang. Tidak jelas untuk apa uang dalam jumlah banyak itu dibawa oleh Jong-nam. Blazer Jong-nam, tas punggung, dan jam, diserahkan ke departemen kimia untuk dianalisis.

Namun setelah itu, barang-barang tersebut diserahkan kepada perwakilan Kedutaan Besar Korut di Malaysia. ”Saya tidak mengetahui kenapa barang tersebut diserahkan. Saya hanya mengikuti perintah,” ujar Wan Azirul pada persidangan kemarin.

Persidangan itu menyidang Siti Aisyah, 25, warga Negara Indonesia (WNI) dan Doan Thi Huong, 28, dari Vietnam sebagai terdakwa kasus pembunuhan Jong-nam. Mereka dituduh mengusap wajah Jong-nam dengan gas syaraf mematikan VX yang dilarang Perserikatan Bangsa-Bangsa di Bandara Kuala Lumpur pada 13 Februari lalu.

Persidangan kemarin juga menyiarkan lebih dari 30 video dari kamera pengintai yang menunjukkan aktivitas Siti dan Doan. Pemutaran video itu setelah Hakim Azmi Ariffin mengabaikan keberatan dari kedua pengacara terdakwa.

Kuasa hukum Doan dan Siti Aisyah mengatakan, video itu dianggap sebagai kabar angin dan bukan sebagai kesaksian. Pasalnya, penyidik kepolisian tidak merekam sendiri video tersebut. Beberapa video bertanggal 11 Februari 2017 menunjukkan Doan mendekati Jongnam dari belakang.

Kemudian, dia meletakkan kedua tangganya di sekitar wajah dan leher Jong-nam. Dalam beberapa video lainnya juga menunjukkan aktivitas Siti dan Doan sebelum melakukan aksi pembunuhan. Dua perempuan itu juga terlihat di lokasi yang berbeda dan melarikan diri setelah melakukan pembunuhan.

”Dua perempuan itu berada di lokasi yang sama saat pembunuhan,” ujar Wan Azirul. Dia mengungkapkan, aksi kedua perempuan itu menunjukkan bahwa mereka berdua memang melakukan serangan pembunuhan. ”Serangan itu dilakukan dengan agresif,” ungkapnya.

Namun, baik Siti maupun Doan mengaku tak bersalah. Mereka menegaskan, mereka melakukan aksi itu sebagai bagian dari program reality show televisi. ”Doan dan Siti diminta agen rahasia Korut seolah-olah mereka bermain untuk acara televisi,” demikian keterangan kuasa hukum kedua tersangka. Jika hakim menyatakan mereka bersalah, keduanya bisa dijatuhi hukuman mati.

andika hendra m

Berita Lainnya...