Edisi 12-10-2017
Macet - Banjir Jadi Pekerjaan Rumah Abadi


JAKARTA – Tiap pergantian gubernur baru di DKI Jakarta ada dua pekerjaan rumah (PR) abadi yang tak pernah terselesaikan. Mengurai kemacetan dan mengatasi banjir.

Nah , dua persoalan utama ini segera diatasi oleh Anies Baswedan- Sandiaga Uno yang bakal dilantik pada 16 Oktober 2017. Sebenarnya banyak program Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat yang belum terealisasi dan diserahkan kepada Anies-Sandi untuk dilanjutkan.

Program itu seperti transportasi, normalisasi sungai, pengolahan sampah, penataan jalur pedestrian/trotoar, pengaturan ducting, serta penataan hunian. Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Triwisaksana berharap Anies-Sandi melakukan terobosan untuk mengatasi kemacetan dan banjir yang belum juga teratasi meski sudah bergantiganti kepemimpinan.

”Kita doakan dalam satu periode dua masalah utama di Jakarta teratasi,” ucap Sani, panggilan akrab Triwisaksana, kemarin.

Selama lima tahun kepemimpinan Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) yang diteruskan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan ditutup Djarot, penanganan kemacetan dan banjir selalu tidak konsisten. Misalnya, penghapusan kawasan 3 in 1 yang diganti sistem ganjil-genap.

Menurut Sani, sistem ganjil- genap tidak diawasi dengan baik, termasuk sterilisasi jalur bus Transjakarta (busway ). Kemudian, penerapan sistem jalan berbayar secara elektronik atau electronic road pricing (ERP) tidak terwujud.

Infrastruktur transportasi hanya selesai satu koridor dan pemilihan pembangunan Jalan Simpang Susun Semanggi di luar rencana. ”Harusnya bangun LRT daripada Semanggi misalnya. Janjinya kan ERP dan koridor bus sampai 15 koridor selesai pada 2017,” ungkap dia.

Penyebab utama lain yang menjadi kendala lambatnya penanganan kemacetan dan banjir yaitu kebijakan one man show . Semua kebijakan tidak melibatkan partisipasi publik sebagai pengguna terdepan dalam pembangunan.

Akibat itu, grand design Pola Transportasi Makro (PTM) tidak terwujud. Begitu juga dengan normalisasi sungai yang kerap mengorbankan warga untuk digusur. Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengakui banyak pekerjaan yang belum tuntas di antaranya kemacetan dan banjir.

”Saya yakin warga akan memberikan kontrol. Saya yakin apa yang sudah baik kita letakkan pasti akan dilanjutkan,” ujar dia di Balai Kota DKI Jakarta kemarin. Menurut Djarot, mengubah Ibu Kota butuh waktu 10-15 tahun dan tidak cukup satu periode. Apalagi bila pengerjaan tidak fokus, kegiatan di lapangan bisa menimbulkan masalah baru.

”Yang dikerjakan Pak Jokowi, Pak Ahok, dan saya, kami fokus membenahi persoalanpersoalan yang penting dan menjadi problem utama Jakarta,” kata mantan wali Kota Blitar itu.

Untuk mengatasi masalah transportasi, Jokowi yang menjabat gubernur DKI pada 2012 sudah melakukan groundbreaking proyek mass rapid transit (MRT) dan ini menjadi dasar sistem transportasi berbasis rel dan bus. Kemudian, dilanjutkan pembangunan light rail transit (LRT) oleh Ahok.

Pemprov DKI juga merevitalisasi sistem transportasi Jakarta berbasis bus dengan menyediakan bus standar internasional dan menggabungkan berbagai moda angkutan seperti Kopaja dan Metromini yang terintegrasi dengan Transjakarta sehingga warga permukiman terlayani.

Sekretaris Daerah DKI Jakarta Saefullah mengatakan sangat menantikan gebrakangebrakan dari kepemimpinan Anies-Sandi dalam mengatasi permasalahan Ibu Kota. Satu di antaranya banjir yang merupakan masalah warisan dari Djarot.

Selain banjir, kemacetan semakin parah juga menjadi pekerjaan rumah yang harus ditangani. ”Kami tunggu kebijakan dari gubernur terpilih,” ucap dia. Sementara itu, Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Periode 2017-2022 Anies Baswedan-Sandiaga Uno dalam sebuah kesempatan menyatakan bakal merealisasikan semua programnya dalam satu periode.

Terlebih program unggulan seperti menciptakan 200.000 lapangan pekerjaan, menurunkan harga kebutuhan pokok, serta meningkatkan mutu pendidikan. Sandi mengatakan, untuk merealisasikan berbagai program atau kebijakan akan melibatkan masyarakat.

”Kami menawarkan program ya untuk satu periode saja, ngapain nawarin program, tapi diselesaikan dua periode?” ujar dia. Dia menargetkan pembentukan usaha mikro kecil menengah (UMKM) 4.000-5.000 di setiap kecamatan melalui pengaktifan 44 pos pengembangan kewirausahaan atau yang disebut One Kecamatan One Center Entrepreneur Center (OK OCE).

Kemudian, dia tidak melepas begitu saja wirausaha yang sudah terbentuk. Sandi bersama Anies tetap melakukan mentoring dan pendampingan di tiap kecamatan. Anies menilai program OK OCE sangat menentukan keberhasilan program lain. Dari mentoring yang nanti menggandeng perusahaan swasta, konversi besar-besaran para pengusaha kecil menjadi pengusaha menengah hingga pengusaha besar akan terjadi.

Kesejahteraan pun bakal merata. ”Jika banyak wirausahawan yang berkembang, peningkatan kesejahteraan merata ke seluruh lapisan masyarakat di Jakarta, khususnya mereka yang berada di kelas ekonomi menengah ke bawah,” kata Anies.

Mantan menteri pendidikan dan kebudayaan itu juga akan mengoptimalkan pendidikan melalui Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus. Dengan demikian, seluruh anak di Jakarta mendapatkan pendidikan yang bermutu sama. ”Kalau sudah sejahtera, lalu pendidikan sama, harga kebutuhan pokok dapat dengan mudah diturunkan melalui percepatan infrastruktur,” ungkap dia.

bima setiyadi









Berita Lainnya...