Edisi 12-10-2017
Obesitas Anak Naik 10 Kali Lipat


LONDON – Kebanggaan sebagian orang tua yang meng anggap anaknya berbadan gemuk sebagai indikator berkembang baik dan sehat tak sepenuhnya benar.

Kelebihan berat badan anak yang tidak terkontrol justru dapat menyebabkan obesitas dan bisa memicu berbagai penyakit. Yang cukup mempriha tinkan, angka anakanak dan remaja yang mengalami obesitas didunia justru terus bertambah, bahkan kini meningkat 10 kali lipat dalam empat dekade lalu.

Peneliti anter baru Badan Kesehatan Dunia (WHO) menun jukkan terdapat sebanyak 124 juta anak dan remaja baik laki-laki maupun perempuan diseluruh dunia dianggap terlalu gemuk. Penelitian yang diterbitkan di Lancet ini atas kerja sama Ba dan Kesehatan Dunia (WHO) dan Imperial College London.

Data ini menunjukkan tren obesitas terjadi peningkatan di le bih dari 200 negara. Di Inggris saja satu dari setiap 10 anak dan remaja berusia lima hingga 19 tahun meng alami obesitas. Kajian itu juga mengungkap 2 miliar orang dewasa mengalami kelebihan berat badan, 671 juta orang meng alami obesitas.

Di Indonesia beberapa wak tu terakhir muncul kasus obesitas pada anak seperti dialami Arya Permana. Bocah berusia 10 tahun asal Desa Cipurwasari, Kecamatan Tegalwaru, Karawang, Jawa Barat ini bobotnya sudah mencapai 140 kg. Saat ini Arya masih tahap penurunan berat badan.

Rizki Rahmat Ra madhan, bocah asal Palembang, juga mengalami obesitas parah karena diusia 10 tahun bobotnya sudah mencapai 119 kg. Di Indonesia kasus obesitas parah di perkirakan banyak, namun tak dilaporkan. Anak-anak yang mengalami obesitas kemungkinan akan mengalami kegemukan pada saat dewasa.

Itu mengakibatkan mereka berisiko terkena permasalahan penyakit serius, termasuk diabetes tipe dua, serangan jantung, stroke, ginjal, dan kanker. "Lebih dari 40 tahun lalu, jumlah anak obesitas hanya 11 juta. Sekarang sudah meningkat 10 kali lipat mencapai 124 juta," ungkap Majid Ez zati, peneliti Sekolah Kesehat an Publik Imperial College, di lansir Al Jazeera.

Data WHO menunjukkan ham pir 8% anak laki-laki dan hampir 6% anak perempuan mengalami obesitas pada 2016. Peningkatan angka obesitas juga terlihat di negara berpendapatan menengah dan rendah.

Afrika Selatan, Mesir, dan Meksiko juga memiliki tingkat anak obesitas yang rendah pada empat dekade lalu. Namun, saat ini tiga negara tersebut memiliki tingkat obesitas terbanyak di kalangan gadis yang mencapai 20-25%.Sedangkan negara dengan tingkat obesitas tinggi adalah Eropa dan Amerika Utara.

“Ting kat obesitas yang tinggi terdapat di negara berpendapatan tinggi,” ujar dia. Namun, negara berkembang di Asia Ti mur, Amerika Lain, dan Kepulauan Karibia juga memiliki banyak anakanak yang mengalami obesitas. Jika tren tersebut terus berlanjut, pada 2022 tingkat obesitas pada anak-anak dan remaja akan semakin bertambah.

Penyebab utama kenaikan jum lah anak dan remaja obesitas adalah konsumsi makanan padat energi dan sajian cepat saji yang banyak disukai anak-anak. Makanan tersebut bisa menyebabkan kegemukan dan permasalahan kesehatan lain jika dikonsumsi berlebihan.

“Tren tersebut sangat mengkhawatirkan karena merefleksikan dampak pemasaranma kanan dan kebijakan global di seluruh dunia. Selain itu, makanan bernutrisi sehat juga sangat mahal bagi keluarga miskin,” ucap Ezzati. WHO memperkirakan jumlah anak yang mengalami kelebihan berat badan diperkirakan akan meningkat pesat pada 2020 jika tren global tersebut terus berlanjut.

“Temuan itu menunjukkan kalau obesitas merupakan krisis kesehatan global saat ini. Itu akan mengancam dan semakin memburuk dalam beberapa tahun mendatang jika kita tidak bertindak sekarang,” ungkap Koordinator Program untuk WHO Fiona Bull.

Menurut Fiona Bull, penyebab obesitas adalah anak-anak tidak mendapatkan aktivitas fisik di sekolah setiap hari. Kesempatan mendapatkan makanan juga sangat buruk disekolah. “Aktivitas bersepeda dan berjalan kaki menuju sekolah juga jarang dilakukan karena faktor keselamatan dan keamanan,” ungkap Bull.

Dia juga mengungkapkan perubahan lingkungan, makanan, pola perilaku, dan pola konsumsi berubah drastis dalam 40 tahun terakhir. “Makanan cepat saji lebih mudah tersedia, pemasaran lebih luas dan lebih murah,” ujar dia.

Peneliti obesitas Harry Rutter dari School of Hygiene and Tropical Medicine di London mengungkapkan, obesitas pada anak-anak merupakan permasalahan besar dan itu akan semakin memburuk. “Banyak orang mengalami kegemukan dibandingkan 10 tahun lalu,” kata dia. Itu menunjukkan bahwa manusia bukan semakin lemah, tetapi semakin malas dan tamak. “Realitas dunia di sekitar kita berubah,” ucap dia, dilansir Reuters.

Obesitas Picu Ginjal

Tidak hanya menjadi ancaman orang dewasa, faktanya penyakit ginjal juga berisiko diderita oleh anak-anak. Obe sitas menjadi salah satu faktor risikonya. Menurut data UNICEF yaitu World Children Report 2012, Indonesia menempati urut an pertama se-ASEAN dengan angka persentase anak yang mengidap obesitas yaitu 12,2%.

Bila dibandingkan dengan Malaysia, angka tersebut dua kali dari persentase anak yang mengidap obesitas di Malaysia, yaitu 6,0%. Angka tersebut tentu bukanlah angka yang meng gembirakan karena dengan tingginya tingkat obesitas pada anakanak dan remaja berarti secara tidak langsung akan meningkatkan angka potensi pengidap penyakit ginjal pada masa yang akan datang.

“Banyak sekali orang tua yang salah kaprah dengan kondisi kesehatan anak mereka. Mereka menilai sehat atau tidak anak tergantung dari gemuk atau tidak badan anak tersebut,” kata ahli ginjal anak FKUI/ RSCM Dr dr Sudung O Pardede SpA (K).

Kecenderungan saat ini adalah semakin mudanya usia penderita penyakit ginjal yang disebabkan masih kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan pentingnya membiasakan pola hidup sehat dan deteksi dini penyakit ginjal pada anak.

Sementara itu, dr Dhar meizar SpPD-KGH mengatakan, prevalensi penyakit ginjal kronik (PGK) di Indonesia hampir sama dengan negara-negara ASEAN. Namun, oleh karena jumlah penduduk di Indonesia 250 juta jiwa, jumlah pasien dengan PGK menjadi besar.

Beberapa kondisi dihubungkan sebagai penyebab dari PGK di antaranya darah tinggi dan diabetes. WHO pun menyarankan pajak dan aturan tegas dalam mengurangi makanan cepat saji.

Mereka meminta agar pajak gula diterapkan dengan ta rif mencapai 20%. Itu di tu ju kan agar konsumsi minuman manis bisa berkurang. Sayang nya, saat ini hanya sekitar 20 negara yang menerapkan pajak gula pada minuman manis.

andika hendra m/ sri noviarni

Berita Lainnya...