Edisi 12-10-2017
PBB Minta Suu Kyi Hentikan Kekerasan


JENEWA – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meminta pemimpin nasional Myanmar Aung San Suu Kyi untuk menghentikan kekerasan dan diskriminasi terhadap warga etnis minoritas Rohingya.

Lebih dari setengah juta warga Rohingya telah mengungsi sejak akhir Agustus silam ke perbatasan Bangladesh. Pergerakan pengungsi itu justru tidak menunjukkan penurunan, tetapi meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

”Kita meminta Aung San Suu Kyi untuk menghentikan kekerasan,” ujar Kepala Kantor Hak Asasi Manusia (HAM) PBB wilayah Asia dan Pasifik Jyoti Sanghera, dilansir Reuters kemarin. Dia menyuarakan bahwa warga Rohingya yang melarikan keBangladesh karena mengalami penyiksaan dan diancam akan dibunuh.

”Warga Rohingya juga tidak memiliki hak kewarganegaraan serta hak sipil dan politik lainnya,” tuturnya. Krisis Rohingya memang menjadi tekanan berat terhadap Suu Kyi dan partainya. Apalagi, partainya tidak mengusung satu pun kandidat anggota parlemen dari kubu muslim pada pemilu 2015.

Rohingya juga bukan diklasifikasikan etnis minoritas di Myanmar dan mereka juga tidak mendapatkan kewarganegaraan. Komisi HAM PBB juga menuding militer Myanmar melakukan serangan yang terorganisasi, terkoordinasi, dan sistematis untuk mencegah pengungsi Rohingya kembali ke kampung halamannya.

PBB menyatakan, berdasarkan laporan warga Rohingya, tentara Myanmar melakukan pembunuhan, penyiksaan, dan pemerkosaan terhadap anakanak Rohingya. ”Informasi kredibel mengindikasikan pasukan Myanmar merusak properti warga Rohingya untuk mencegah mereka kembali ke rumah mereka,” demikian ungkap komisi HAM PBB.

Bahkan, kekejaman tentara Myanmar tersebut termasuk membakar ladang, sawah, dan peternakan milik warga Rohingya. Militer Myanmar juga menanam ranjau darat di sepanjang perbatasan untuk mencegah warga Rohingya kembali ke rumah mereka. ”Indikasi kekerasan hingga kini masihterusterjadi,” ungkapPBB.

Laporan Komisi HAM PBB itu berdasarkan wawancara mendalam dengan 65 warga Rohingya yang tiba di Bangladesh bulan lalu. Tim yang terdiri atas para pejabat Komisi HAM PBB juga mengungkapkan bahwa banyak testimoni pengungsi Rohingya menunjukkan banyak orang yang ditembak dari jarak pendek dan dari belakang saat mereka melarikan diri.

”Para saksi mata juga menyaksikan, banyak anak-anak dan manula yang sengaja dibakar hidup-hidup di dalam rumah mereka,” demikian laporan Komisi HAM PBB. Tentara Myanmar juga bertindak sangat kejam. Komisi HAM PBB menyatakan, banyak anak perempuan berusia lima hingga tujuh tahun diperkosa di depan anggota keluarga mereka.

Pemerkosa itu adalah orang yang berseragam militer. Itu sebagai intimidasi tentara Myanmar agar warga Rohingya meninggalkan tanah kelahiran dan tidak kembali lagi. Sementara itu, Noor, bocah perempuan berusia 10 tahun, menceritakan apa yang terjadi terhadap keluarganya.

”Tentara menyerang kami dan membakar rumah kami. Dua lelaki menggunakan masker mengancam akan membunuh kami sekeluarga. Saya langsung berlari. Banyak orang meninggal di mana-mana,” ujar Noor sambil berkaca-kaca. Noor bisa selamat karena bersembunyi di balik jenazah.

Ibunya juga meninggal dunia ditembak tentara Myanmar. ”Semua yang saya inginkan adalah melupakan semua itu dan bisa pergi ke sekolah,” tutur Noor. Noor merupakan satu dari ribuan anak-anak Rohingya yang mengalami penderitaan serupa.

Di rumah sakit Cox’s Bazar, banyak pasien mengalami depresi. Mereka kerap duduk sendiri dan berteriak karena trauma yang mereka alami. ”Saya mengetahui semua pasien saya. Saya mendengarkan semua keluhan dan penderitaan mereka,” ujar perawat senior Sakiba.

Dia mengungkapkan, banyak pasien mengalami luka bakar dan tembak. Banyak pasien Rohingya bersembunyi selama beberapa hari di hutan sebelum berhasil melarikan diri ke Bangladesh. ”Banyak luka infeksi, tetapi mereka berhasil selamat dalam kondisi yang sulit.

Banyak pasien yang mengalami patah tulang,” tutur Nazia, dokter di rumah sakit Cox’s Bazar. Dia berusaha merawat pasien Rohingya sebaik-baiknya. Kemudian, Halima Katu, warga Rohingya berusia 70 tahun, juga menjadi korban kekerasan tentara Rohingya.

Dia menceritakan, prajurit Myanmar membakar kaki saya. ”Mereka juga menyiksa saya,” ujar Halima. Dia menceritakan, bisa tiba di Bangladesh karena digendong oleh seorang pria yang tak dikenalnya. Sementara itu, Bangladesh dan PBB meningkatkan kewaspadaan seiring dengan peningkatan pergerakan pengungsi Rohingya.

Pasukan penjaga perbatasan Bangladesh melaporkan lebih dari 11.000 pengungsi Rohingya melintasi perbatasan dari Myanmar setiap harinya. Itu diperkirakan akan terus terjadi dalam beberapa pekan mendatang. Padahal, pekan lalu jumlah pergerakan pengungsi hanya 2.000 orang per hari.

andika hendra m








Berita Lainnya...