Edisi 12-10-2017
Spanyol Siapkan Reformasi Konstitusi


MADRID – Perdana Menteri (PM) Spanyol Mariano Rajoy kemarin mengambil langkah pertama untuk mengaktifkan Pasal 155 Konstitusi Spanyol.

Pasal tersebut memberi wewenang kepada PM Spanyol untuk mencabut otonomi politik Catalonia danmengambilalihwilayah tersebut. “Kabinet telah sepakat untuk secara formal mengonfirmasi pemerintahan Catalan, apakah mereka mendeklarasikan kemerdekaan atau tidak,” ungkap Rajoy saat pidato yang disiarkan langsung kemarin.

“Jawaban dari presiden Catalan akan menentukan masa depan berbagai hal, dalam beberapa hari mendatang,” kata Rajoy, dikutip kantor berita Reuters. Rajoy menyatakan, dirinya akan bertindak hati-hati dan bertanggung jawab. Syarat formal ini diperlukan untuk melaksanakan Pasal 155 tersebut.

Meski demikian, tidak ada batas waktu khusus untuk mendapatkan jawaban dari Catalonia. Pemimpin oposisi Spanyol dari Sosialis Pedro Sanchez juga sepakat dengan PM Rajoy untuk meluncurkan reformasi konstitusi yang akan mengubah pengelolaan wilayah-wilayah otonom di Spanyol, termasuk Catalonia.

Sanchez dan Rajoy sepakat bahwa satu komite akan mempelajari sistem otonomi regional saat ini selama enam bulan mendatang. “Setelah itu, parlemen Spanyol akan membahas reformasi konstitusi,” ujar Sanchez.

Dia juga mendukung permintaanRajoybahwapemimpin Catalan Carles Puigdemont mengklarifikasi, apakah dia tetap mendeklarasikan kemerdekaan dari Spanyol. Sanchez menegaskan, dia akan mendukung langkah konstitusional yang akan diambil pemerintah Spanyol jika Puigdemont gagal memberikan jawaban atau dia mendeklarasikankemerdekaan.

Situasi pun membingungkan pada Selasa (10/10) malam saat Pemimpin Catalan Carles Puigdemont secara simbolis mendeklarasikan kemerdekaan dari Spanyol, tapi kemudian segera menundanya untuk berunding dengan pemerintah Spanyol.

Deklarasi itu sudah ditunggu para pendukung kemerdekaan setelah hasil referendum 1 Oktober menunjukkan 90% pemilih menginginkan Catalan merdeka dari Spanyol. Spanyol menganggap referendum itu ilegal dan warga Catalonia yang menolak kemerdekaan, memboikot referendum itu.

Pemerintah Spanyol menganggap Catalonia tidak dapat bertindak berdasarkan hasil referendum tersebut. “Puigdemont atau siapa pun dapat mengklaim, tanpa berdasar legalitas dan demokrasi, untuk melakukan mediasi.

Dialog antara para demokrat dilakukan sesuai hukum,” ungkap Deputi PM Spanyol Soraya Saenz de Santamaria. Pidato Puigdemont juga mengecewakan para pendukung kemerdekaan.

Ribuan orang yang telah menunggu di depan layar raksasa di luar gedung parlemen pun pulang ke rumah dengan sedih setelah mendengar pidato deklarasi Puigdemont. Pasar keuangan merespons positif pidato itu karena deklarasi kemerdekaan dapat dihindari.

Sikap Puigdemont itu tampaknya untuk menghindari risiko jangka pendek konfrontasi antara pemerintahan Catalan dan Madrid. Meski demikian, media Spanyol melaporkan, Rajoy tetap dapat mengambil langkah tegas, termasuk menghentikan otonomi Catalonia dan menggelar pemilu regional baru.

Pemerintah Catalan menyatakan, jika Madrid mengambil langkah dengan menggunakan Pasal 155, wilayah itu akan semakin mantap mendeklarasikan kemerdekaan. “Jika pemerintah menerapkan Pasal 155, itu berarti tidak ada keinginan dialog dan tentu kami akan konsisten dengan komitmen kami kepada rakyat Catalonia,” ungkap juru bicara pemerintah Catalan Jordi Turull kepada Catalunya Radio.

“Kami telah meluangkan waktu, yang tidak berarti langkah mundur atau menolak dan semacamnya,” paparnya. Beberapa pengamat mengatakan, sikap Puigdemont akan memperpanjang ketidakpastian dan risiko bagi Catalan. Sikap itu juga dapat mengguncang pemerintahan Catalan.

Partai sayap kiri jauh yang pro-kemerdekaan, Popular Unity Candidacy (CUP) menyatakan, Puigdemont mungkin telah melewatkan peluang sejarah. Langkah Puigdemont memberinya waktu satu bulan untuk negosiasi dengan pemerintah Spanyol.

Meski demikian, CUP meragukan hasil negosiasi akan menguntungkan Catalonia. “Anda katakan kita menunda dampak karena kita bernegosiasi dan mediasi. Negosiasi dan mediasi dengan siapa? Dengan negara Spanyol yang terus melecehkan dan menganiaya kita?” kata Pemimpin CUP Anna Gabriel.

syarifudin








Berita Lainnya...