Edisi 12-10-2017
Thailand Bersiap Melepas Raja Bhumibol Adulyadej


Thailand memberikan sentuhan akhir untuk upacara pemakaman Raja Bhumibol Adulyadej yang akan digelar secara mewah selama lima hari.

Raja Bhumibol Adulyadej sangat dicintai rakyatnya dan telah turut membentuk negara itu selama beberapa dekade setelah Perang Dunia II. Ratusan ribu orang yang berpakaian hitam akan mendirikan tenda selama beberapa hari dekat Grand Palace, Bangkok, agar dapat menempati posisi terbaik untuk mengikuti upacara tersebut.

Upacara itu akan dijaga 78.000 personel kepolisian dan mencapai puncak pada Kamis (26/10) saat jasad raja dikremasi. “Oktober adalah masa sedih. Saya meminta para politisi dan partai politik bersikap damai dan tertib,” ungkap Perdana Menteri (PM) Thailand Prayuth Chan-ocha yang mengumumkan rencana untuk pemilu nasional tahun depan.

Para seniman telah bekerja selama sepuluh bulan di lapangan kuno Bangkok untuk membangun lokasi kremasi yang menggambarkan keindahan surga. Rakyat Thailand yakin, para raja yang meninggal dunia akan kembali hidup di atas Gunung Meru, yakni gunung emas dalam mitologi Hindu.

Pemakaman Raja Bhumibol yang meninggal pada 13 Oktober tahun lalu itu juga menjadi saat yang tidak pasti bagi sebagian rakyat Thailand. “Dalam banyak hal, raja adalah Thailand dan kematiannya meninggalkan kekosongan besar dalam psikologis rakyat Thailand,” ungkap pengamat yang menyoroti berbagai gejolak sosial dan politik yang terjadi selama beberapa dekade terakhir di Thailand.

“Apa yang terjadi setelah pemakamannya? Ke mana Thailand akan menuju? Ada berbagai pertanyaan besar yang harus dijawab,” papar pengamat yang menolak disebutkan namanya itu karena masalah tersebut sangat sensitif di Thailand.

Mendiang raja itu digantikan putranya, Raja Maha Vajiralongkorn atau Rama X yang telah melakukan berbagai perubahan dalam pengelolaan kerajaan, termasuk mengelola keuangan istana.

“Meski berpijak pada berbagai tradisi kuno, pemakaman Raja Bhumibol akan melibatkan lebih banyak partisipasi publik dibandingkan upacara serupa pada raja-raja sebelumnya,” kata pakar kerajaan Thailand Tongthong Chandransu kepada kantor berita Reuters.

SYARIFUDIN




Berita Lainnya...