Edisi 12-10-2017
Banyak Utilitas Jadi Kendala Proyek MRT


JAKARTA - Proyek pembangunan mass rapid transit (MRT) fase I (Bundaran HILebak Bulus) terkendala banyaknya jaringan utilitas persisnya pada bagian pintu masuk (entrance ) kiri dan kanan stasiun underground .

Utilitas tersebut seperti kabel telekomunikasi, drainase, pipa gas, kabel listrik, dan air. ”Caranya bisa cukup dengan digeser saja. Kalau berdampak (risikonya) sangat besar, berarti kita harus relokasi atau pindah lajur.

Baru kita bisa lakukan konstruksi,” ujar Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim saat Fellowship Programme MRT di Kantor PT MRT, Wisma Nusantara, Jakarta, kemarin. Lamanya pembangunan konstruksi MRT fase I ini disebabkan prosedur yang harus ditempuh untuk memindahkan utilitas.

Proses pemindahan utilitas membutuhkan 3-6 bulan sehingga dapat menghambat kelancaran pembangunan. ”Setelah itu, baru kita bisa mulai kegiatan konstruksi. Jadi memang kendala utama untuk pembangunan di underground,” ucapnya.

Menurut Silvia, ada juga situasi di mana proses pembangunan tidak harus lewat bawah tetapi di atas utilitas. ”Itu kita harus bikin support (konstruksinya) dulu. Bisa dilihat di lokasi saat proses pembangunan, ada beberapa utilitas yang digantung dan kita membangun di bawahnya, kemudian setelah kita selesai kerja di bawah kita back field .

Di situ bisa kita pindahkan,” ujarnya. Saat ini PT MRT berusaha mempercepat penyelesaian MRT Bundaran HI-Lebak Bulus sepanjang 16 km. Hingga saat ini progres pembangunan per 30 September 2017, secara keseluruhan konstruksi fase sudah mencapai 80,15% dengan rincian elevated (layang) 70,16%, underground 90,22%.

”Saat ini dalam tahap pemasangan rel. Untuk fase I dibutuhkan sekitar 3.585 batang dengan panjang per batang 20- 25 meter. Yang pasti secara keseluruhan, terhitung sejak 25 September 2017 baru 3,84% dari total panjang rel 35.365 meter. Jumlahrelterpasangsaat inisekitar1.360meter,” jelasnya.

Untuk MRT fase II Bundaran HI-Kampung Bandan, PT MRT belum mengetahui sejauh mana tingkat kesulitan atau kendala proses pembangunan seperti pengalaman yang terjadi pada fase I. ”Kita belum lihat BED (basic engineering design ).

Untuk data detail seperti itu belum jelas atau belum ada, karena fase II baru mulai dikerjakan BED-nya oleh Jakarta Konsultindo selama 30 bulan per27 November,” ujar Silvia.

Meski demikian, berdasarkan feasibility study (uji kelayakan), fase II sepanjang 8,3 km yang meliputi delapan stasiun (Bundaran HI, Sarinah, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok Kota, dan Kampung Bandan) tingkat kesulitannya lebih tinggi dibandingkan MRT Bundaran HI-Lebak Bulus.

Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, MRT fase II akan dibangun jalur bawah tanah dari Bundaran HI hingga Kampung Bandan. ”Kami juga sedang menyiapkan aspek operasional seperti rekrutmen karyawan untuk berbagai posisi, seperti masinis, staf stasiun dan depo, hingga benchmarking keberbagai operator kelas dunia,” ujarnya.

Kehadiran MRT tak sekadar instrumen untuk membantu mengurai kemacetan Ibu Kota, tapi juga membawa perubahan transportasi yang mengintegrasikan gaya hidup dan mobilitas sekitar 10 juta jiwa penduduk dan satu juta komuter setiap harinya.

”Dengan mandat beroperasi sesuai standar internasional yang memberikan kenyamanan, keamanan, dan dapat diandalkan, MRT berupaya agar masyarakat mau beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik,” katanya. Jarak kedatangan antarkereta MRT nantinya sekitar lima menit, sehingga warga pengguna MRT tak perlu repot menunggu lama.

haryudi



Berita Lainnya...