Edisi 12-10-2017
Berdayakan Ekonomi Warga Melalui Budi Daya Tanaman Hortikultura


Wajah Suleman, warga Desa Sonraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), tampak sumringah.

Dia begitu gembira menyaksikan Wakil Gubernur NTT Benny Aleksander Litelnoni dan Direktur PT Astra International Tbk Paulus Widjanarko melangkah ke kebun dan memetik sayur organik hasil olahan warga Desa Sonraen. Panen kebun sayur milik warga Desa Sonraen itu merupakan satu dari sekian banyak acara dalam festival Kampung Berseri Astra (KBA) yang diselenggarakan di depan lapangan dan halaman sekolah SDN Sonraen, pada Senin (9/10) itu. Bagi Suleman, rasa gembira tersebut tidak hanya karena dirinya menyaksikan orang nomor dua di NTT dan petingi PT Astra International itu memetik tomat, cabe, dan terong di lahan seluas kurang dari seperempat lapangan sepak bola.

Lebih dari itu, Suleman merasakan dirinya dan warga Desa Sonraen umumnya sudah memiliki keahlian dalam mengelola tanaman hortikultura. ”Kalau sebelumnya kami tanam saja di tanah yang basah, hasilnya kurang bagus. Tapi dengan pendampingan oleh tim penyuluhan dari Dinas Pertanian, kami diajarkan bagaimana menanam sayur organik yang baik,” papar Suleman. Desa Sonraen termasuk wilayah yang tidak terlalu kering jika dibanding dengan desa lainnya. Penghasilan utama warga yang bisa mendatangkan uang di desa ini antara lain kelapa, pisang, pinang, dan kemiri.

Dengan pelatihan cara menanam sayur yang benar, selama setahun terakhir, Suleman dan warga Desa Sonraen kini bisa mengolah sayur di lahan sendiri untuk keperluan rumah tangga dan selebihnya dijual ke pasar. Warga kini memiliki sumber pendapatan baru. Apalagi, lanjutnya, pihak Astra juga menyediakan sumur bor di beberapa titik yang menambah penyediaan air untuk keperluan menanam sayur. ”Selain untuk konsumsi sendiri, kami juga bisa jual ke pasar untuk menambah pendapatan,” tambahnya.

Hal serupa juga diungkapkan Junus, lelaki yang sudah purnabakti dua tahun lalu dari SDN Sonraen. Menurut dia, warga Desa Sonraen kini sadar bahwa belajar menanam sayur itu suatu keharusan. Sebab, cara berkebun sayur sebelumnya hanya mengikuti pola tradisional yang hasilnya sangat minim. ”Dengan adanya penyuluhan yang disertai dengan kebun contoh sebagai tempat praktik, warga semakin paham cara menanam sayur organik. Penyuluhan penanaman sayur organik merupakan bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) Grup Astra di NTT.

Pada festival KBA, selain panen sayur juga digelar berbagai atraksi budaya seperti tarian dan permainan tradisional gasing dan enggrang yang dibawakan oleh anak-anak SD Sonrean. Festival Kampung Berseri Astra Sonraen itu merupakan yang pertama kalinya diadakan di NTT sejak Astra —melalui Yayasan Pendidikan Astra- Michael D Ruslim (YPA-MDR), pada 2015— menetapkan Desa Sonraen sebagai daerah binaan baru di NTT. Direktur Astra International Paulus Widjanarko berharap, suatu saat warga Sonraen akan benar-benar menjadi warga yang selalu berseri.

Kalaupun sekarang sudah kelihatan berseri, itu belum sepenuhnya. Sebab, proses menuju kesejahteraan itu tidak bisa instan atau mendadak. Selain diperlukan kerja keras, juga dibutuhkan tekad yang kuat untuk mencapai kesejahteraan. ”Karena itu, kami ke sini tidak membawa uang, tapi ingin membagi spirit, melayani dengan hati. Kami sadar, kami terbatas dalam hal pengetahuan. Karena itu, kami melibatkan banyak pihak yang memiliki ilmu untuk membagi ilmunya,” kata Paulus.

Wakil Gubernur NTT Benny Aleksander Litelnoni menegaskan agar warga menyambut dengan penuh semangat program yang diluncurkan Astra. Menurut dia, apa yang dilakukan Astra sifatnya untuk menggerakkan kesadaran masyarakat. Yang bisa mengubah kemiskinan itu utamanya diri sendiri.

Donatus Nador
Kupang