Edisi 12-10-2017
Jadikan Pijat Sebagai Rutinitas


PEMIJATAN pada bayi tidak hanya menguatkan jalinan kasih antara ibu dan anak atau membuat anak merasa nyaman. Lebih dari itu, dr Fitri Hartanto SpA(K) mengatakan, bayi yang sering dipijat bisa terhindar dari ancaman beberapa penyakit.

“Pijatan mempunyai dampak jangka panjang. Setelah dipijat, berat badan naik dan ikatan batin anak dengan orang tua akan berdampak baik dan panjang,” ujar dr Fitri. Memijat bayi rupanya juga berdampak positif terhadap kesehatan saluran cerna bayi dan pernapasannya. Rutin memijat bayi juga berimbas baik pada kesehatan mental sang bayi, di mana dia memiliki emosi yang baik. Maka itu, dr Fitri menyarankan agar orang tua menjadikan kegiatan memijat bayi sebagai rutinitas. Sebab, dampaknya amat baik bagi kesehatan fisik maupun mental anak.

Sri Hastuti Kumaladewi, Head of Professional Marketing Johnson's Baby® menambahkan, pihaknya di Johnson's Baby® selalu mendengarkan kebutuhan orang tua di seluruh dunia. “Melalui riset dan ilmu pengetahuan, kami bekerja sama dengan para dokter dan ahli kesehatan lainnya untuk terus berinovasi demi memberikan yang terbaik dan memastikan agar kebutuhan bayi dapat terpenuhi,” bebernya dalam acara Pemecahan Rekor Dunia Guinness World Record untuk Pelatihan Stimulasi Pijat Bayi Terbesar dengan lebih dari 600 bidan oleh Johnson and Johnson Indonesia di Jakarta.

Pengembangan modul pelatihan stimulasi pijat bayi merupakan salah satu persembahan pihaknya. Dia mengatakan, komitmen Johnson's Baby® dalam memberikan edukasi mengenai pentingnya sentuhan penuh kasih sayang melalui stimulasi pijat bayi telah berlangsung sejak lama. Di mana, pada 2010 UKK Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial dari IDAI dan Johnson's Baby® telah mengembangkan modul pelatihan stimulasi pijat bayi yang secara resmi diluncurkan pada 2013 dan dihadiri komite serta anggota UKK Tumbuh Kembang- Pediatri Sosial dari IDAI.

Teknik pemijatan bayi ini juga telah diverifikasi secara ilmiah dan merupakan satu-satunya teknik pemijatan bayi yang disahkan secara resmi oleh UKK Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial dari IDAI. Teknik ini pun digunakan sebagai materi edukasi utama saat workshop Pra-Konika (Kongres Nasional Pediatrik) di Palembang, Sumatera Selatan, pada 2014.

(sri noviarni)