Edisi 12-10-2017
Dampak Fisik dan Psikis Perkawinan di Bawah Umur


SEKITAR 1.000 anak perempuan di bawah umur menikah setiap hari di Indonesia. Perkawinan tersebut membawa dampak buruk bagi anak perempuan, mulai gangguan kesehatan dan reproduksi, gizi buruk, gangguan psikologis, risiko kekerasan dalam rumah tangga, terhentinya pendidikan, hingga kurangnya kesejahteraan.

Jika perkawinan dini terus berlanjut, akan berpengaruh pada bonus demografi usia produktif sehingga berdampak pada terhambatnya pertumbuhan sosial dan ekonomi. Demikian beberapa kesimpulan dalam acara yang diadakan Plan International bertema “Cegah Perkawinan Anak guna Wujudkan Generasi Produktif”. “Secara global, kehamilan merupakan penyebab utama kematian anak perempuan usia 15-19 tahun. Ancaman kesehatan yang berakibat fatal ini terjadi karena remaja perempuan di bawah usia 18 tahun belum memiliki kesiapan fisik yang prima, baik stamina jantung, tekanan darah, ataupun organ reproduksinya,” ungkap Dr dr Julianto Witjaksono SpOG (KFER) MGO.

Berangkat dari kenyataan ini, Plan International Indonesia bermaksud memutus rantai dan mencegah perkawinan anak melalui berbagai inisiatif dengan membangun aliansi maupun kemitraan dengan berbagai pihak. “Pada 2009 Plan International Indonesia mengisi ISSI pembentukan Komite Perlindungan Anak Desa (KPAD) di 31 desa dan kini telah berkembang di lebih dari 900 desa di Indonesia karena perkawinan anak salah satu bentuk kekerasan terhadap anak,” ujar Amrullah, Child Marriage Program Manager Plan International Indonesia. Diketahui, ada beberapa penyebab yang mendorong terjadinya perkawinan anak di bawah umur di Indonesia, seperti pendidikan, budaya, status ekonomi.

“Jika perkawinan anak terus berlanjut, akan berpengaruh pada bonus demografi usia produktif sehingga berdampak pada terhambatnya pertumbuhan sosial dan ekonomi. Bonus demografi usia produktif di Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas mencapai 70%,” papar Rohima Kurniadi, Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak Atas Pengasuhan, Keluarga, dan Lingkungan di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. Hal ini dapat mempercepat roda pertumbuhan ekonomi saat generasi muda memiliki kualitas yang baik secara pendidikan, pekerjaan, dan kesehatan.

Untuk itu, peran serta berbagai pihak, baik pemerintah, masyarakat, organisasi, maupun anak itu sendiri memiliki peranan penting dalam mencegah terjadinya perkawinan anak. Tidak hanya di pedesaan, tren pernikahan anak juga marak di ibu kota. Menurut dr Julianto, hal ini disebabkan lemahnya perhatian orang tua sehingga anak terjerumus dalam pergaulan bebas yang menyebabkan kehamilan hingga akhirnya keluarga memutuskan untuk menikahkan mereka.

Sri noviarni