Edisi 12-10-2017
KGPH Hadiwonoto Didesak Jadi HB XI


YOGYAKARTA – Sejumlah tokoh dan elemen masyarakat mendesak ahli waris almarhum Sultan Hamengku Bowono (HB) IX segera mengangkat dan menetapkan Lurah Pangeran Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hadiwonoto sebagai Sultan Hamengku Buwono XI.

KGPH Hadiwonoto adalah adik kandung Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X. Kemarin siang, elemen masyarakat yang menamakan diri sebagai Majelis Permufakatan Rakyat (MPR) menyerahkan maklumat “Selamatkan Dinasti Hamengku Buwono” kepada ahli waris Sultan HB IX.

Penyerahan maklumat dilakukan KH Abdul Muhaimin, tokoh ulama DIY yang juga Ketua MPR DIY kepada putra HB IX Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Cakraningrat di Dalem Yudhanegaran, Jalan Ibu Ruswo Yogyakarta. Dalem Yudhanegaran ini adalah tempat tinggal GBPH Yudhaningrat.

Diketahui, baik Cakraningrat maupun Yudhaningrat ini merupakan adik lain ibu dari Raja Yogyakarta Sri Sultan HB X. “Kami bersama sejumlah elemen masyarakat hari ini menyampaikan aspirasi demi kelestarian Keraton Yogyakarta,” kata Ketua MPR DIY KH Abdul Muhaimin didampingi sejumlah elemen masyarakat yang selama ini sering menyuarakan perlawanan terhadap wacana raja perempuan.

Dalam maklumat yang ditandatangani Abdul Muhaimin sebagai ketua MPR, Sekjen MPR Adjie Bantjono, Ketua Forum LSM DIY Benny Susanto, dan abdi dalem Keraton Yogyakarta KMT Condropurnomo ini menyampaikan tiga hal pokok dalam aspirasinya, yakni meminta ahli waris almarhum HB IX menyelamatkan dinasti Sultan Hamengku Buwono sebagai pemangku adat budaya tata kehidupan masyarakat Yogyakarta dan mengumumkan Paugeran Adat Kasultanan Yogyakarta sesuai amanat UU No 13/2012 tentang Keistimewaan DIY.

“Serta mengangkat dan menetapkan Lurah Pangeran KGPH Hadiwinoto sebagai Sultan Hamengku Buwono XI,” kata Abdul Muhaimin.

Penerus Tahta Harus Punya Anak Laki-laki

Kepada wartawan, GBPH Cakraningrat mengaku akan menyampaikan aspirasi ini kepada keluarga yang lain untuk dimusyawarahkan. Sejauh ini belum ada pertemuan khusus membicarakan tentang suksesi Raja Yogyakarta. “Saya akan berkoordinasi dengan Kangmas yang lain, karena segala sesuatu harus dibicarakan bersama agar mendapatkan suara yang bulat,” katanya.

Lebih jauh Cakraningrat menyebutkan, sebenarnya nama pengganti HB X sudah mengerucut di antaranya memiliki sejumlah kriteria harus sudah dikenal masyarakat dan memiliki anak laki-laki. Dirinya dan kerabat yang tidak punya anak laki-laki seyogianya hanya mendukung saja.

Ini semua demi menghindari polemik yang terjadi saat ini karena raja yang bertakhta tidak mempunyai penerus laki-laki. “Seperti saya dan Kangmas Yudho (yang tidak punya anak laki-laki) harusnya hanya nyengkuyung, karena bisa saja kejadian seperti ini lagi. (Kejadian seperti ini) harus dihindari.

Jadi (penerus tahta) harus yang punya anak laki-laki,” katanya. Seperti diketahui, Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X sampai saat ini tidak memiliki anak laki-laki. Lima anaknya semua perempuan. Polemik muncul karena wacana penerus takhta adalah putri sulung HB X.

Wacana ini makin menguat manakala keraton memutuskan perubahan nama putri sulung HB X dari GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi. Raja Yogyakarta juga mengubah gelar yang oleh sejumlah pihak dianggap demi memuluskan anaknya naik takhta.

Polemik makin menghangat ketika Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan uji materi UU No 13/ 2012 tentang Keistimewaan DIY Pasal 18 ayat (1) huruf m. Ketentuan Pasal 18 ayat (1) huruf m yang dianggap membatasi perempuan menjadi Gubernur DIY dicabut MK.

ainun najib