Edisi 12-10-2017
Takut, Senang hingga Jadi Tempat Asyik Berfoto


Tangan Jiati, 51, berpegangan erat di kedua besi panjang berwarna keemasan yang menjadi pagar jembatan. Kakinya melangkah dengan diseret tanpa berani mengangkat telapak kakinya dari lantai kaca.

“Wah, saya takut, kelihatan sungainya. Tapi menyenangkan, pemandangannya bagus,” ujar perempuan asal Kesamben, Kabupaten Blitar, sambil tersenyum menyelesaikan perjalanannya melintasi jembatan kaca sepanjang 25 meter yang membentang di atas Sungai Brantas.

Jiati sengaja datang berwisata ke Kampung Wisata Warna-warni (KWW) di Kelurahan Jodipan dan Kampung Tiga Dimensi (Tridi) di Kelurahan Kesatrian, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

Menempuh jarak sekitar 70 km dari desanya di Kabupaten Blitar, Jiati bersama suami, ketiga anaknya, dan seorang cucunya, ingin menikmati sore dengan pemandangan penuh warna di kampung wisata yang sejak beberapa hari lalu telah dilengkapi dengan wahana jembatan kaca.

Ekspresi berbeda ditunjukkan Diana, 24. Warga Kepanjen, Kabupaten Malang, itu tampak ceria melintasi jembatan kaca. Beberapa kali ia berhenti di tepi jembatan untuk melakukan berswafoto. “Bagus-bagus tempatnya untuk berfoto. Ini langsung saya unggah di Facebook dan Instagram,” ujarnya.

Anak-anak juga terlihat banyak yang berlarian melintasi jembatan dengan ceria. Mereka begitu menikmati hadirnya jembatan setinggi 9,5 meter dari permukaan air sungai. Jembatan kaca yang diberi nama Jembatan Ngalam Indonesia tersebut kini menjadi ikon baru bagi kota wisata, kota pendidikan, dan kota industri ini.

Bahkan, jembatan ini diklaim menjadi jembatan kaca pertama di Indonesia. Jembatan kaca ini merupakan hasil karya dari dua mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Khairul Ahmad dan Mahatma Aji Pangestu dengan bimbingan dosen Jurusan Teknik Sipil UMM Lukito Prasetyo.

Dia mengaku proses membuat desain jembatan memakan waktu sekitar satu pekan saja. Setelah itu, proses pengerjaannya memakan waktu selama empat bulan. “Jembatan ini didesain dengan kemampuan menampung 50 orang. Lebar efektif jembatan mencapai 1,25 meter,” ujarnya.

Seluruh desainnya dibuat sendiri. Termasuk memberikan kesan tegas dan anggun pada jembatan dengan menambahkan tower setinggi 7 meter di salah satu sisi jembatan yang juga berfungsi sebagai tambatan kabel baja penguat jembatan. Kaca yang digunakan untuk lantai jembatan memiliki ketebalan 2,4 sentimeter (cm).

Memiliki kekuatan menahan beban hingga 300 kg/m2 atau setara dengan menahan beban 4 orang/m2. Wali Kota Malang M Anton mengaku pembangunan jembatan kaca tersebut dibiayai dari dana corporate social responsibility (CSR) PT Inti Dayaguna Aneka Warna.

Produsen cat ini sebelumnya telah menyalurkan CSR-nya untuk pengecatan kampung wisata. Kehadiran jembatan kaca ini diharapkan dapat menambah keindahan dua kampung wisata itu.

Sementara pimpinan PT Inti Dayaguna Aneka Warna Steven A Sugiharto mengatakan, keseluruhan jembatan kaca akan selesai dibangun pada tiga bulan mendatang dan akan dihibahkan kepada Pemkot Malang.

YUSWANTORO

Malang