Edisi 12-10-2017
Triwulan Ketiga Inflasi Sumut 1,82%


MEDAN - Memasuki triwulan ketiga 2017 tingkat inflasi di Sumut mencapai 1,82%. Angka ini masih di bawah rata-rata nasional yang mencapai 2,66%.

Begitu pun, diharapkan tingkat inflasihinggaakhirtahundapat terkontrol dengan baik. Jadi, dibutuhkan pengendalian, terutama pada sektor penyumbang terbesar laju inflasi.

Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi mengatakan hal ini dalam rapat koordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) se-Sumut yang digelar di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumut, Rabu (11/10).

Erry meminta tim harus benar-benar mampu mengendalikan inflasi, terutama terhadap sektor-sektor yang selama ini menjadi penyumbang terbesar inflasi, seperti sektor pangan. Selain itu, sektor transportasi, listrik, energi, dan lainnya.

Kepala BPS Sumut Syech Suhaimi mengatakan, inflasi Sumut pada September mencapai 0,99%, sementara inflasi nasional pada bulan yang sama sebesar 0,13%. Secara kumulatif Januari-September inflasi Sumut 1,82%, sedangkan inflasi nasional secara kumulatif mencapai 2,66%.

“Kota Medan merupakan kota tertinggi inflasi di Sumut, yakni 1,08%. Setelah itu, Sibolga inflasi pada September 0,93%. Pematangsiantar inflasi September 0,55%,” kata Suhaimi.

Lebih lanjut Suhaimi mengatakan, inflasi Sumut dipengaruhi oleh kelompok bahan makanan memberian di l0,50%, makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau memberi andil0,41%, serta kelompok perumahan, air, listrik, gas, danbahan bakar sebesar 1,27%.

Kepala Perwakilan BI Sumut Arif Budi Santoso mengatakan, khusus untuk Sumut harga cabai memang lebih dominan memengaruhi inflasi. Dari Februari 2014 hingga Agustus 2017, persentase cabai memengaruhi inflasi mencapai 0,77%.

“Grafik kenaikan harga cabai ini memang lebih dominan memengaruhi inflasi. Inilah yang harus kita kendalikan, salah satu upaya yang sudah dilakukan TPID Medan adalah membentuk asosiasi pedagang cabai,” kata Arif.

lia anggia nasution