Edisi 13-10-2017
Razia Pengguna Rotator Diminta Konsisten


JAKARTA – Kepolisian diminta konsisten menindak pengendara bermotor yang melengkapi kendaraannya dengan rotator, strobo, dan sirene.

Hal itu mencegah arogansi pengendara dan menciptakan perilaku tertib berlalu lintas. Salah satu pengguna jalan, Yusuf, mengaku senang dengan razia rotator yang digelar petugas gabungan ini. Selama ini dirinya dan banyak pengguna jalan merasa terganggu saat berkendara.

”Kadang mereka semenamena kalau sudah pakai rotator, pernah ada juga gara-gara mereka terjadi kecelakaan,” katanya. Pengamat transportasi Universitas Pancasila (UP) Imam Hagni mengaku setuju dengan razia yang dilakukan petugas terhadap penyalahgunaan rotator dan strobo.

Pasalnya, penggunanya cenderung arogan dan terkesan inginshow updi jalan. ”Saya setuju ya karena memang kesannya arogan jadi harus ditertibkan bagi kalangan umum,” ujarnya. Ditegaskan bahwa penggunaan strobo dan rotator sudah ada aturannya.

Masyarakat awalnya menggunakan itu untuk gaya. Belakangan justru disalahgunakan ketika berada di jalan. ”Kita jadi tidak bisa membedakan apakah dia petugas atau bukan.

Biasanya mereka pakai itu biar lebih lancar di jalan,” katanya. Untuk itu, dirinya mendukung langkah petugas melakukan penindakan. Dengan dilakukan penertiban, maka tidak ada lagi masyarakat umum yang bisa seenaknya memanfaatkan strobo dan rotator.

Dari informasi yang himp u n , puluhan kendaraan, baik roda empat maupun roda dua kedapatan memasang alat tersebut terjaring razia yang digelar petugas gabungan di sejumlah lokasi.

Seperti diketahui, selama sebulan terhitung sejak 11 Oktober hingga 11 November 2017, Ditlantas Polda Metro Jaya melaksanakan kegiatan razia dengan sasaran kendaraan yang tanpa hak menggunakan rotator dan sirene.

Pelanggar yang terjaring dikenakan denda sebesar Rp1 juta. Kasubdit Bin Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto mengatakan, razia gabungan yang melibatkan Satpol PP, Dinas Perhubungan, dan POM TNI berhasil menjaring 31 kendaraan.

”Seluruhnya (kena razia) sipil, tidak ada anggota,” katanya. Dari hasil penindakan, kata dia, pelanggar lalu lintas dengan rotator dan sirene sebanyak 17 kendaraan. Para pemilik kendaraan tersebut mendapatkan tilang Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).

Sedangkan 14 kendaraan lainnya ditilang Surat Izin Mengemudi (SIM). ”Dalam undang-undang telah diatur siapa saja yang berhak menggunakan rotator dan sirene,” katanya.

Dia menjelaskan, Undang- Undang (UU) Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan, Pasal 6 ayat 4 huruf F menyatakan setiap pengendara kendaraan bermotor harus mematuhi ketentuan-ketentuan antara lain adalah peringatan bunyi atau sinar pertama.

Selanjutnya dalam Pasal 59 diatur juga bahwa untuk kepentingan tertentu memang kendaraan bermotor bisa dipasangi lampu isyarat atau sirene. Dia menyebutkan, lampulampu isyarat terbagi tiga warna, yakni warna biru, merah, dan kuning.

Warna biru itu untuk Kepolisian RI. Kemudian warna merah itu pertama untuk mobil tahanan, mobil pengawal TNI, rescue, palang merah, pemadam kebakaran, dan seterusnya.

Selanjutnya warna kuning adalah untuk petugas patroli jalan tol tanpa sirene, untuk petugas pengawas sarana dan prasarana jalan umum, petugas kebersihan, dan petugas mobil derek.

”Para pelanggar umumnya menggunakan rotator dan sirene untuk mendapatkan jalan prioritas. Dalam undangundang itu kendaraan bermotor yang dipasangi lampu isyarat atau sirene itu kan punya hak prioritas. Tujuannya mereka biar cepat saja.

Tapi kalau di luar yang punya hak, itu melanggar undang-undang,” katanya. Dia menegaskan, seluruh kendaraan yang melanggar selain dikenakan tilang, juga diminta mencopot rotator dan sirene. Bahkan, oknum anggota yang tidak memakai kendaraan dinas akan ditindak.

Seluruh rotator dipakai untuk kendaraan dinas dan keperluan tugas. Bila memang sedang tidak tugas, maka tidak diperkenankan menggunakannya. ”Pertama, kita lakukan satu penindakan hukum dengan tilang, kemudian saya perintahkan untuk dicopot di tempat,” katanya.

Sementara di Bogor, sebanyak 46 pengendara roda dua maupun roda empat yang melintas di Jalan Raya Pajajaran, Bogor Timur, Kota Bogor, terjaring razia petugas gabungan. Sembilan di antaranya para pengendara yang kedapatan menggunakan lampu rotator, strobo, dan sirene.

Wakil Kepala Polresta Bogor Kota AKBP Rantau Isnur menjelaskan, selain memeriksa kelengkapan kendaraan, razia kali ini juga khusus fokus pada para pengguna lampu rotator dan strobo yang memasang di kendaraannya.

”Ada juga kendaraannya menggunakan lampu rotator, strobo, dan sirine, kita tilang dan langsung dicopot di tempat,” kata Rantau. Dia menjelaskan, meski mayoritas pengendara yang terjaring pelanggarannya tidak membawa kelengkapan surat dan izin mengemudi, tapi pihaknya sengaja memfokuskan pada penggunaan lampu kendaraan tak sesuai dengan peruntukannya.

Kasubbag Humas Polresta Bogor Kota AKP Syarief Hidayat menjelaskan operasi dilakukan di dua lokasi di Jalan Raya Padjajaran. ”Satu titik operasi di depan Mapolsek Bogor Timur dan di kawasan Tugu Kujang,” katanya.

helmi syarif/ haryudi/ r ratna purnama