Edisi 13-10-2017
Museum Harus Jadi Rumah Kebudayaan Nusantara


JAKARTA - Hari Nasional Museum Indonesia sudah diperingati untuk ketiga kalinya sejak ditetapkan 12 Oktober 2015 lalu.

Meski demikian, mu seum belum sepenuhnya men jadi rumah kebudayaan Nusantara. Anggota Komisi X DPR Putu Supadma Rudana memaparkan, kondisi museum di Indonesia memiliki berbagai tantangan, mulai dari penganggaran komprehensif hingga visi besar agar dapat menjadi rumah besar kebudayaan Nusantara.

Karena itu, Sapta Karsa dapat diwujudkan guna memuliakan permuseuman di Indonesia.

Sapta Karsa terdiri atas aspirasi mewujudkan UU Permuseuman, pembentukan badan museum, pembentukan lembaga sertifikasi dan akreditasi, penganggaran yang lebih komprehensif, peningkatan dan pengaturan sumber daya manusia (SDM) yang lebih terkelola baik dan berjenjang, kelembagaan museum yang lebih strategis, serta menghadirkan kembali gerakan nasional cinta museum.

“Selama ini manajemen pengelolaan museum belum kom prehensif, minim anggaran, dan lemah pengelolaan sum ber daya manusianya. Anggaran yang tersedia hanya menjangkau revitalisasi fisik, tata letak saja belum mampu mem berikan peningkatan baik,” kata Rudana kemarin.

Dalam pembahasan anggaran 2018, Rudana mengajukan gagasan untuk meningkatkan peran museum dan memberikan dukungan anggaran program bagi museum-museum di Indonesia.

Sebagai Ketua Asosiasi Museum Indonesia, Rudana berharap momentum hari museum mampu menggerakkan dan menumbuhkan minat masyarakat untuk mengenal, memahami, mencintai, dan selanjutnya memanfaatkan museum sebagai tempat inspirasi, rekreasi, sekaligus tempat edukasi bagi semua pihak.

Rudana telah melakukan sidak pada beberapa museum, salah satunya Museum DPR yang dinilai sebagai museum bidang politik yang memperlihatkan bagaimana peran rakyat Indonesia dalam menentukan pemimpinnya dan perwakilannya.

Politisi Partai Demokrat ini melihat masih banyaknya koleksi di Museum DPR yang kurang lengkap. “Kedepan, saya berharap museum DPR punya ruang yang lebih luas dan representatif dan posisinya strategis guna memudahkan para pengunjung untuk menikmati koleksi dan narasinya, seperti museum kepresidenan di Istana Bogor,” paparnya.

Anggota Komisi X dari Fraksi Partai Hanura Dadang Rusdiana menambahkan, anggaran negara yang dialokasikan untuk museum dan cagar budaya hingga saat ini masih terbatas. Sehingga menyebabkan museum tidak optimal dalam memberikan pelayanan.

mula akmal