Edisi 13-10-2017
Masa Depan Bahan Bakar Ramah Lingkungan


Masyarakat Indonesia tampak makin gandrung dengan kendaraan bermotor priba disebagai moda transportasi.

Belum optimalnya pelayanan angkutan umum boleh jadi menjadi pe micu utama. Lihatlah faktanya, menurut data Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), jumlah se - peda motor di Jabodetabek men - capai 30 juta unit dan di Jakarta 13 juta unit! Lebih banyak sepeda motornya daripada jumlah warga Jakarta! Sementara itu jumlah roda empat di Jakarta tidak kurang dari 4,3 juta unit. Di seluruh Indonesia diperkirakan tak kurang dari 80 juta unit sepeda motor. Alamak.

Benar saat ini penggunaan kendaraan pribadi belum/tidak berdampak pada APBN. Sebab seiring dengan turunnya harga minyak mentah dunia, alokasi subsidi bahan bakar minyak un - tuk kendaraan bermotor pribadi tidak ada lagi. Subsidi hanya di - fokuskan untuk kelom pok ma - syarakattertentu(misal nyane la - yan) dan gas LPG 3 kg untuk ru - mah tangga tidak mam pu Rp44 triliun dari total subsidi energi yang sebesar Rp166 triliun. Tapi masifnya penggunaan kendaraan pribadi minimal berdampak terhadap dua hal. Pertama, keselamatan di jalan raya, khususnya oleh pengguna roda dua.

Kesadaran terhadap keamanan dan keselamatan ber - lalu lintas di Indonesia masih tergolong rendah. Begitu pula kesadaran terhadap ke patuh an rambu-rambu lalu lintas. Dam - pak paling konkret terhadap hal itu adalah tinggi nya kecelakaan lalu lintas de ngan korban me - ning gal yang sangat eskalatif. Terbukti, per tahunnya, tidak ku rang dari 31.000 orang Indo - nesia me ning gal di jalan raya karena ke celakaan lalu lintas dan 76%-nya melibatkan pengguna se peda motor. Kedua, dampak terhadap ke - sehatan dan pencemaran ling - kungan. Ingatlah, kendaraan pribadi sangat rakus terhadap konsumsi bahan bakar minyak.

Dampak negatif yang paling dominan terhadap peng guna an bahan bakar minyak untuk trans - portasi adalah pencemar an ling - kungan. Pembakaran ba han ba - kar minyak, selain meng hasilkan energi, juga meng hasilkan gas buang yang amat beracun seperti karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NO2), dan sulfur dioksida (SO2) yang menyebabkan hujan asam dan pemanasan global. Dampak penggunaan bahan bakar minyak di Indonesia, khu - susnya di kota-kota aglomerasi, makin serius manakala kualitas bahan bakar yang digunakan masih rendah. Indikator bahan bakar yang masih rendah kualitasnya adalah kandungan oktane number (RON).

Bahan bakar dengan RON 88 (pre - mium) itulah yang kini paling dominan digunakan masya ra - kat. Semakin tinggi kandungan RON suatu bahan bakar mi - nyak, makin rendah emisi gas buangnya dan semakin rendah kadar RON-nya, makin buruk dampaknya terhadap ling kung - an serta kesehatan manusia tentunya. Ini memang fenomena tragis! Manakala di seluruh dunia level - nya sudah kampanye peng guna - an bahan bakar standar Euro 3 (RON di atas 92), eh di Indonesia masih terkungkung dengan penggunaan bahan bakar RON 88 (premium) yang masih di ba - wah standar Euro 2. Bandingkan dengan negeri jiran Malaysia.

Di sana RON terendah untuk ken - daraanbermotoradalahRON95, sejenis pertamax turbo ala PT Pertamina. Namun di sisi lain, tiga tahun belakangan ini, ada fenomena perubahan perilaku masya ra - kat, yakni migrasi dari peng - guna bahan bakar RON 88 men - jadi pengguna bahan bakar de - ngan RON 92. Atau minimal bahan bakar dengan RON 90, pertalite. Terbukti, terhitung sejak Juli 2017, pemakaian ben - sin premium hanya sekitar 41%. Padahal pada tahun sebe lum - nya konsumsi premium men - capai 79%. Adapun jenis per ta - lite mencapai 40% dan per ta - max 17%. Pengguna sepeda mo tor pun lebih pede meng - gunakan pertamax daripada premium.

Kenapa Terjadi?

Boleh jadi tumbuh kesadar an (awareness) baru dari kon sumen bahwa kualitas bahan bakar akan berpengaruh signifi kan terhadap kinerja mesin ken - dara an, bahkan kesehatan mesin dalam jangka panjang. Semakin tinggi kadar RON-nya, tarikan kendaraan semakin ber - tenaga, semakin maknyus. Se - baliknya, bahan bakar de ngan kadar RON rendah (se perti pre - mium) membuat kinerja mesin kendaraan lesu darah dan cepat rusak pula. Namun alasan yang paling sahih mengapa terjadi migrasi pengguna bahan bakar, lebih karena faktor harga.

Disparitas harga antara jenis premium dengan nonpremium semakin kecil, tidak signifikan. Konsu - men Indonesia sangat sensitif terhadap harga, apalagi untuk komoditas strategis seperti bahan bakar minyak. Dengan kata lain, jika terjadi perubahan harga secara mencolok antara jenis premium dengan non - premium, dipastikan kon sumen akan “turun kelas” lagi.

Menjadi pengguna premium-mania! Mumpung situasinya sedang kondusif, yakni adanya perubahan perilaku konsumsi bahan bakar minyak di satu sisi dan harga minyak mentah di sisi lain, sebaiknya kita jangan ke - hilangan momen. Jangan sam - pai perilaku konsumen yang su - dah amat positif ini meng alami set back hanya karena kebijakan klasikal di bidang harga: ke naik - an harga bahan bakar minyak! Ingat, diperkira kan harga minyak mentah dunia akan re bound pada 2020. Artinya harga mi - nyak akan menyundul ke kisar - an harga USD75 USD (baca: kembali ke sedia kala).

Sekarang ini saja (akhir 2017) harganya pun sudah merambat menjadi USD50 per barel. Padahal pagu harga yang ditetapkan peme - rin tah pada APBN 2017 hanya 45 dolar Amerika per barel. Arti - nya pemerintah tekor USD5! Bayangkan jika harga mi nyak mentah dunia rebound, mencapai di atas USD75, pingsanlah kita! Ending-nya, semua pihak harus menelan pil pahit, baik peme - rintah (Presiden Joko Widodo) maupun konsumen Indonesia.

Pil pahit itu bisa berupa ke naik an harga bahan bakar minyak di level perital atau sebaliknya menambah subsidi bahan bakar minyak. Dua pilihan yang me - nyesakkan dada. Jika menaik - kan harga bahan bakar minyak, efeknya tidak populis, apalagi mendekati tahun politik. Berani - kah Presiden Joko Widodo meng ambil jalur ini? Di sisi yang lain, jika ingin meng ambil jalur populis dan aman di mata publik, pemerintahakanmenggelontor - kan subsidi. Efek nya? Ah, pasti - lahpostur APBN kita kian defisit, kianberdarah-darah, alias bleeding. Ayo pilih jalur mana?

Lalu caranya bagaimana agar kita tidak kehilangan momen plus tidak ada korban masif baik pengguna BBM dan/atau postur ABPBN? Upaya mempersempit pa - soka n bahan bakar dengan ka - dar oktan rendah (premium) ada lah cara yang rasional. Apa - lagi untuk konsumsi kendaraan bermotor di kota-kota besar. Se - baliknya, cakupan pasokan ba - han bakar dengan kadar oktan lebih tinggi (pertalite, per - tamax) harus diperluas akses dan distribusinya.

Dalam perspektif konsumen, harus ditanamkan ke sadar an baru bahwa produk bahan ba - kar yang dikonsumsi nya punya dampak ekster nalitas negatif serius, baik bagi lingkungan maupun kesehat an manusia. Oleh karena itu meng g unakan jenis bahan bakar berkualitas, dengan kadar oktan tinggi dan ramah lingkungan, adalah bentuk tanggung jawab kon - sumen untuk turut menjaga kelestari an lingkungan (loving the earth). Industri automotif seh arus - nya menjadi garda depan un - tuk mendorong hal ini, dengan rekayasa teknologi pada produk automotifnya.

Mesin kendara an harus kompatibel dengan bahan bakar minimal standar Euro 2 dan jika di - langg ar mesin kendaraan akan shutdown se cara otomatis. Juga mem beri kan edukasi ke - pada kon sumen nya agar kon - sisten dengan meng gunakan jenis bahan bakar mi nyak yang sesuai dengan spesi fikasi kendaraannya. Tanpa kesadaran masif dari semua pihak, perilaku kon - sumsi bahan bakar minyak akan mengalami kemunduran. Kon - sumen akan kembali meng - gandrungi bahan bakar dengan kualitas rendah (oktan rendah).

Pencemaran lingkungan tak terhindarkan dan/atau runtuh - nya kesehatan manusia men - jadi keniscayaan. Apakah profil semacam ini yang akan kita wariskan untuk generasi men - datang?

Tulus Abadi
Ketua Pengurus Harian YLKI








Berita Lainnya...