Edisi 13-10-2017
Menggabungkan Elemen Tradisi dan Masa Depan


Selama berabad-abad, Swiss memang dikenal sebagai negara yang menghasilkan brand jam mewah, salah satunya TAG Heuer.

Meski persaingan dengan produsen jam dari Amerika Serikat (AS) dan Jepang sangat kompetitif, TAG Heuer tetap berkibar dengan konsepnya yang menggabungkan elemen tradisi dan masa depan. B anyaknya produsen jam tangan yang mem - berikan sentuhan tek - no logi pada produknya membuat TAG Heuer tidak tinggal diam pasarnya direbut. Keunggulan TAG Heuer, yakni tetap mengandalkan sentuhan seni ala Swiss dan tidak meninggalkan tradisi meski mereka tetap selalu menatap masa de - pan.

Sebagai buktinya, TAG Heuer be - kerja sama dengan Intel dan Google me - ngembangkan berbagai fitur eksklusif seperti pendeteksi angin, cuaca, golf, dan berbagai aplikasi lainnya. Menurut CEO TAG Heuer Jean- Claude Biver, ide adalah juaranya. Apa ide andalannya? Dia mampu meng - gabungkan ide desain kontemporer de - ngan proses pembuatan jam tra di - sional. “Jika kamu menggabungkan dua elemen yang kontras, misalnya me - ngombinasikan tradisi dan masa depan, biasanya itu terjadi gangguan,” ungkap Biver, dilansir BOAT. Biver mengaku ingin memberikan generasi baru dengan sesuatu yang ber - beda.

Itu terinspirasi karena seorang anak muda yang mengaku tertarik mem beli jam mewah karena sama dengan model jam ayahnya. Semenjak itu, dia berpikir tentang filosofi Big Bang! “Big bang adalah penciptaan dan penghancuran. Keduanya juga fokus pada penggabungan,” ujar pria kelahir - an 20 September 1949 itu. Selain filosofi Big Bang, Biver juga menerapkan konsep penggabungan makan ala Jepang yang dikenal dengan “Nobu” Matsuhisa yang menjadi simbol angin perubahan.

Dia memang senang dengan ide dan menikmati setiap gun - cangan yang terjadi. Biver sangat mengetahui kalau du - nia selalu berubah. Dia juga selalu meng ingatkan agar manusia tidak boleh tenggelam karena masa lalu. “Jam Swiss selalu memiliki status,” katanya. Jam Swiss selalu menceritakan kepa da orang lain tentang kalian dan bisa menggambarkan siapa kalian se - benar nya. Tapi, kini, kompetisi jam sudah ber ubah. Dia mengungkapkan jam bukan lagi instrumen untuk men - ce ritakan siapa pemiliknya. Tapi, jam men ce ri takan apa yang sebenarnya terjadi. Itu karena adanya smartwatch atau jam pintar. “Jam kini tidak ber - bicara ten tang orang lain, tapi berbicara tentang saya sendiri,” tuturnya.

Dengan perubahan tersebut, Biver mengembangkan smartwatch untuk TAG Heuer dengan harga yang lebih terjangkau. Tentunya itu sangat ber - tentangan dengan industri jam Swiss yang terkenal ortodoks. Namun, dia te - tap menegaskan bahwa jam TAG Heuer dibuat di Swiss. Namun, mikro pro se - sornya dibuat di luar negeri. “Terus, apa yang ingin saya lakukan? Apa saya ingin sesuatu yang bisa bicara dengan saya atau sesuatu yang bisa bicara dengan orang lain?” kata Biver.

“Itu tergantung dengan situasi. Mung kin di kantor, saya membutuhkan jam untuk menceritakan apa yang ter - jadi. Tapi, pada malam hari saat hadir di restoran atau opera, saya ingin jam yang bisa menceritakan kepada orang lain siapa saya. Itu berarti kedua tipe ter - sebut bisa berjalan bersama. Keduanya saling mendukung,” paparnya. Menurut Biver, jam memiliki siklus kehidupan yang mendekati keabadian karena itu adalah seni. Seni sendiri tidak akan pernah mati. Dia mem ban ding - kan mobil Ferrari tua yang bisa diper - baiki 100 tahun kemudian. Tapi, Ferrari baru dengan mikroprosesor di da lam - nya dan berbagai komponen elektronik sangat sulit diperbaiki 100 tahun ke mu - dian.

“Teknologi tidak akan eksis se la - manya,” sebutnya. Bagaimana tanggapan pakar de - ngan gebrakan yang dilakukan TAG Heuer? Menurut Felipe Monteiro, pro - fe sor di INSEAD dan peneliti senior Mack Institute for Innovation Mana ge - ment Wharton Universitas Pennsyl va - nia, Amerika Serikat, TAG Heuer mau be kerja cepat dengan menyesuaikan kon disi pasar. “Mereka telah me mu tus - kan untuk bekerja sama dengan Intel dan Google,” ujar Monteiro. Konsep yang dikembangkan TAG Heuer adalah menghubungkan antara tek nologi dan industri jam khas Swiss. “Mereka sadar kalau teknologi baru ti - dak muncul dari Swiss, tapi dari Silicon Valley,” ungkapnya. Dengan begitu, TAG Heuer juga menggaet dunia digital.

Prioritaskan Pelanggan

Dengan kesibukan yang sangat me - nyita, ternyata dia sangat dekat dengan semua orang yang bekerja dengannya. Pintu ruangan kantornya selalu ter bu - ka untuk siapa saja yang bekerja de - ngannya. “Saya ingin selalu ber hu bung - an dengan siapa pun orang yang bekerja sama dengan saya,” ungkapnya. Bahkan, jika kolega atau rekan bisnis mengirimkan surel kepada Biver, dia akan langsung membalas dalam hi - tungan menit. Biver ingin tidak ada batas dengan orang yang bekerja sama dengan di ri - nya, baik klien, pelanggan, atau mitra kerjanya.

“Kita tidak mengikuti konsep brand. Kita mengikuti konsep pelang - gan,” tuturnya, kepada watchesbysjx. Dia mengungkapkan tidak melihat konsep perspektif brand, tapi selalu mengutamakan perspektif pelanggan. “Jika pelanggan saya menyukai balap motor, pada saat bersama dia menyukai rugi, sepak bola, rap, atau dia menyukai gaya hidup tertentu, kemudian kita harus mengikutinya,” tandasnya. Biver menyebut hal itu sebagai zero separation (nol batas) dengan konsu - men. “Ke mana pun konsumen pergi, apa pun yang konsumen lakukan, apa pun yang konsumen sukai, dia harus melihat TAG Heuer di sana,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, TAG Heuer harus menjadi gaya hidup konsumennya. “Dengan TAG Heuer menjadi gaya hidup konsumen, kita akan mudah menjualnya,” tuturnya.

Andika hendra m